Ganjar Pranowo ketika menawarkan solusi agar warga Tambakrejo mengungsi ke Kalimati


SEMARANG – Akhirnya warga Tambakrejo, Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara yang terkena dampak proyek normalisasi Banjir Kanal Timur (BKT) mendapat solusi. Mereka sepakat mengungsi ke Kalimati.

Kesepakatan itu muncul saat mediasi d Gedung Moh Ichsan, Kompleks Balai Kota Semarang, Minggu (12/5/2019). Hadir dalam kesempatan itu, Gubernur Ganjar Pranowo, Komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara, Wali Kota Hendrar Prihadi, Wakil Wali Kota Hevearita G Rahayu, Kepala BBWS Pemali Juwana Rubhan Ruzziyatno dan puluhan warga Tambakerjo.

Dalam mediasi tersebut, Ganjar mengatakan bahwa peristiwa penggusuran sudah terjadi. Semua pihak diminta tidak membicarakan persoalan penggusuran, namun mencari solusi ke depan atas peristiwa itu.

“Yang sudah ya sudah, mari kita cari solusi atas permasalahan ini. Kan tidak mungkin kalau panjenengan semua tinggal di tenda, makanya pak Wali Kota sudah menyiapkan Rusunawa Kudu dan saya juga tawarkan untuk menempati Transito Tugu sebagai tempat tinggal sementara. Kasihan anak-anak kalau harus tinggal di tenda,” kata Ganjar.

Tapi tawaran tersebut ditolak warga. Mereka bersikeukeuh untuk tetap tinggal di lokasi itu dengan alasan pekerjaannya sebagai nelayan. Akhirnya, Ganjar mempersilahkan warga untuk mengutarakan keinginannya dan akan dipenuhi pemerintah.

“Kami minta untuk tetap di lokasi itu, karena pekerjaan kami mayoritas nelayan. Kalau harus tinggal jauh dari lokasi, bagaimana nasib kami,” kata Ketua RT 05 RW XVI Tambakrejo, Rohmadi.

Sebenarnya, lanjut Rohmadi, sudah ada kesepakatan awal bahwa warga akan pindah sementara di daerah Kalimati yang letaknya tidak jauh dari lokasi semula.

Tapi, lokasi yang akan ditempati itu harus diurug terlebih dahulu untuk kemudian dibuatkan pemukiman sementara sambil menunggu janji Pemkot Semarang membuatkan Rusunawa di sekitar Tambakrejo.

“Namun ini lokasi Kalimati belum diurug dan belum ada bangunannya, kami sudah digusur seperti ini,” timpalnya.

Hal senada disampaikan Riyanto, warga Tambakrejo lain. Dia menegaskan, masyarakat tidak mau menempati Rusunawa Kudu karena terlalu jauh dari laut.

“Yang kami inginkan adalah kami dibuatkan rumah sederhana di sekitar kampung. Sudah ada lokasi di Kalimati itu, namun sampai sekarang lokasinya belum siap,” tambahnya.

Mendengar hal itu, Ganjar kemudian meminta tanggapan dari Kepala BBWS Pemali Juwana dan Pemkot Semarang untuk membicarakan persoalan tersebut. Setelah menggelar rapat kecil-kecilan, akhirnya disepakati bahwa warga Tambakrejo akan ditempatkan di lokasi Kalimati tersebut.

“Namun itu sekarang proses pengurugan tanahnya baru 30 persen, belum selesai. Dari BBWS tadi mengatakan bisa cepat menyelesaikan pengurugan dalam waktu lima minggu, asalkan warga semuanya pindah dari lokasi,” kata Ganjar.

Warga yang tetap bersikukuh tinggal di lokasi menolak usulan itu. Akhirnya disepakati oleh warga sendiri, bahwa lokasi urugan tanah 30 persen di Kalimati sudah dirasa cukup untuk menampung 97 kepala keluarga korban penggusuran.

“Ya sudah sepakat ya, deal ya. Setelah ini saya tidak mau ada drama-drama lagi,” tegas Ganjar sambil menutup mediasi.

Sementara itu, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengatakan, sebenarnya penggusuran yang dilakukan Satpol PP kemarin bukanlah tindakan instan.

Sebelumnya, proses sosialisasi sudah dilakukan agar warga pindah ke lokasi Rusunawa Kudu karena rumah warga akan dirobohkan untuk memperlancar proses normalisasi sungai BKT.

“Tapi karena warga tidak mau pindah, meskipun kami sudah menyiapkan tempat relokasi dan uang santunan, akhirnya pihak Satpol PP melakukan tindakan. Tindakan itu bukan seketika, ada proses yang berjalan lama sebelumnya,” kata dia.

Dijelaskan, 97 KK yang masih bertempat tinggal di lokasi bantaran BKT itu memang menjadi penghambat utama proyek normalisasi BKT. Pihaknya sudah kerap ditegur oleh BBWS maupun dari Kementerian agar segera menyelesaikan permasalahan itu.

Seperti diketahui, Satpol PP Kota Semarang melakukan penggusuran rumah warga yang dibangun di atas bantaran sungai Banjir Kanal Timur pada Kamis (9/5/2019). Penggusuran tersebut sempat ricuh karena warga berupaya mempertahankan lokasi itu.

Akibat penggusuran, sebanyak 97 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal. Mereka kini menempati tenda-tenda darurat yang ada di lokasi. Kondisi ini sempat ramai dan menjadi pemberitaan baik media lokal maupun media sosial. (ajie mahendra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here