SEMARANG – Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum Semarang, Theodorus Yosep Parera berencana mengajukan grasi untuk Ahmad Sapuan alias Wawan dan Supriadi alias Kuprit. Terpidana seumur hidup karena membunuh Mohamad Rizal di Pati, 2014 silam.

Rencana pengajuan grasi itu dilakukan setelah tim Rumah Pancasila menelusuri kembali sejumlah saksi dan pengakuan kedua narapidana. “Kami sudah menemui beberapa saksi di Jepara dan Pati, Kuprit, dan Wawan,” ucapnya, Selasa (23/7/2019).

Pertama, Yosep mendatangi Wawan yang mendakam di Lapas Kelas I Semarang. Di sana, Wawan berkilah tidak teelibat dalam pembunuhan Rizal. Dia bercerita, sedang berada di Jepara saat pembunuhan terjadi.

Setelah mendapatkan cukup keterangan, tim Rumah Pancasila bertandang ke Jepara. Mereka menemui beberapa saksi yang tidur bareng Wawan ketika di Jepara. Baru kemudian mengunjungi Kuprit di Lapas Kembang Kuning  Nusakambangan untuk mengorek keterangan lebih dalam.

“Keterangan Kuprit berbeda dari Wawan. Katanya, Wawan ikut melakukan pembunuhan,” bebernya.

Dari Kuprit, diketahui jika semasa hidup, Rizal kerap memukuli Wawan. Wawan juga terlilit hutang sebesar Rp10 juta kepada Rizal.

“Tapi dulu ketika saya tanya Wawan, katanya tidak punya hutang,” imbuhnya.

Dikatakan, Supri menerangkan, awalnya memang tidak ada rencana membunuh Rizal. Hanya bertemu di kebun tebu, untuk menyelesaikan masalah secara baik-baik.

Malam itu, Wawan mengajak Ngasiban karena alasannya takut di tengah kebun tebu sendirian. Di sana, Ngasiban sibuk bersemedi saat Wawan, Kuprit, dan Rizal bertemu.

“Posisi Rizal sedang mabuk, lalu mengajak Wawan bertengkar. Rizal ini katanya kalau ke mana-mana bawa pisau. Waktu bertengkar dengan Wawan, Rizal mengeluarkan pisau. Supri yang berusaha melerai perkelahian itu, malah terkena sabetan pisau dari Rizal. Karena emosi, Supri kemudian menusuk Rizal tiga kali. Dua di bagian perut, satu lagi di bagian belakang,” papar Yosep.

Setelah ditusuk, lanjutnya, korban jatuh menimpa Ngasiban yang sedang semedi. Karena kaget, Ngasiban langsung lari. Rizal pun masih punya tenaga untuk lari.

“Mereka (Wawan dan Kuprit) sempat kehilangan Rizal. Kemudian mereka mencari dengan senter dari ponsel. Ketemu masih hidup. Kemduian dibakar dua kali hingga tewas,” jelasnya.

Setelah mengantongi keterangan detil dari Kuprit, tim Rumah Pancasila kembali mendatangi beberapa saksi di Jepara. Dari saksi-saksi itu, hanya Fuad yang ingat betul kapan Wawan tidur di Jepara.

“Ternyata seminggu setelah pembunuhan. Bukan pas malam kejadian Rizal dibunuh,” ungkapnya.

Artinya, dari fakta baru ini, Yosep tidak menemukan ada bukti kuat bahwa Wawan berada di tempat kejadian perkara (TKP). Serta tidak ada bukti kuat juga bahwa Wawan berada di TKP.

“Jadi kami memutuskan untuk mengajukan grasi dengan menyampaikan fakta hukum sebagai pertimbangan MK kepada presiden. Apalagi, tuntutan di persidangan hanya 20 tahun, tapi diputuskan seumur hidup,” tegasnya.

Yosep mengaku tidak mau serampangan dalam memberikan pendampingan hukum. Dia merasa harus menelusuri fakta lewat saksi dan bukti kuat. “Kami akan terus menelusuri dan mencari bukti baru,” tegasnya. (ajie mahendra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here