FOTO DOK. MABES POLRI
Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Badan Reserse Kriminal Mabes Polri menggelar konferensi pers terkait kasus grooming dengan tersangka seorang narapidana, di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (22/7/2019).

SEMARANG – Aparat Subdirektorat I Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri menetapkan seorang narapidana berinsial TR (25) sebagai tersangka pencabulan dengan korban anak-anak melalui media sosial.

TR yang merupakan lelaki asal Pamekasan, Jawa Timur, posisinya juga sedang dibui, divonis 7 tahun 6 bulan penjara atas perkara pencabulan. TR baru menjalani 2 tahun hukuman itu.

Kasus ini berawal dari laporan masyarakat, ditindaklanjuti petugas siber Bareskrim Polri dengan sejumlah penyelidikan termasuk digital forensik. Akhirnya polisi menemukan sejumlah bukti kuat untuk menjerat napi berinisial TR itu.

“Tersangka semula mengelak telah melakukan kejahatannya, namun setelah penyidik berhasil menemukan barang bukti hasil pemeriksaan digital forensik, akhirnya dia mengaku,” ungkap Wakil Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Kombes Pol Asep Safrudin didampingi Kombes Pol Yusri Yunus dari Divhumas Mabes Polri, melakui keterangan tertulis yang diterima rumpan.id, Senin (22/7/2019).

Dari pemeriksaan digital forensik, petugas  menemukan ribuan foto dan video para korban yang tersimpan di handphone dan e-mail tersangka. Aksi dari dalam Lapas ini korbannya mencapai 50 anak. 

Modus operandi yang dilakukan pelaku yaitu dengan menyamar seolah-olah menjadi guru di sebuah sekolahan. Semula tersangka mencari informasi di media sosial tentang calon korban, dengan kata kunci:  SD, SMP, atau SMA. Langkah ini  dilakukan untuk menemukan akun guru dan anak yang tidak dikunci.

Kemudian langkah selanjutnya yaitu membuat akun palsu mengatasnamakan guru, untuk mengelabui para korban.

Para korbannya diiming-imingi diberi nilai bagus jika mau mengirimkan foto dan video telanjang kepadanya. Bahkan, jika tidak mau mengirim, tersangka yang menyamar jadi guru itu mengancam akan memberi nilai jelek.  

Adapun, sarana komunikasi yang digunakan tersangka kepada para korbannya yaitu melalui Direct Messages (DM) Instragram, dan juga melalui layanan chat Whatsapp.

Asep juga mengatakan bahwa motivasi tersangka melakukan kejahatan eksploitasi seksual terhadap anak ini, untuk memenuhi hasrat kepuasan pribadi, karena pengaruh narkoba, pikiran kosong, dan sebab lain karena sering ditolak perempuan.

Tersangka juga sempat terdorong untuk berguru ilmu pengasihan dan pesugihan di beberapa kota.

Para korban perbuatan tersangka itu, usianya 11 hingga 17 tahun. Paling kecil bocah kelas 5 SD sampai 3 SMA. Semua korban ini belum seluruhnya diketahui identitas dan alamatnya.   

Dari tangan tersangka, polisi menyita 1 (satu) unit handphone merek samsung Galaxy J1 mini prime warna gold dengan nomor IMEI (slot 1) : 3550028471xxxx, nomor IMEI (slot 2) : 3550028471xxxx, dengan nomor Whatsapp 08222698xxxx serta beberapa email dan akun di media sosial milik tersangka.

Atas perbuatan tersebut, tersangka dijerat dengan Pasal 82 Jo Pasal 76 E dan/atau Pasal 88 Jo Pasal 76 I Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Pasal 29 Jo Pasal 4 ayat (1) Jo Pasal 37 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2008 Tentang Pornografi dan/atau Pasal 45 ayat (1) Jo Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elekronik, dengan ancaman hukuman pidana penjara paling lama 15 tahun dan/atau denda paling banyak Rp5miliar.

Bagaimana Mencegahnya?

Pihak Mabes Polri mengimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia turut serta dalam upaya pencegahan dan penanganan kepada korban groomer atau pelaku online (grooming).

Adapun yang harus dilakukan bagi para orang tua dan guru adalah dengan cara KETAPEL, kependekan dari Kontrol, Empati, Tahan emosi, Amankan, Password, Edukasi dan Lapor.

Penjelasannya; pertama adalah kontrol penggunaan gadget pada anak untuk mengetahui aktivitas anak di media sosial.

Yang kedua empati terhadap tumbuh kembang anak, dengan melakukan pendekatan secara emosional, membatasi diri dari gadget, dan meluangkan waktu untuk menjalin komunikasi dengan anak dengan mendengarkan keluhan, masalah anak, dan pertanyaan anak tanpa mengintimidasi.

Yang ketiga sebagai orang tua, atau guru harus tahan emosi saat mendengarkan cerita pahit yang tengah dialami sang anak.

Selanjutnya adalah upaya mengamankan kerahasiaan foto, video, percapapan, nomor telepon, nomor WA, nama akun, e-mail dan link url orang asing.

Orang tua juga harus secara berkala mengganti password gadget maupun setting privat di akun media sosial anak-anaknya, agar tidak gampang diakses orang lain. 

Kemudian, melakukan edukasi di rumah maupun di sekolah tentang bagaimana etika dalam bermedia sosial, sehingga anak bisa dengan bijak saat mengakses internet.

Terakhir adalah laporkan kejadian yang mencurigakan jika mengalami online grooming, mengarah pada kekerasan seksual dan jangan takut untuk melaporkan ke Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) yang ada di setiap Polres di seluruh Indonesia. (Erna Virnia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here