SEMARANG – Tim Rumah Pancasila dan Klinik Hukum terus mengumpulkan berbagai keterangan terkait aduan dugaan putusan hukum yang tidak tepat terhadap Ahmad Sapuan, terpidana seumur hidup yang kini dipenjara di  Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Semarang.

Salah satunya, tim mendatangi saksi-saksi yang berada di Kabupaten Jepara. Tim yang diketuai advokat Ceicilia Novita dan Lutfiansyah menemui beberapa saksi, pada Selasa (17/7/2019).

Di antaranya, ada dua saksi kunci kasus ini, yakni Sapuan alias Gareng dan anaknya bernama Andi, keduanya tinggal di Jepara.  

Saat di temui, keduanya menceritakan bahwa saat insiden pembunuhan terjadi, yakni 26 Agustus 2014, Ahmad Sapuan sedang bersama mereka di Jepara.

“Yo mbengi iku ning kene, turu kene, pas mbengi iku (ya malam itu di sini Jepara, tidur di sini, pas malam itu),” kata saksi Andi kepada tim Rumah Pancasila dan Klinik Hukum ketika ditemui di rumahnya. 

Andi bercerita pada hari itu, dirinya sudah bersama Ahmad Sapuan sejak pukul 19.00 WIB tanggal 25 Agustus 2014 untuk urusan bisnis penjualan “kadal pekek” (kadal ekor cabang).

Selain urusan jual beli itu, Andi juga mengaku dirinya sempat pergi ke Kabupaten Kendal bersama Ahmad Sapuan tanggal 26 Agustus 2014 untuk menemui kerabatnya.

Selain Andi dan Gareng, tim Rumah Pancasila dan Klinik Hukum juga menemui Harto, yang juga tinggal di Jepara. Hartolah yang mengenalkan Ahmad Sapuan dengan Andi dan Gareng perihal bisnis kadal pekek tersebut.

“Jadi critane de’e meh belajar ngukir mebel ning nggonaku, hlah modale kui soko dodol kadal mau mas (Jadi dia itu sebenarnya mau belajar kerajinan ukir dengan saya,  hlah untuk modalnya dari jualan kadal itu),” tambah Harto.

Ditemui secara terpisah, Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Yosep Parera, mengatakan timnya akan terus melakukan penelusuran fakta-fata lainnya terkait masalah ini, termasuk menemui Supriyadi, terpidana lain pada kasus ini. Supriyadi saat ini ditahan di Nusakambangan.  

“Kami nanti akan meminta keterangan Supriyadi,” kata Yosep ketika ditemui di Markas Polsek Mijen, Rabu (17/7/2019) siang. 

Supriyadi merupakan terpidana lain kasus ini, turut divonis seumur hidup. Sama seperti vonis Ahmad Sapuan. Ada satu terpidana lain kasus ini, bernama Nasiban, divonis 5 tahun penjara, saat ini sudah bebas.  

Yosep menyebut, pihaknya dalam dua minggu ke depan akan segera mengajukan Peninjauan Kembali (PK) untuk kasus ini. Tentunya setelah keterangan-keterangan terkumpul.

“Jadi keterangan saksi ini bisa digunakan sebagai novum,” ungkap Yosep.

Tim Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, secara gratis mendampingi Ahmad Sapuan untuk melakukan berbagai upaya hukum. Ahmad Sapuan yang akrab dipanggil Wawan menempuh upaya hukum atas pidana yang dijatuhkannya.

Sebab dia bersikeras tidak melakukan pembunuhan yang disangkakan kepadanya. Pembunuhan yang dimaksud terjadi pada 26 Agustus 2014, tempat kejadian perkaranya (TKP) di Kabupaten Pati.

Saat insiden terjadi di Pati itu, Ahmad Sapuan mengaku sedang berada di Jepara. Alibi ini juga dikuatkan oleh saksi-saksi yang ditemui tim Rumah Pancasila. Sapuan merasa tidak mendapatkan keadilan hukum. (sutrisno)

FOTO SUTRISNO

Advokat Ceicilia Novita Prameswari dari Rumah Pancasila dan Klinik Hukum didampingi Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Yosep Parera, ketika diwawancarai di Mapolsek Mijen Kota Semarang, Rabu (17/7/2019).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here