Tugu Pahlawan Surabaya. Foto: Pixabay.com

Tuhan bersama orang-orang yang nekat. Kalimat itu kerap saya temui di media sosial, termasuk tulisan teman saya yang sesaat sebelum mudik bersepeda motor Jakarta-Mojokerto. Menempuh jarak lebih dari 700km motoran! Nekat nggak tuh?

Melibas pantura dengan modal nekat pun pernah saya lakukan bersama 1 orang kawan. Ketika itu sekira tahun 2000, berdua menyetop truk di pantura Kota Tegal demi menumpang gratisan sampai Semarang. Mau nonton konser Slank.

Hanya berdua menghadang truk di jalan raya bukanlah pekerjaan mudah. Terbukti, kenekatan kami di jalan disambut laju truk yang makin cepat. Awalnya gagah berani, tapi nyali ini jadi ciut melihat gelagat truk yang makin ngebut.

Alhasil, beberapa usaha menyetop truk gagal. Namun, sekali lagi, bermodal nekat, akhirnya berhasil pula menyetop truk. Sebenarnya tak nekat-nekat amat sih, hanya saja menyetopnya kami ubah. Awalnya jauh dari lampu merah jadi dekat lampu merah. Kesempatan dapat tumpangan gratis pun makin bertambah.

Nekat ditambah sedikit perhitungan dan strategi, akhirnya membuahkan hasil. Kami bisa gratisan menumpang truk bak terbuka sampai Semarang. Pun sebaliknya. Kami akhirnya melakukan itu berulang-ulang.

Meski kulit gosong, wajah penuh debu, toh itu adalah kebanggaan tersendiri ketika itu. Aku nekat maka aku gosong dan berdebu.

Cerita orang-orang nekat ini juga terjadi di Surabaya, hingga puncaknya 10 November 1945 lalu. Ketika dengan persenjataan seadanya melawan Tentara Sekutu dibonceng NICA (Belanda). Arek Suroboyo menang! Kenekatan mereka bukan tanpa perhitungan dan strategi.

Semangat mereka berlipat setelah ada Resolusi Jihad lewat ulama dipimpin K.H. Hasyim Asyari selaku pimpinan Nadhlatul Ulama (NU) saat itu. Resolusi Jihad adalah Perang Suci. Menyabung nyawa mempertahankan kemerdekaan, jika gugur akan mendapat pahala jihad luar biasa.

Perjuangan arek Suroboyo ini jadi contoh bagaimana jihad dilakukan dengan betul. Menyasar musuh yang benar-benar mengusik ketentraman, membawa kerusakan, ingin merebut kemerdekaan yang sudah diproklamirkan.

Kenekatan kami menyetop truk tentu tidak ada apa-apanya dengan apa yang dilakukan arek Suroboyo mempertahankan kemerdekaan itu. Bahkan, dipikir-pikir sekarang, yang kami lakukan berdua menyetop truk saat itu lebih cenderung ke arah bodoh bukan heroik. Hehehe. Tapi demi idola, apapun dilakukan bukan? Hehehe.

Kalau di beberapa berita kriminal, kata nekat ini sering dipakai untuk judul tentang sebuah peristiwa bunuh diri. Misalnya; “Ditolak Balikan Mantan Pemuda Ini Nekat Gantung Diri” atau “Sakit Menahun Kakek Nekat Gantung Diri”.

Nekat-nekat model begini tentu berbalik 180 derajat dengan Arek Suroboyo yang menyabung nyawa demi negaranya. Pun dengan serangkaian pengeboman di Surabaya pada Mei 2018 lalu.

Ada ayah ibu nekat mengajak anaknya melakukan bom bunuh diri. Walah doktrin macam apa yang menghina akal sehat hingga mau mati konyol seperti itu?

Aksi-aksi nekat seperti itu tentu bukan contoh yang bagus, tak pantas ditiru. Membawa kerusakan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Apalagi dengan jargon-jargon agama yang “diusungnya”. Malah makin merusak citranya. Menantang penduduk bumi sekaligus langit nih!

Nekatlah demi tujuan mulia. Masih ada kok nekat-nekat yang lebih waras. Misalnya; meski gaji kecil nekat bersedekah rutin, meski pendapatan kembang kempis tapi masih nekat mau berbagi dengan sesama, nekat menempa fisik berjam-jam tiap hari demi cita-cita jadi atlet atau nekat-nekat lainnya.

Nekat seperti ini tentu jauh lebih baik daripada mati konyol membawa kerusakan bagi umat manusia.

Salam hormat untuk arek-arek Suroboyo yang gugur pada serangkaian Pertempuran Surabaya 1945 silam. Selamat Hari Pahlawan!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here