FOTO RUMPAN.ID/EKA SETIAWAN
Kalapas Kedungpane Dadi Mulyadi (kiri), Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum Semarang Yosep Parera (tengah) dan seorang warga binaan setempat (kanan), meminum air dari keran di lapas setempat, Kamis (17/10/2019). Rumah Pancasila dan Klinik Hukum Semarang memberikan bantuan mesin penyuling air bersih dan dialirkan lewat keran siap konsumsi untuk dinikmati gratis warga binaan setempat.

SEMARANG – Rumah Pancasila dan Klinik Hukum Semarang menyerahkan hibah mesin penyuling air bersih untuk Warga Binaan Permasyarakatan (WBP) Lapas Kelas I Semarang alias Lapas Kedungpane Kamis (17/10/2019). Air siap konsumsi yang diolah dari mesin ini, bisa diakses seluruh WPB secara gratis.

Selama ini, penghuni lapas memang sudah mendapat air minum. Yakni berupa air rebusan dari air sumur. Untuk bisa mendapatkan air mineral, mereka membelinya di kantin. Tentu harus mengeluarkan rupiah.

“Jatah makan (penghuni lapas, Red) hanya Rp20ribu per hari. Air saja mahal kalau harus beli yang kemasan. Jadi kami berinisiatif menyediakan mesin penyuling air sehingga air sumur bisa langsung diminum,” ucap Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum Semarang, Theodorus Yosep Parera setelah prosesi penyerahan bantuan.

Alat penyuling ini diletakkan di dekat dapur di dalam lapas. Tidak jauh dari situ, disediakan tiga keran air hasil sulingan yang disalurkan lewat selang berwarna hijau. Semuanya food grade. Jadi, meski tidak perlu perawatan khusus, air yang keluar dari keran bisa langsung dikonsumsi WBP.

FOTO RUMPAN.ID/AJIE MAHENDRA
Seremonial serah terima bantuan mesin air

Lebih lanjut, Yosep mengatakan, bantuan alat penyuling air ini senilai Rp 20 jutaan. Lengkap dengan biaya instalasinya. Dana tersebut dihasilan dari anak-anak muda yang bekerja di Rumah Pancasila dan Klinik Hukum Semarang. Mulai dari hasil pendampingan hukum, hingga hasil ngamen Band Rumah Pancasila.

“Uangnya dikumpulkan untuk membeli alat ini. Karena kami merasa, mereka melakukan kejatahan karena kesalahan kami yang tidak memberikan edukasi secara baik. Kalau sudah begini, cara merawatnya, dengan memberikan pelayanan yang baik. Yakni dengan memberikan kebutuhan dasar, seperti makan dan minum yang layak,” paparnya.

Ke depan, pihaknya ingin membantu Lapas Kelas I Kedungpane dalam menghemat konsumsi listrik hingga 22 persen dengan memanfaatkan tenaga matahari. Saat ini, sedang dalam tahap pengkajian.

“Kenapa Kedungpane, karena lapas ini jadi percontohan. Kalau di sini berhasil, akan dikembangkan ke seluruh lapas di Jateng. Kami juga sudah ada MoU dengan Kemenkumham. Jadi Jateng akan jadi percontohan nasional,” terangnya.

FOTO RUMPAN.ID/EKA SETIAWAN
Kalapas Kedungpane Semarang Dadi Mulyadi memotong pita sebagai simbol diresmikannya mesin pengolah air bersih di lapas setempat.

Sementara itu, Kalapas Kelas I Kedungpane Semarang, Dadi Mulyadi mengaku sangat terbantu dengan keberadaan alat penyuling air ini. Dengan alat ini, seluruh WBP bisa mendapatkan air berkualitas secara cuma-cuma.

“Selama ini sudah kami sediakan air minum. Tapi dengan alat ini, akan meningkatkan kualitas air. Rata-rata di sini per orang mengonsumsi 2 liter air per hari. Saat ini ada 1.952 warga binaan,” terangnya.

Ditegaskan, akses air bersih ini akan dibuka 24 jam. Karena air ini akan sangat berguna bagi WBP yang sedang dirawat di poliklinik kami.

“Airnya dari sumur bor. Sudah dilakukan penelitian, hasilnya steril dan memenuhi syarat konsumsi,” tandasnya. (ajie mahendra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here