Eka Setiawan

Kota Semarang

Bhinneka Tunggal Ika

Doa Pemersatu Bangsa, Bersyukurlah Kita

Bhinneka Tunggal Ika

Mantra Kerukunan Bangsa, Bersyukurlah Kita

Bhinneka Tunggal Ika

Itulah Aku…Indonesia…

Penggalan lirik di atas adalah reffain dari lagu bertajuk “Bhinneka Tunggal Ika”, ciptaan Theodorus Yosep Parera, selaku Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum di Kota Semarang.

Lagu itu diaransemen dan dibawakan Grup Band Rumah Pancasila, yang digawangi; Jefry (Vokal), Micky (Kibor), Wahyu Pay (Bass), Yulie Bohemian (Gitar), Eka (Gitar) dan Adit Bireng (Drum). Grup musik ini dibentuk Yosep Parera, baru sekira 1 bulan ini.

Para personil grup ini adalah anak-anak muda yang hidup di Kota Semarang. Mereka sebagian besar memang setiap harinya hidup dari bermusik, seperti event-event reguler di mal maupun kafe-kafe.

Namun demikian, rata-rata mereka punya keresahan yang sama, seperti juga yang dirasakan Yosep Parera. Adalah; fenomena sekarang ini banyak bermunculan hoax-hoax di media sosial hingga munculnya berbagai gerakan yang cenderung kontraproduktif dengan kemajemukan Indonesia.

Sebut saja, santernya isu hoax tentang “serangan” tenaga kerja asing (TKA), konten berisi ancaman terhadap Presiden maupun pemerintahan, hingga berbagai hoax yang bertujuan mengadu domba kita sesama Indonesia.

“Jadi saya sengaja membuat lirik lagu, yang kemudian diaransemen oleh Grup Band Rumah Pancasila, yang berisi pesan-pesan tentang keindonesiaan, pesan tentang persatuan, tentang rasa syukur dan ajakan untuk saling toleransi di rumah Indonesia,” kata Yosep Parera.

Proses kreatif pembuatan lirik dan musik itu tergolong singkat. Seperti Yosep Parera, yang punya kebiasaan merenung di atap rumah, melihat langit lepas di malam hari setelah seharian berkutat dengan pekerjaannya sebagai advokat.

Pada waktu-waktu itu, Yosep kerap memperoleh inspirasi yang kemudian dituangkan jadi lirik lagu. Pun ketika misalnya melakukan perjalanan udara ke Bali atau tempat-tempat lain dalam misi-misi sosial penegakan hukum, inspirasi membuat lirik lagu juga datang.

 “Ketika melihat kepulauan Indonesia dari udara, melihat laut, melihat langit Indonesia, itu begitu bagus,” lanjutnya.

Dari perjalanan udara itu, kemudian tercipta lagu Rumah Pancasila. Lagu yang bercerita tentang indahnya alam Indonesia sekaligus ajakan untuk bersama-sama menjaganya.

Ajakan untuk mencintai Indonesia juga tak hanya dituangkan dalam lirik, tapi juga bunyi pada lagu-lagu itu. Seperti lagu Bhinneka Tunggal Ika, pada awal-awal lagu dimasukkan bunyi-bunyian Tifa yang merupakan alat musik tradisional dari Papua, kemudian di akhir lagu dimasukkan bunyi-bunyian khas notasi Jawa. Perpaduan lirik dan bunyi yang kuat untuk pesan-pesan menjaga Indonesia.

Hingga pertengahan Mei ini, sudah tercipta sedikitnya 6 lagu, yakni; Bhinneka Tunggal Ika, Rumah Pancasila, Merah Putih, Pancasila, Garuda, dan Doa Anak Bangsa. Lirik lagu Pancasila dibuat oleh Alexandros alias Andros Parera, sementara Doa Anak Bangsa liriknya dibuat oleh Filo Parera.

Keduanya adalah putra dari pasangan Yosep Parera dan Ignatia Sulistya Hartanti, yang juga jadi Pengawas Lembaga Penyuluhan dan Pembelaan Hukum (LPPH) Rumah Pancasila dan Klinik Hukum Semarang. LPPH ini merupakan organisasi non profit.

Sementara, untuk satu lagi kini sedang digarap proses kreatifnya. Bertajuk Bangsa Pelaut. Lagu yang bercerita tentang luas dan kayanya laut Indonesia, sekaligus cerita tentang hebatnya kemaritiman Indonesia.  

Lagu-lagu itu sudah direkam secara mandiri dengan kualitas audio yang bagus. Lagu-lagu itu juga disebarkan lewat platform media sosial Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, tujuannya tentu saja menyuarakan pesan-pesan keindonesiaan dengan jangkauan lebih luas.

Yulie Bohemian, gitaris Band Rumah Pancasila juga mengungkapkan keresahannya tentang adanya berbagai fenomena yang mengancam kebhinnekaan di Indonesia.

“Kami para musisi juga resah dengan kondisi sekarang yang banyak hoax, jadi kami ingin juga berkontribusi untuk menyuarakan persatuan lewat lagu,” kata Yulie.

Beberapa lagu juga sempat diputar dan diperdengarkan saat kegiatan kuliah umum Program Doktoral Ilmu Hukum (PDIH) Universitas 17 Agustus 1945 Semarang pada 4 Mei 2019 lalu, di mana Deputi Bidang Pengkajian dan Materi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prof. Dr. F.X. Adji Samekto, menjadi pematerinya.

Prof Adji Samekto juga mengapresiasi, tak terkecuali juga tentang berdirinya Rumah Pancasila itu.

“Ini tentu sesuatu yang positif bagi kami, bagi BPIP, kami berjanji akan menindaklanjuti. Jadi Rumah Pancasila yang ada di Kota Semarang ini adalah bukti yang harus diekspos. Ini sungguh sesuatu yang sangat berharga, dan di Semarang kami ketemukan itu,” kata Prof Adji saat itu.

Lewat berbagai cara, Rumah Pancasila ini mengajak semuanya untuk tetap mencintai Indonesia. Lebih khusus lagi dengan anak-anak mudanya, yang melalui proses-proses kreatif, mencipta apa saja, baik lagu, tulisan, lukisan atau yang lainnya, untuk bersama-sama berkontribusi kepada negara ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here