sumber foto: unmul.ac.id


Pandemi Covid-19 harus dijadikan refleksi sekaligus momentum perubahan Indonesia menjadi lebih maju, berdaya saing tinggi dengan memanfaatkan potensi lokal. Apalagi ini juga ada momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Hal itu diungkapkan Guru Besar Sosiologi Pendidikan Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Prof. Dr. Ravik Karsidi.

“Pandemi dan adanya arus globalisasi masyarakat 4.0 (industri 4.0), ini adalah momentum yang mau nggak mau masyarakat harus melakukan suatu perubahan, pemanfaatan ITE yang luar biasa. Ini kan bersamaan, pandemi dan tuntutan globalisasi, saya sebut ini sebagai suatu pararel suatu tantangan,” ungkap Ravik saat diwawancarai rumpan.id via telepon, Minggu 16 Agustus 2020 pagi.

Untuk membangun peradaban baru itu, sebut Ravik, kuncinya adalah manusia harus kreatif, inovatif, kompetitif dan mandiri. Agar nantinya menjadi masyarakat yang cerdas. Ini merupakan tantangan bersama, baik individu, komunitas masyarakat, bangsa dan dunia.

Terkait pandemi, mantan Rektor UNS periode 2011-2919 ini, berargumen ini adalah peringatan Tuhan. Sebab, begitu banyaknya orang yang terlibat, baik dari ahli, politisi hingga negarawan. Seluruh dunia mengalami masalah dan berusaha mencari solusi.  

“Ini sebagai orang yang beriman, maka peringatan Tuhan ini harus jadikan suatu momentum kita berubah, ini penting,” lanjut Ravik yang juga Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Republik Indonesia ini.

Pada konteks pembangunan Indonesia, Ravik menekankan perlunya menggali potensi lokal dengan dunia usaha termasuk usaha super mikro, usaha mikro hingga UMKM. Ini melihat Indonesia yang kaya sumber daya itu, baik pertanian hingga kelautan perikanan. Perdagangan antarpulau harus dikelola dengan baik.

Pengelolaan potensi lokal itu tentunya harus menyesuaikan perkembangan globalisasi dengan menguasai literasi data hingga literasi teknologi.

Tak kalah penting, sebut Ravik, semua perubahan itu harus tetap memanusiakan manusia di mana pada saat yang sama di belahan dunia lainnya, hal itu sudah mulai ditinggalkan.

“Ke depan, masalah-masalah kehidupan menjadi sangat kompleks, ini adalah tantangan tersendiri,” kata Ravik yang juga Anggota Dewan Riset Nasional Komite Sosial, Pendidikan dan Budaya.  

Partisipasi masyarakat

Tantangan Indonesia ke depan, apalagi dengan pandemi Covid-19 ini, sebut Raviq adalah pemerintah harus memunculkan formulasi baru solusi permasalahan dengan tepat.

Dia merefleksikan adanya gerakan-gerakan yang berbasis masyarakat, misalnya di Jawa Tengah ada Jogo Tonggo, di Jawa Timur ada Desa atau Kelurahan Tangguh. Pelibatan masyarakat untuk mengatasi persoalan besar negara ini tidak bisa ditawar lagi.

“Ini suatu refleksi atas strategi pemerintah yang cenderung top to down (dari atas ke bawah) seakan-akan menyelesaikan masalah dari pemerintah pusat, pemerintah daerah. Sekarang di balik, partisipasi masyarakat sangat penting. Artinya kerjasama itu adalah suatu keniscayaan,” tegasnya.

Dia berpesan Indonesia harus tetap optimis, apalagi menyambut Indonesia Emas Tahun 2045 di mana ada bonus demografi. Ini juga yang harus dipersiapkan betul, termasuk dari generasi muda. Bonus demografi jangan sampai malah terbalik, menjadi beban.  

“Harus jadi anak-anak muda yang unggul, pentingnya kembangkan kemampuan kompetensi, pentingnya jaga kapabilitas dan harus didorong untuk hasilkan produk-produk berbasis lokal secara optimal. Nasionalisme jadi sesuatu yang sangat penting,” tandasnya.  

penulis: Eka Setiawan

reporter: Erna Virnia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here