Foto Rumpan.id
Siti Rukmana Sitorus Pane alias Ana istri dari Bagus Kurniawan ketika ditemui di rumah kontrakannya di Kabupaten Sukoharjo, Sabtu (6/6/2020).

SEMARANG – Siti Rukmana Sitorus Pane (24) istri dari mendiang Bagus Kurniawan (26) seorang tersangka kasus terorisme yang meninggal dunia di Rumah Sakit Bhayangkara TK I Said Sukanto Jakarta pada Selasa (2/6/2020) lalu, mengaku kecewa dengan petugas Rumah Tahanan Negara (Rutan) Cikeas, tempat mendiang suaminya sempat ditahan.

Ana, sapaan akrabnya, mengaku saat suaminya ditahan dia sulit menjalin komunikasi. Setiap kali menghubungi petugas, kata dia, selalu dijawab dalam waktu yang cukup lama.

“Saya kadang heran sama petugas di sana (Rutan Cikeas red) kan wajar saya sebagai istri mau tahu kondisi suami saya, bagaimana keadaanya, tapi kalau saya tanya sama petugas, dijawabnya dua Minggu kemudian, kalau kemarin katanya bisa video call, saya tanya lagi alasannya gak bisa karena Corona ini” terang Ana saat ditemui rumpan.id Sabtu, (6/6) siang di rumah kontrakanya di Kawasan Grogol, Kabupaten Sukoharjo.

Sepeninggal suaminya, dia mengaku sudah mengikhlaskan. Baginya, ini ujian bertubi-tubi, sebab sebulan sebelum suaminya ditangkap pada November 2019 silam, ibundanya di Kota Pinang Sumatera Utara juga meninggal dunia. Apalagi ditambah mengasuh 2 buah hatinya, 1 masih usia 2 tahun satu lagi masih 1 bulan. 

Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari Ana mengisi kesibukan dengan berjualan makanan ringan untuk dijual kepada tetangga di sekitar rumah kontrakannya.

“Karena sebagai istri, saya juga bercadar saya memilih setiap harinya aktivitas di dalam rumah mengurus anak, dan memasak makanan ringan untuk saya jual kepada tetangga, atau kadang juga ada teman yang pesan,” katanya.

Ana mengenang, tepat 3 minggu setelah lahir buah hati keduanya, yakni Selasa (2/6/2020) dia kaget mendapat informasi dari petugas rumah sakit di Jakarta bahwa suaminya sakit keras.

“Tapi saya heran saja selama ini dapat kabarnya baik-baik saja kok tiba-tiba sakit keras,” lanjutnya.

Padahal selama ini sebut Ana suaminya tidak ada riwayat sakit keras, pola hidupnya juga sehat suka olah raga, minum vitamin juga teratur. Dari informasi tersebutlah Ana mengaku sudah punya firasat suaminya telah meninggal. 

“Padahal kan jelas suami saya belum ada bukti apapun, saya juga tidak ada komunikasi apapun salama suami saya ditahan, pun suami saya sebelumnya sehat-sehat saja, artinya kan saya merasa didzolimi oleh pihak mereka (petugas red.),” tambah Ana melalui pesan WhatsApp yang diterima rumpan.id, Minggu (7/6) siang.

Dengan kepergian suaminya untuk selama-lamanya itu, Ana mengaku sudah mengikhlaskan dan tidak akan menuntut apapun dan kepada siapapun. Ana juga mengaku bahwa dirinya akan tetap tinggal di Kota Solo ini bersama kedua putranya, walaupun suaminya sudah tiada.

“Memang saya sudah mengikhlaskan, dan tidak akan menuntut apapun kepada siapapun, biarkan semua biar Allah SWT. yang membalaskan di akhirat nanti, kembali kepada takdir Allah SWT,” kata Ana.

Di kesempatan lain Sekretaris The Islamic Study and Action Center (ISAC) Solo sekaligus pendamping keluarga Endro Sudarsono mengaku dirinya akan terus memperjuangkan keadilan kepada alm. Bagus Kurniawan dan juga keluarganya, tentunya dengan izin dari pihak keluarga.

“Kami akan coba tawarkan kepada pihak keluarga untuk langkah selanjutnya, walaupun konsekuensinya semua biaya harus ditanggung pihak keluarga,” jelas Endro saat ditemui rumpan.id di Solo, Jumat (5/6) malam.

Sementara itu Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiyono dalam keterang pers, Sabtu (6/6) sore mengatakan Bagus Kurniawan meninggal dunia dalam perawatan di RS Bhayangkara Tingkat I Said Sukanto Jakarta.

Bagus ditahan di Rutan Cabang Mako Brimob Cikeas atas dugaan kasus tindak pidana terorisme. Jeratannya Pasal 15 juncto Pasal 7 juncto Pasal 13 Perppu nomor 1 Tahun 2002 yang telah ditetapkan menjadi UU nomor 15 Tahun 2003 juncto UU nomor 5 Tahun 2018 tentang perubahan UU nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Ancaman hukuman paling sedikit 3 tahun, paling lama 15 tahun (pasal 13 c) dan dipidana dengan pidana penjara paling lama seumur hidup ( pasal 7). Statusnya masih tahanan kepolisian, rencananya pada 12 Juni mendatang akan dilakukan pelimpahan ke pihak kejaksaan.

Polisi menyebut bahwa sejak tahun 2014, Ia sudah tertarik dengan kelompok terorisme ISIS yang diketahui melalui media sosial Facebook. Terduga juga telah bergabung dengan kelompok terorisme jaringan Solo.

Dari dugaan sementara, pelaku tersebut berencana akan menyerang kantor polisi atau personal Polri di Solo. Bahkan, jaringan ini sudah matang dalam persiapan melancarkan aksinya dengan melakukan pelatihan menembak dan menyiapkan senjata api.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here