Foto Dok. Humas Polri
Sosialisasi ancaman radikalisme dilakukan Polda Sulawesi Tenggara di Ponpes Ummusshabri Kendari, Kamis (5/12/2019).


KENDARI — Radikalisme menjadi ancaman nyata bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Radikalisme saat ini diduga sudah menyasar hingga ke kalangan anak-anak dan remaja yang masih duduk di bangku sekolah umum maupun pondok pesantren (ponpes).

Tak mau kecolongan masuknya paham radikalisme, pondok pesantren Ummusshabri Kendari mulai melakukan penangkalan masuknya paham radikal terhadap anak didik dan tenaga pengajarnya.

Pertama, pihak Ummushabri Kendari memberikan pemahaman kepada anak didiknya tentang bahaya paham radikal untuk keberagaman di Indonesia.

“Radikalisme menyasar semua usia, termasuk anak-anak di lingkungan pendidikan,” ungkap Kepala Madrasah Tsanawiyah Ponpes Ummusshabri Kendari, Imanul Muttaqin via siaran pers yang diterima wartawan, Jumat pagi.

Sebab itulah, sebut dia, anak-anak tak terkecuali anak didiknya harus dibentengi dari paham radikal. Salah satunya dengan memberitahukan kepada mereka tentang apa itu radikalisme dan bahayanya.

Pihaknya juga menyebut di Ponpes Ummusshabri juga menerapkan kurikulum di pendidikannya untuk mencegah paham radikal masuk ke anak-anak didik termasuk pengajarnya.  

“Ummusshabri menjadi pesantren tertua di Sultra yang sangat mendukung keberagaman dalam hal keagamaan. Dari segi desain kurikulum, kita sudah menyiapkan materi materi pembekalan untuk anak didik kami agar bisa membentengi diri terhadap pemahaman tentang keberagaman aliran agama, dan cara menangkal faham radikal,” lanjutnya.

Selain itu, Ummusshabri Kendari juga membekali anak didiknya dengan pemahaman sejarah dari berbagai aliran dalam agama Islam. Seperti contoh, aliran khawarij dan aliran lainnya.

“Kami memahami bahwa paham radikal itu tidak muncul pada zaman modern ini, pembahasan ini sebenarnya sudah dari berabad abad yang lalu, oleh karena itu, di Madrasah harus dibekali pemahaman awal mula dari muncul paham radikal,” katanya.

Selain untuk para anak didiknya, Ummusshabri Kendari juga ketat dalam seleksi tenaga pengajarnya. Imanul Muttaqin menjelaskan, sebelum menjadi tenaga pengajar di Ummusshabri, para guru akan melewati serangkaian assessment.

“Untuk tenaga penagajar, sebelum mengajar harus melalui tahapan assessment, artinya guru – guru itu diseleksi ketika masuk di sini, mulai dari pemahaman keagamaan secara umum,” ujarnya.

Imanul menyebutkan, proses assessment bagi para tenaga pengajar di Ummushabri dilakukan agar para guru betul – betul memaparkan ilmunya dengan baik dan benar, sesuai dengan ajaran Islam maupun tentang keberagaman di Indonesia.

Langkah Polisi

Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara (Sultra) juga melakukan langkah sosialisasi rutin untuk mencegah bahaya radikalisme. Sosialisasi itu juga termasuk ke ponpes-ponpes.

“Kami dari Subdit 4 Ditintelkam (Direktorat Intelijen dan Keamanan) Polda Sultra ditugaskan untuk mendata pondok – pondok pesantren yang diduga terpapar radikalisme,” jelas Kanit III Subdit 4 Ditintelkam Polda Sultra. Kompol Jumsah.

Menurut Jumsah, pesantren Ummushabri Kendari yang menjadi pesantren tertua dan terbesar di Sultra, menjadi sasaran kegiatan sosialisasi kontra radikal.

“Termasuk salah satu pesantren yang besar di Sultra inilah Ummusshabri, kurang lebih ada 2000 orang santrinya, ini menjadi sasaran utama kami melakukan kegiatan kontra radikal, itu berarti kami mencegah agar santri – santrinya jangan sampai terpapar radikalisme,” tandasnya. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here