Oleh: Theodorus Yosep Parera

(Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum)

Mau eksis? Ya kerja!

Mau makan? Ya kerja dulu!

Mau beli ini itu, mau piknik, mau apa saja, harus punya uang!  

Agar bisa “hidup” di era modern ini, ya harus punya uang. Tanpa uang, matilah kita! Dan untuk punya uang, harus kerja dulu.

Kerja “baik” sesuai dengan hukum positif atau norma masyarakat maupun kerja “buruk” dalam artian melanggar aturan tidak masalah, yang penting punya uang!

Tapi, masalahnya, persoalan akan timbul ketika uang didapat dari kerja “buruk”. Menipu, mencuri, korupsi atau hal-hal buruk lainnya. Maka, sudah pasti “ruang sidang” dan pengapnya kamar penjara akan jadi hotel tempat Anda menginap bermalam-malam.

Sekarang muncul pertanyaan, kalau mau kerja “baik”, mana tempat kerjanya? Tempat kerja untuk saya, kami, mereka atau kita semua?

Mungkin “fenomena” tempat kerja itulah yang membuat saya tiap pagi bertemu Pak Ogah di tiap perempatan, pertigaan ataupun jalan-jalan umum di Kota Semarang.

Pak Ogah di sini adalah tukang atur lalu lintas partikelir. Modalnya murah, cuma butuh peluit, bendera warna warni dan rompi khusus pemantul cahaya, yang semuanya tidak mahal. Paling cuma habis Rp150ribu, lengkaplah sudah modal kerja mereka.  

Orang-orang yang berkendara, mereka bantu seberangkan, termasuk mereka yang berjalan kaki butuh menyeberang saat arus lalu lintas ramai.

Dikasih uang ataupun tidak, mereka tetap kerja.

Apakah mereka bisa hidup? Eksistensi mereka adalah jawabannya.

Tiap pagi, kita masih bertemu mereka.

Mereka seolah-olah hadir sebagai “pemimpin”. Ya! Pemimpin di tiap perempatan, pertigaan atau jalan-jalan yang ramai. 

Saya sering memberi uang Rp50ribu atau Rp100ribu kepada Pak Ogah yang “berkantor” di pertigaan Jalan Setiabudi, Kelurahan Ngesrep, Kecamatan Banyumanik, tepat di sebelah rumah makan Lombok Ijo.  

Suatu saat, saya pulang kerja dan lalu lintas sangat padat. Saya berkendara dari utara, kemudian hendak berbelok kanan masuk Gang Ngesrep.

Pak Ogah yang “bertugas” sangat hafal mobil saya. Maka, dengan gerak cepat dia bersiap menghentikan arus lalu lintas.

Tapi pada saat yang sama, di seberang jalan seorang ibu “miskin” dan anaknya terlihat bingung saat akan menyeberang jalan di tempat yang sama. Sebabnya sama, arus lalu lintas saat itu sangat padat, jadi saya maupun ibu dan anaknya itu sama-sama susah menyeberang.

Ternyata, Pak Ogah yang tadi sudah siap menyeberangkan saya, malah berlari mendekati ibu dan anaknya yang hendak menyeberang itu. Saya ditinggalkan!

Ibu dan anaknya itu diseberangkan Pak Ogah, dan mereka tidak memberinya uang. Saya yang tiap hari memberinya uang justru ditinggalkan.  

Momen itu membuat senyum dan tetes air di sudut mata saya menyatu. Pak Ogah itu bekerja tanpa tuan, bekerja tanpa standar upah, bekerja bukan untuk uang. “Sang Pengatur Jalan”, “Sang Pemimpin di Jalan”.

Bekerja tanpa tuan seperti itu berbeda dengan kita yang bekerja pada “tuan”. Tiap detik, menit, jam dan hari selalu harus membahagiakan “Sang Tuan”. Biar dapat uang, biar hidup, biar bisa piknik, biar bisa eksis.

Lalu, bagaimana dengan Anda? Ya, Anda yang bekerja untuk “Tuan Rakyat”?!  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here