SEMARANG – Kode etik adalah hal yang tidak terpisahkan dari profesi seorang advokat, pelaksanaannya merupakan upaya menjaga marwah profesi ini tetap luhur.
Pentingnya pengetahuan akan kode etik bagi seorang advokat menginisiasi Julianto Dwi Purnomo mahasiswa Fakultas Ilmu Hukum Universitas Negeri Semarang (Unnes) beserta enam rekannya menyambangi kantor Lembaga Penyuluhan dan Pembelaan Hukum (LPPH) Rumah Pancasila dan Klinik hukum, Jl. Semarang Indah Blok D16/5, Kota Semarang, Senin (6/5/2019) lalu.
Julianto mengatakan pihaknya datang untuk melakukan observasi dan diskusi mengenai penerapan dan penanganan pelanggaran kode etik advokat.
“Jadi kami ke sini untuk mengetahui lebih dalam tentang kode etik advokat,” terang Julianto kepada rumpan.id.
Lebih khusus lagi Julianto mengatakan pihaknya berfokus pada pelanggaran terhadap ketentuan pasal 8 huruf (b) dan huruf (f) Kode Etik Advokat Indonesia (KEAI) tentang Pengiklanan.
“Jadi kan banyak di media sosial pengacara yang melakukan pengiklanan, lalu berdasarkan kode etik itu bagaimana?,” ungkap Julianto.
Berkaitan dengan permasalahan ini, Direktur Bantuan Hukum Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Wenang Noto Buana mengatakan, kode etik advokat pada dasarnya adalah sebuah aturan yang mengatur seorang advokat dalam bertindak dan bersikap serta aturan yang mengatur hubungan antara advokat dengan klien, advokat dengan advokat lainnya dalam menjalankan fungsi dan tugasnya.
“Jadi kode etik ini lebih untuk mengatur etika dan tingkah laku profesi ini dalam menjalankan profesinya,” kata Wenang saat menemui para mahasiswa itu.
Wenang juga menjelaskan berkaitan dengan dugaan pelanggaran pasal 8 huruf (b) dan (f) KEAI, maka setiap pelanggarnya akan diberikan sanksi melalui dewan kehormatan.
“Jadi ketika ada pelanggaran maka akan diberikan sanksi melalui dewan kehormatan profesi,” jelas Wenang
Dalam diskusi tersebut wenang juga mengungkapkan advokat adalah profesi yang berbeda dengan profesi lainnya.
Advokat sebagai profesi yang terhormat sejajar dengan instansi penegak hukum lainnya, oleh karena itu satu sama lainnya harus saling menghargai antara teman sejawat dan penegak hukum lainnya.
Salah satu bentuk penghormatan yang dimaksudkan adalah dengan tidak melakukan iklan yang biasanya mempengaruhi orang lain untuk menggunakan jasanya. Yang mengakibatkan hilangnya penghormatan terhadap profesi ini karena terlihat seperti barang dagangan.
“Jadi semata-mata kode etik ini adalah untuk menjaga marwah profesi ini,” ungkap Wenang. (Sutrisno)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here