Foto Istimewa
Bakti Nusa Madani Ketua BEM FHK Unika Soegijapranata Semarang

Puisi Karya Bakti Nusa Madani, yang saat ini menjabat Ketua BEM FHK Unika Soegijapranata Semarang.

Puisi ini dipublikasikan perdana dalam acara orasi kebangsaan peringatan hari lahir Pancasila 1 Juni 2020, dengan tema Orasi Kebangsaan “Pura-pura Pancasila” yang diselenggarakan Rumah Pancasila dan Klinik Hukum bersama Band Rumah Pancasila.

Ayahandku “PANCASILA”!

Sebenarnya aku ingin bertanya kepadamu, anakku.

Tanyakanlah, kepada Soekarno dan kawan-kawanya

Untuk apa aku mereka ciptakan?

Sebenarnya aku juga ingin bertanya lagi kepadamu, anakku.

Tanyakan lagi, kepada Soekarno dan kawan-kawannya.

Untuk apa mereka mengalungi dadaku, dengan 5 simbol yang bias makna?

Bagaimana bisa, bintang bermakna ketuhanan

Rantai melambangkan kemanusiaan

Pohon besar melambangkan persatuan

Kepala banteng melambangkan perwakilan dan permufakatan

Serta padi dan kapas melambangkan keadilan sosial?

Sebenarnya aku ingin bertanya kepadamu untuk kesekian kalinya

Anakku!

Apakah Soekarno dan kawan-kawanya memberitahumu.?

Bahwa aku terlahir dari rajutan permenungan bijak.

Perlu kau ketahui anakku ;

Tubuhku diambil dari kebiasaan-kebiasaan luhur bangsamu.

Telingaku adalah hasil mendengar piweling dan nasehat baik kakek dan nenek moyangmu.

Darahku dihisab dari semangat kepahlawanan dalam menaklukan kesombongan kolonialisme.

Mulutku adalah hasil bagaimana bertutur kata yang santun kepada sesamamu.

Dikakiku tergenggam kalimat sansekerta bermakna tentang, “bagaimana menghormati  dan menghargai sesama anak bangsamu”.

Sudahkah anaku?

Sudahkah, Soekarno memberikan pemahaman akan itu.?

( anak itu menjawab “ sudah ayahhanda”)

Lantas jika kau sudah pahami makna “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Mengapa kau berkata, “KAUM KAFIR” kepada saudaramu, atau menstikma ,”KAUM RADIKAL” kepada sesamamu?

Lantas jika engkau pahami makna “ perikemanusiaan dan persatuan Indonesia”.

Mengapa engkau campakan aku ketika terjadi konflik rasial ditanah sampit?

Atau ketika saudara Muslim dan Kristen bersimbah darah dibumi Maluku?

Lantas jika kau pahami makna “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dan kebijaksanaan guna mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Mengapa engkau memilih pemimpin yang lebih senang berkata-kata ketimbang bekerja?

Mengapa kau lebih rela dipimpin oleh pemimpin yang senang mengejar harta, ketimbang kesejahteraan rakyatnya?

Ketahuilah anakku…..

Dalam bab beragama

Engkau lebih bernafsu untuk mencari siapa uyang benar, ketimbang bertekun dan bersabar.

Dalam bab demokrasi.

Engkau lebih mengutamakan idealism, ketimbang humanism.

Dalam bab berbangsa dan bernegara.

Engkau lebih senang bergaul dengan jabatan dan kekuasaan, ketimbang bergaul dengan rakyat yang kelaparan.

Anakku…

Kau sering bernarasi dan berorasi dalam aksimu

“ IBU PERTIWI SEDANGBERSUSAH HATI ”!

Namun kau tak pernah jua menanyakan perasaanku.

Sehingga, dengan sakit hati aku sampai pada titik simpul

APAKAH BENAR ENGAKAU ADALAH ANAKKU”

ATAU

ENGKAU HANYA SEDANG BERPURA-PURA

TTD ayahandamu “ PANCASILA”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here