FOTO RUMPAN.ID/ERNA VIRNIA
Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Theodorus Yosep Parera (kanan) berdiskusi dengan Jamaah Yasinan Nusantara (Jaya Nusa) yang dipimpin Ketua Umum Jaya Nusa, Idham Cholid (baju batik lengan panjang biru), Selasa (18/6/2019) di Kantor Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Jalan Semarang Indah Blok D15/32 Kota Semarang.


SEMARANG – Tradisi-tradisi Nusantara harus dijaga kelestariannya sebagai salah satu cara membentengi masyarakat dari pengaruh-pengaruh ideologi asing yang bersifat kontraproduktif.

Salah satunya adalah menghidupkan tradisi Yasinan atau pengajian-pengajian di kampung-kampung dan dilembagakan agar terorganisasi dengan baik.

Hal itulah yang menjadi semangat pendirian Jamaah Yasinan Nusantara (Jaya Nusa). Ketua Umum Jaya Nusa Idham Cholid menjelaskan bahwa anggota Jamaah mulai dari tokoh masyarakat, tokoh agama, para kiai kampung, nahdliyin, yang ada di desa-desa.

“Salah satu (tujuan) kehadiran Jaya Nusa adalah pelembagaan tradisi kultural, agar mereka mendapatkan hak yang sama, diberdayakan semestinya,” ungkap Idham saat berkunjung ke Kantor Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Jalan Semarang Indah Blok D15/32, Kota Semarang, Selasa (18/6/2019).

Idham bercerita, Yasinan adalah salah satu tradisi yang mengakar di kampung-kampung, di desa-desa. Di situ orang-orang berkumpul untuk mengaji.

“Tapi sangat disayangkan kalau itu hanya kumpul dan selesai malam Jumat saja. Padahal ini sangat semarak, seperti di Betawi, tradisi pengajian malam Jumat itu semarak,” lanjutnya.  

Berangkat dari situ, sebut Idham, semangat untuk mengorganisasi tradisi semacam ini tumbuh. “Jaya Nusa dibuat sebagai ruang dialog yang menciptakan kehidupan bersama lebih damai, menebarkan cinta kasih,” sambung Idham.  

Dialog-dialog yang dijalin tentu saja bertema tentang keindonesiaan, terutama dalam rangka menjaga 4 pilar kebangsaan; Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI. Tidak hanya dialog satu agama saja, tapi juga dengan pemeluk agama lainnya.

Idham mencontohkan, jika dialog-dialog ini terus terjalin dan terjaga hingga di desa-desa maka bisa jadi cara alternatif menangkal paham radikal masuk ke wilayah-wilayah pedalaman. 

Idham mengatakan hal itu sebab menurutnya, program pemerintah dalam rangka deradikalisasi, seperti dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), masih belum bisa menyentuh hingga lapisan masyarakat yang tinggal di wilayah-wilayah pedalaman.

Secara resmi, sebut Idham, Jaya Nusa akan dilaunching pertama di Banten pada 7 Juli mendatang. Launching dilakukan di Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum Cempaka, Kresek, Tangerang, Provinsi Banten. Pada kegiatan itu rencananya hadir Idham Cholid selaku Ketua Umum Jaya Nusa, kemudian Sekjen Jaya Nusa Pusat, H. Nawawi Syahroni, H. Eno Syafrudin selaku Ketua Pengawas Jaya Nusa, K.H. Imaduddin Utsman selaku Ketua Jaya Nusa Provinsi Banten dan Hadad Alwi.

Selanjutnya, pada 17 Juli 2019 juga akan dilakukan peresmian di Kabupaten Wonosobo. Kegiatan-kegiatan Jaya Nusa bersifat nasional.

Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Theodorus Yosep Parera, mengatakan hal senada. Tradisi-tradisi di Nusantara tentunya perlu dijaga dan dilestarikan.

“Jangan sampai kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia, ini juga sebagai upaya dalam rangka merawat kemanusiaan,” kata Yosep pada pertemuan tersebut. (eka setiawan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here