FOTO DOK. Balai Besar POM di Semarang
Plh. Kepala Balai Besar POM di Semarang Zeta Rina Pujiastuti (tengah-di atas panggung) memimpin kampanye Aksi Nasional Pemberantasan Obat Ilegal dan Penyalahgunaan Obat saat gelaran Car Free Day (CFD) di ruas Jalan Pahlawan Kota Semarang, Minggu (1/9/2019) pagi.

SEMARANG – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (POM) di Semarang melakukan kampanye Aksi Nasional Pemberantasan Obat Ilegal dan Penyalahgunaan Obat.

Kegiatan itu dilakukan di ruas Jalan Pahlawan saat gelaran Car Free Day (CFD) di Kota Semarang, Minggu (1/9/2019) pagi. Tema kegiatannya yakni “Ayo Buang Sampah Obat-Gerakan Waspada Obat Ilegal”.

Plh. Kepala Balai Besar POM di Semarang Zeta Rina Pujiastusi mengemukakan ajakan membuang sampah obat merupakan bagian dari gerakan waspada obat ilegal.

“Ini merupakan tindak lanjut dari aksi nasional dari sisi pencegahan yang dicanangkan Presiden Jokowi pada 3 Oktober 2017,” ungkap Zeta melalui siaran pers yang diterima rumpan.id, Minggu sore.

Tujuan gerakan itu adalah meningkatkan peran masyarakat termasuk pelaku usaha dalam pengawasan obat ilegal dan penyalahgunaan obat, sehingga dapat meminimalisir risiko peredaran obat ilegal maupun obat palsu.

Selain itu kampanye ini adalah untuk menumbuhkan budaya masyarakat untuk membuang sampah obat dengan benar.

“Obat-obat kedaluwarsa, obat rusak (termasuk sisa) yang dimiliki masyarakat dapat dikembalikan untuk dapat dimusnahkan sesuai ketentuan,” lanjutnya.

Pihak Balai Besar POM di Semarang pada pagi itu menerangkan progam membuang sampah obat dapat menempuh 4 langkah, terinci;

Pertama, masyarakat menyerahkan obat rusak atau kedaluwarsa ke apotek, dimasukkan dalam dropbox yang tersedia di sana. Ada 1000 apotek di Jawa Tengah yang ditarget punya dropbox, pada tahap awal ini, terhitung hingga September 2019.

Kedua, apoteker menyerahkan obat-obat tersebut kepada pihak Balai Besar POM di Semarang.

Ketiga, Balai Besar POM di Semarang melakukan pemusnahan sesuai PP Nomor 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

Keempat, program  ini akan dievalusi secara kontinyu.

Kegiatan tersebut juga dilakukan serentak di 15 provinsi di Indonesia, yakni Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Banten, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, Kepulauan Riau, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Riau, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.

Progam ini bekerja sama dengan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) dan 1000 apotek di 15 provinsi.

“Diharapkan apotek yang menyediakan dropbox semakin banyak dan partisipasi dari semua pihak termasuk industri farmasi. Apotek sebagai tempat pengembalian obat kedaluwarsa dari masyarakat sekitar apotek,” sambung Zeta.

Sementara itu, pada aksi di CFD Semarang itu, Balai Besar POM di Semarang bekerja sama dengan IAI Provinsi Jawa Tengah, Gabungan Pengusaha Farmasi Jawa Tengah, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah lewat Biro Kesra, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan hingga Dinas Kesehatan, Polda Jawa Tengah, Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah, Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen (LP2K), mahasiswa, pramuka, organisasi wanita dan masyarakat umum. (eka setiawan)  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here