FOTO RUMPAN.ID/SUTRISNO
Sejumlah WBP LPP Semarang mengikuti siraman rohani di Musala Nurul Iman, komplek Lapas, Rabu (24/7/2019).


Erna Virnia

Kota SEMARANG

“Semua orang pasti ingin terhindar dari sebuah masalah, tapi kenyataan yang ada justru sebaliknya,”

Ucapan itu keluar dari Ustaz Zaenal di Musala Nurul Iman, Komplek Lapas Perempuan (LPP) Kelas IIA Semarang, Rabu (24/7/2019). Saat itu sedang dilakukan pembinaan rohani yang diikuti lebih dari 20 warga binaan pemasyarakatan (WBP) Lapas Perempuan Semarang yang memeluk Islam.

Itu merupakan kegiatan rutin yang diikuti para WBP. Pihak LPP Semarang ini rutin menyelenggarakannya sebagai salah satu upaya pembinaan kepada para WBP.

Tentunya, pemeluk agama lain juga diberikan pembinaan serupa, disesuaikan dengan keyakinan mereka. Seperti siang itu juga, beberapa WBP termasuk para WNA, ada yang dari Inggris, Filipina, melakukan kegiatan rohani di gereja komplek LPP Semarang.  

Pembinaan kepribadian ini dilaksanakan secara terpadu dengan tujuan agar mereka setelah selesai menjalani pidananya dapat menjadi warga negara yang baik.

 “Tujuan pembinaan yang kami lakukan adalah membentuk WBP agar menjadi manusia seutuhnya, tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan,” kata Kepala LPP Kelas IIA Semarang, Asriati Kerstiani, saat ditemui Rabu siang.

Pantauan di musala itu, para WBP tampak antusias mengikuti tausiah tersebut. Mereka bahkan ramah memberikan ruang kepada tim rumpan.id saat datang meliput aktivitas di dalam LPP Semarang dengan pendampingan khusus dari petugas.

Semangat untuk memperbaiki diri dari kesalahan yang pernah dilakukan dengan mengikuti berbagai kegiatan pihak Lapas, menunjukan bahwa sejatinya mereka juga tidak mau di posisi yang ada saat ini. Sehingga, kegiatan itu dilakukan dengan kesadaran penuh untuk mengisi waktu penantian hingga masa bebas.

“Saya udah gak betah Mbak, udah pengen segera pulang berkumpul dengan keluarga,” ungkap salah satu WBP kepada tim rumpan.id.

WBP yang mengobrol dengan kami itu, satu bulan lagi bebas dan akan segera kembali ke daerah asalnya di Surabaya.

Mereka yang di dalam, ramah berbincang dengan kami. Juga terlihat adanya persahabatan dengan petugas. Suasananya sangat bersahabat.  

Pihak petugas sendiri pun tak menutup mata, seakan tahu bagaimana memposisikan para WBP ketika nanti kembali ke masyarakat.

Maka, upaya menjalin komunikasi dengan pihak keluar WBP intensif dilakukan guna memberikan dukungan moral, sehingga nantinya WBP dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.

“Iya kami memberikan berbagai pembinaan dan program kerja sesuai dengan passion masing-masing WBP, dengan kami berkonsultasi dengan pihak keluarga sebelumnya, sehingga tidak ada paksaan kepada mereka,” pungkas Gayatri selaku Kasi Kegiatan Kerja LPP Semarang.

Ketika tim rumpan.id menyambangi LPP Semarang siang itu, turut diajak pula beberapa mahasiswa Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Semarang. Mereka adalah para mahasiswa yang sedang magang di Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, selaku organisasi yang membawahi rumpan.id.

FOTO RUMPAN.ID/ERNA VIRNIA
Sejumlah mahasiswa Untag Semarang berfoto bersama Kepala Lapas Perempuan Semarang, Asriati Krestiani (lima dari kiri) dan Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Perempuan Semarang, Gayatri (enam dari kiri).

Salah satu mahasiswa yang ikut, Yesna Salsabila Safitri, mengatakan kunjungan masuk ke LPP Semarang ini adalah pengalaman pertamanya berkunjung ke penjara.

“Ternyata di dalam orang-orangnya saling membaur satu sama lain, petugasnya juga mengayomi, tidak seperti yang dibayangkan,” kata dia.

Baginya, kegiatan siang itu sangat bermanfaat. Memberikan pandangan baru tentang penjara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here