FOTO-FOTO DOK. LAPAS KLAS I SEMARANG
Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Klas I Semarang tengah memproduksi sepatu


SEMARANG – Siapapun bisa menjadi produktif dan kreatif jika ada kemauan. Hal ini yang dilakukan petugas Lapas Klas I Semarang alias Lapas Kedungpane yang selalu memberikan pendampingan dan pembinaan kepada seluruh warga binaan pemasyarakatan (WBP) sesuai bakat dan minatnya.

Hal ini terlihat dari pembinaan di Lapas Klas I Semarang kepada WBP mereka. Pembinaan yang dilakukan salah satunya dengan memberikan  ruang untuk memproduksi berbagai macam kerajinan tangan. Salah satunya adalah dengan membuat sepatu.

“Selama menjalani hukuman pidana, para WBP ini kami bimbing untuk berwirausaha dengan memproduksi sepatu siap pakai dan semua kegiatan tersebut mereka kerjakan dari dalam jeruji besi,” ungkap Kalapas Klas I Semarang Dadi Mulyadi melalui keterangan tertulis yang diterima rumpan.id Kamis (14/11/2019).

Dadi menjelaskan bahwa pengembangan industri kecil tersebut dilakukan oleh WBP alias napi sendiri di bengkel kerja khusus yang disediakan oleh pihak lapas.

Pembinaan ini dilakukan sebagai upaya untuk mencetak wirausaha baru, dengan harapan kelak bisa menjadi ladang bisnis WBP ketika kembali ke masyarakat.

Adapun dukungan lain yang diberikan yaitu berupa fasilitas promosi sepatu hasil produksi untuk dipasarkan dengan menggandeng lembaga pemerintah maupun pihak swasta.

“Lapas kami kan berkapasitas 600 orang, namun kini jumlah penghuninya 1000 lebih, nah untuk mengatasi over kapasitas ini, maka kami mengajak mereka untuk berkegiatan sesuai dengan bakatnya, syukur-syukur ada hasilnya, dapat memberikan bermanfaat untuk dia dan keluarganya,” terang Dadi.

Dadi juga menyebut bahwa hasil produksi sepatu para WBP ini tidak kalah bagus dari sisi kualitasnya, dan harganya juga relatif lebih murah dibanding sepatu keluaran pabrikan.

Rata-rata untuk sepasang sepatu produksi pabrik dibandrol seharga Rp400ribu, namun untuk sepatu yang dibuat WBP ini hanya dibanderol sebesar Rp200ribu hingga Rp275ribu.

siap dipasarkan

Diakui oleh Dadi bahwa konsep utama produksi sepatu ini tidak hanya dipersiapkan menjadi buruh dengan terampil dalam membuat sepatu, tetapi juga mampu untuk memasarkan produknya.

Harapannya ke depan mereka bisa menjadi wirausahawan sekaligus mampu membuka lapangan usaha baru di lingkungannya.

“Pembinaan kepada para napi ini dilakukan dengan sistem dari kita, oleh kita dan untuk kita,” sambung Dadi.

Sebab itu, untuk menjalankannya, petugas lapas difungsikan sebagai manajemen penggerak sekaligus penyedia fasilitas sementara warga binaan sebagai subjek yang menciptakan sebuah produk kreativitas serta masyarakat sebagai konsumen.

“Program ini akan terus kami dorong, sehingga para WBP ini selain mampu memproduksi dan memasarkan juga memiliki kemampuan sebagai instruktur dan bisa membina warga binaan lain yang  memiliki bakat di bidang ini,“ pungkasnya.  

Editor: Eka Setiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here