FOTO RUMPAN.ID/ADJIE MAHENDRA
Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Republik Indonesia, M. Natsir menjawab pertanyaan sejumlah wartawan usai mengikuti Rapat Pleno Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) di Kampus Unisbank Semarang, Senin (22/7/2019).


SEMARANG – Presiden Joko Widodo berencana merekrut rektor dari luar negeri untuk memimpin sejumlah perguruan tinggi di Indonesia. Pada 2016 silam, wacana itu juga pernah muncul dan menuai berbagai kritikan.

Hal tersebut dibeberkan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), M Natsir setelah mengikuti Rapat Pleno Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) di Unisbank Semarang, Senin (22/7/2019).

Dikatakan, ada serentetan alasan, mengapa sejumlah perguruan tinggi di tanah air perlu dipimpin rektor dari luar negeri.

“Perguruan tinggi ada 4.700 di Indonesia, yang masuk daya saing dunia hanya 3, saat saya masuk menteri hanya 2, itu di angka (urutan) ke 400. Idonesia bangga di dalam sendiri, tapi tidak punya daya saing di luar negeri,” jelasnya.

Dia berharap, rencana ini bisa didukung seluruh pihak. Respons negatif yang muncul pada 2016 silam, tidak lagi terjadi tahun ini.

“2016, bagaimana undang rektor luar negeri jadi rektor di Indonesia, saya dibully habis-habisan, rektor protes, ada dianggap bangsa inlander (pribumi),” imbuhnya.

Padahal, lanjutnya, didatangkannya rektor dari luar negeri itu untuk mengembangkan pendidikan di perguruan tinggi. Mencontohkan beberapa negara dengan peringkat perguruan tinggi yang bagus dan menanjak setelah rektor asing.

“Kita belajar. Singapura maju karena rektor dari luar negeri, Taiwan maju karena rektor dari luar negeri, China maju karena rektor dari luar negeri. Bahkan Arab yang 800 tidak masuk, sekarang rektor dari Amerika 40 persen, Amerika dan Eropa, sekarang masuk 189. Ini jadi tantangan, maka canangkan tahun 2020 bagaimana rektor ada dari perguruan tinggi asing. Akan saya mappingkan lagi,” tegasnya.

Tak Sejalan

Di lain pihak, Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum di Semarang, Theodorus Yosep Parera mengkritik rencana rekrutmen rektor asing. Sebab, jika rektor asing memimpin perguruan tinggi di Indonesia, pendidikan supremasi nilai Pancasila terancam pudar.

“Orang asing tidak paham mengenai supremasi nilai-nilai Pancasila dan budaya Indonesia. Maka tidak akan bisa menjadi rektor di sini. Mungkin, perguruan tinggi akan maju secara intelektual, iya. Tapi maju moral, tidak. Kalau pakai rektor asing, pasti akan membuat kurikulum baru yang tidak menggunakan supremasi nilai Pancasila,” ucapnya.

Menurutnya, pendidikan yang menyimpan nilai-nilai Pancasila harus dipertahankan. Dengan nilai itu, anak didik diajak mengenal Tuhan dan merawat ciptaan-Nya. Baru menjaga persatuan, dan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Apalagi, di era tekonologi ini, kita sangat butuh pendidikan moral. Karena tanpa dilandasi moral, teknologi bisa membunuh Indonesia,” lanjut Yosep.

Mengenai peringkat perguruan tinggi yang yang jatuh di urutan 400 dunia, Yosep tidak mempermasalahkannya. Bukan karena sudah puas, tapi harus dilihat dulu, kajian peringkat tersebut dari sisi apa.

“Itu dari sisi kecerdasan intelektual atau moral? Saya yakin Indonesia lebih hebat soal moral. Nyatanya, Indonesia tidak pernah berkelahi sampai menghancurkan bangsa sendiri,” tuturnya.

Dia justru menilai, rektor dari Indonesia lah yang menjadi pempimpin perguruan tinggi di luar negeri. Karena hanya orang Indonesia yang tahu cara mendidik secara Pancasilais.

“Sukarno pernah pidato di depan PBB. Kalau dunia pakai filosofi Pancasila, kita akan menjadi dunia baru yang lebih baik. Karena Pancasila mengajarkan manusia untuk saling berbagi. Bukan berkompetisi,” tegasnya. (ajie mahendra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here