Polisi Tangkap Penyebar Berita Palsu Soal Demo TKA China di Morowali

JAKARTA – Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri menangkap seorang laki-laki wiraswasta yang memposting tulisan mengandung konten berita palsu via Facebook soal Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China.

Dia dijadikan tersangka oleh polisi atas tindak pidana diduga menyebarkan berita bohong. Tersangka berinisial IDN,24,warga Kabupaten Bogor.

Tersangka ini ditangkap Selasa 29 Januari 2019 sekira pukul 16.00 WIB di tempatnya berjualan, di daerah Cangkareng Barat, Jakarta Barat.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo, menyebutkan postingan yang diunggah tersangka adalah memuat berita bohong video demo buruh di Morowali, Sulawesi Tengah yang meminta kenaikan gaji sesuai upah minimum daerah menjadi bergejolak dengan adanya Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China yang berperilaku semena-mena dan digaji lebih besar dari waga lokal.

“Diposting menggunakan akun Facebooknya sendiri,” kata Dedi dalam siaran pers yang diterima rumpan.id, Rabu (30/1/2019).

Penangkapan tersangka diawali dari informasi yang diterima polisi kemudian ditindaklanjuti oleh Dit Tipidsiber Bareskrim Polri. Petugas di Unit IV Subdit II Dit Tipidsiber Bareskrim Polri kemudian melakukan profiling terhadap akun dari seseorang yang diduga memposting berita palsu tersebut.

Hasil penyelidikan, didapati akun tersebut adalah asli, salah satunya terlihat dari history postingan. Petugas kemudian melakukan penyelidikan lanjutan atas akun tersebut karena mengandung konten berita palsu yang menyesatkan masyarakat.

Setelah didapati bukti cukup, petugas melakukan penangkapan berikut barang bukti disita yakni sebuah ponsel merek Oppo A83 warna Gold.

Hasil pemeriksaan sementara, motif tersangka melakukan hal itu bermaksud mengimbau untuk memperlakukan secara adil antara tenaga kerja asing dengan tenaga kerja pribumi.

Konten bermasalah yang diposting tersangka ini adalah video demo buruh di Morowali tersebut. Di bawahnya dituliskan penjelasan:

“Hari ini Morowali bergejolak, TKA China sudah semena-mena merendahkan PRIBUMI Keresahan Tenaga Lokal Morowali, Sulteng. Sudah Mulai Bergejolak Dgn Adanya TKA Asal China Yg berprilaku Semena-Mena Dan Digajih Lebih Besar Dari Warga Lokal Bibit Komunis China Hrs Dihilangkan Dari Indonesia, Sebelum Negara Kita Dijajah Seperti Muslim Uyghur #NegaraMabokUtang”

Postingan bermasalah itu bisa dilihat pada tautan: https://www.facebook.com/indra.wan.73594/videos/974446076094998/

Berdasakan hasil pemeriksaan para saksi, tersangka dan barang bukti, diambil kesimpulan bahwa benar telah terjadi dugaan tindak pidana di bidang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) berupa menyebarkan berita bohong alias hoax. Sebagaimana dimaksud Pasal 14 ayat (2) dan atau Pasal 15 Undang-Undang nomor 1 Tahun 1946 tentang KUHP.

Yakni; “Barang siapa menyiarkan suatu berita atau mengeluarkan pemberitahuan yang dapat menerbitkan keonaran di kalangan masyarakat, sedangkan ia patut dapat menyangka bahwa berita atau pemberitahuan itu adalah bohong, dihukum dengan penjara setinggi-tingginya tiga tahun”

“Saat ini tersangka masih dalam proses pemeriksaan kami,” lanjut Dedi.

Dedi menambahkan, fakta sebenarnya bahwa peristiwa yang terjadi di Morowal itu bukanlah unjuk rasa warga negara atau TKA China, melainkan unjuk rasa buruh yang menuntut kenaikan Upah Minimum Sektoral Kabupaten (UMSK).

Di Morowali sendiri jumlah TKA kurang dari 10 persen Tenaga Kerja Indonesia (TKI), dan keberadaan TKA di sana dalam rangka alih teknologi pada proyek industri strategis nasional yang akan banyak memberikan keuntungan bagi Indonesia.

Dedi mengimbau agar masyarakat tidak mudah terpancing isu yang tidak benar, tidak mudah percaya berita yang menyesatkan.

“Karena tidak mungkin pemerintah membohongi masyarakatnya. Semua pembangunan dilaksanakan seara transparan dan bisa diuji kebenarannya,” tutup Dedi.

Pada bagian lain, Dewan Pengawas Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Ignatia Sulistya Hartanti, menyebut dalam kehidupan bersama di rumah Indonesia yang sangat majemuk, kita sudah dibekali oleh para pendiri bangsa ini tentang cara berpikir, berbicara dan berperilaku.

“Bekal itu adalah Pancasila. Dengan memahami, menghayati dan melaksanakan semua sila Pancasila, kita tidak akan melakukan hal negatif, seperti menyebarkan berita palsu,” ungkapnya kepada rumpan.id, Rabu (30/1/2019) petang.

Dewan Pengawas Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Ignatia Sulistya Hartanti (baju putih)

Dengan Pancasila itu, sebut Tanti –sapaan akrabnya- maka kita sebagai manusia Indonesia juga tentunya tidak akan mudah terpengaruh dan mudah percaya dengan berita-berita palsu semacam itu.  (eka setiawan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here