FOTO – FOTO RUMPAN.ID/EKA SETIAWAN
Kepala Balai Besar POM di Semarang, Safriansyah


SEMARANG – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (POM) di Semarang mengajak masyarakat luas selektif dalam mengonsumsi obat-obatan maupun pangan. Salah satu caranya, khususnya soal obat, adalah dengan tidak membeli produk obat di bawah standar.

Sebabnya, masih ada pelaku usaha yang mengabaikan keselamatan konsumennya demi mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya.

“Ada pelaku usaha yang cari untung saja,” ungkap Kepala Balai Besar POM di Semarang, Safriansyah, kepada tim rumpan.id di kantornya, Kamis (22/8/2019).

Apa yang dikatakan Safri, bukan isapan jempol. Salah satunya berkaca dari kasus ditangkapnya Alfons Fitzgerald Arif Prayitno, Direktur PT. Jaya Karunia Investindo (JKI) terkait dugaan pemalsuan dan penjualan obat kedaluwarsa di Semarang, pada 8 Juli 2019 lalu oleh Polri.

Bersama enam karyawannya, obat kedaluwarsa yang sudah sampai 3 tahun itu diolah menjadi obat baru. Kejahatan lainnya adalah memalsu obat generik menjadi obat paten, tentunya agar bisa dijual dengan harga jauh lebih tinggi. 

Safri prihatin dengan adanya insiden seperti ini. Sebab, lagi-lagi masyarakat luas yang menjadi korban dari kejahatan kemanusiaan tersebut.

Diakuinya, iming-iming untung besar kerap menjadikan para oknum pengusaha untuk berani ambil risiko melakukan kejahatan seperti itu.

“Misalnya begini, ambil untung Rp1000 dari sebutir obat saja, yang dijual 1juta butir, berapa untungnya? Itulah, obat itu pahit tapi manis (bisnis menggiurkan),” lanjut Safri.

Modus operandi semacam itu diakui susah diidentifikasi. Sebab, kemasan yang dipalsukan sangat mirip dengan aslinya. Salah satu cara untuk bisa tepat mengidentifikasinya, harus mendatangkan pihak produsen asli.

Pihaknya, sebut Safri, selain melakukan penegakan hukum juga melakukan pembinaan.

Beberapa kegiatan dilakukan di Jawa Tengah, mulai dari sosialisasi kepada masyarakat luas hingga mengundang beberapa produsen obat tradisional.

Mereka diberi pengertian menyeluruh, mulai dari bagaimana menjamin keselamatan konsumen sampai memberi pengetahuan akan risiko hukumnya. Penyuluhan lain yang dilakukan adalah dengan memberikan pengetahuan bagaimana cara distribusi obat yang baik.

“Ini berkaitan dengan supply (penawaran) dan demand (permintaan),” sambung Safri.

Kampanye Buang Obat yang Benar

Balai Besar POM Semarang sendiri juga akan melakukan kampanye bagaimana membuang obat yang benar. Obat-obatan yang sudah kedaluwarsa tentu harus dibuang di tempat semestinya agar bisa dimusnahkan.

Tempat membuangnya bisa ke apotek terdekat yang sudah bekerja sama dengan pihak POM ataupun membuang obat kedaluwarsa ke pihak POM. Tujuannya agar segera dimusnahkan untuk menghindari penyalahgunaan hingga kembali dijual seperti praktik kejahatan yang diungkap di Semarang itu.

“Di apotek ada dropbox untuk membuang obat kedaluwarsa,” lanjut Safri.

Woro Puji Hastuti

Kepala Bidang Pemeriksaan Balai Besar POM di Semarang, Woro Puji Hastuti, menambahkan kampanye tentang bagaimana membuang obat yang benar itu akan dilakukan di area Car Free Day (CFD) Simpanglima Kota Semarang pada Minggu 1 September 2019 mendatang.

Pihaknya bekerja sama dengan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) juga mengajak anak-anak sekolah dalam kegiatan yang akan diikuti lebih dari 500 peserta ini.  

“Ini juga sebagai kampanye agar produk substandar (obat) tidak terbeli, sebagai edukasi kepada masyarakat. Juga soal obat kedaluwarsa, karena obat tidak bisa dibuang di sembarang tempat,” bebernya.  

Pada bagian lain, Balai Besar POM di Semarang juga tentu melaksanakan pengawasan terhadap peredaran makanan maupun kosmetika. Tujuannya, agar makanan maupun kosmetika yang beredar di masyarakat luas tidak mengandung bahan-bahan kimia berbahaya. Pengawasan ini juga dilakukan terhadap produk-produk impor.

Data teranyar, Balai Besar POM di Semarang di tahun 2019 hingga Agustus ini melakukan 11 penindakan kejahatan di bidang itu. Terinci; 5 kasus obat tradisional, 3 kasus pangan dan 3 kasus kosmetika. Tahun lalu di sepanjang 2018 ada 20 kasus yang diungkap.

“Selain penindakan, kami juga sosialisasi terus ke masyarakat luas. Ayo care kepada apa yang akan kita masukkan ke tubuh kita,” tandasnya. (eka setiawan/erna virnia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here