FOTO DOK. HUMAS POLRI
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol. Dedi Prasetyo ketika menyampaikan keterangan pers, Jumat (2/8/2019).


JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Reserse Kriminal Kepolisian Republik Indonesia (Bareskrim Polri) resmi membentuk Satgas Waspada Investasi (SWI).

Tim ini berkomitmen memberantas fintech dan investasi ilegal. Sebab, selama ini, tidak sedikit korban yang terjerat hutang dari fintech tanpa bisa melunasinya karena tidak ada batas bunga.

“Satgas ini untuk meningkatkan koordinasi mempercepat penindakan terhadap perusahaan investasi ilegal dan fintech ilegal yang telah ditangani oleh Satgas Waspada Investasi namun masih beroperasi,” kata Ketua SWI, Tongam L Tobing lewat siaran pers yang diterima rumpan.id, Jumat (2/8/2019).

Hingga saat ini, ada 1.230 entitas fintech peer-to-peer lending bodong. Dianggap bodong karena tidak terdaftar atau memiliki izin usaha dari OJK sesuai POJK Nomor 77/POJK.01/2016 yang berpotensi merugikan masyarakat.

Rinciannya, 404 entitas yang ditindak tahun 2018. Sementara 2019 ini, ada 826 entitas. Data ini termasuk tambahan penanganan yang dilakukan SWI pada 16 Juli 2019 sebanyak 143 entitas dari hasil penelusuran terhadap lokasi server entitas tersebut.

Sebanyak 42 persen entitas tidak diketahui asalnya, diikuti dengan 22 persen dari Indonesia, 15 persen dari Amerika Serikat. Sisanya dari berbagai negara lain. “Namun, hal tersebut tidak menunjukkan identitas sesungguhnya dari pelaku di balik entitas tersebut,” ucapnya.

Diakui, meski sudah ribuan yang ditutup, selalu muncul banyak aplikasi baru yang muncul pada website dan Google Playstore atau link unduh aplikasi.

“Masih banyak yang dapat diakses melalui media lain, sehingga masyarakat diminta untuk tidak mengakses atau menggunakan aplikasi fintech peer-to-peer lending tanpa izin OJK,” ucapnya.

Dia mengimbau, jika ingin meminjam secara online, maka masyarakat agar melihat daftar aplikasi yang telah terdaftar di OJK pada website www.ojk.go.id.

Dia membeberkan, ada bebebrapa ciri-ciri fintech ilegal. Antara lain, tidak memiliki izin resmi, tidak ada identitas dan alamat kantor yang jelas, pemberian pinjaman sangat mudah, informasi bunga dan denda tidak jelas, bunga tidak terbatas, denda tidak terbatas, penagihan tidak batas waktu, akses ke seluruh data yang ada di ponsel.

Selain itu, juga ada ancaman teror kekerasan, penghinaan, pencemaran nama baik, menyebarkan foto/video pribadi, serta tidak ada layanan pengaduan.

Pihaknya pun mengimbau kepada masyarakat untuk memahami hal-hal penting sebelum melakukan pinjaman kepada fintech. Yakni memilih uang terdaftar di OJK, meminjam sesuai kebutuhan dan kemampuan, meminjam untuk kepentingan produktif.

“Pahami juga manfaat, biaya, bunga, jangka waktu, denda dan risikonya sebelum memutuskan untuk melakukan pinjaman,” tururnya.

Lebih lanjut, SWI sangat mendorong proses hukum kepada para pelaku fintech ilegal yang melakukan penagihan tidak beretika berupa teror, intimidasi, atau tindakan tidak menyenangkan lainnya. Pihaknya pun menyediakan kanal aduan bagi korban yang telah terjerat hutang dari fintech ilegal.

Selain fintech peer-to-peer lending ilegal, tahun ini, SWI juga menghentikan 177 entitas yang diduga melakukan kegiatan usaha tanpa izin dari pihak berwenang dan berpotensi merugikan masyarakat.

Jumlah itu terdiri dari kegiatan 117 Trading Forex tanpa izin, 13 Multi Level Marketing tanpa izin, 11 investasi uang, 5 investasi cryptocurrency, dan 31 investasi lainnya.

Karena itu SWI juga mengimbau kepada masyarakat memahami beberapa hal agar sebelum melakukan investasi.

Informasi mengenai daftar perusahaan yang tidak memiliki izin dari otoritas berwenang dapat diakses melalui Investor Alert Portal pada www.sikapiuangmu.ojk.go.id.

Jika menemukan tawaran investasi yang mencurigakan ataupun fintech lending ilegal, masyarakat dapat mengkonsultasikan atau melaporkan kepada Kontak OJK 157, email konsumen@ojk.go.id atau waspadainvestasi@ojk.go.id. (ajie mahendra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here