FOTO RUMPAN.ID/EKA SETIAWAN
Seorang ibu yang berstatus warga binaan pemasyarakatan (WBP) nampak menggendong anaknya di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Semarang, Rabu (24/7/2019).


Ada banyak cerita yang didapat  ketika tim rumpan.id serta Rumah Pancasila dan Klinik Hukum Semarang berkunjung ke Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas IIA Semarang alias Lapas Bulu, Rabu (24/7/2019) kemarin.

Salah satu ceritanya adalah ketika melihat seorang ibu yang menggendong anak perempuannya. Ibu itu berstatus warga binaan pemasyarakatan (WBP) alias narapidana.

“Anak saya usia 13 bulan,” kata ibu itu.  

Dia bercerita, asli dari Kota Salatiga. Masuk penjara karena melakukan suatu kejahatan di Kota Semarang. Sudah lebih dari satu tahun dia mendekam di penjara.

Karena masih mempunyai bayi –anak yang dia gendong- maka buah hatinya itu diajak serta di dalam penjara. Bukan untuk sama-sama dihukum, tapi lebih kepada memberikan asupan asi kepada buah hatinya.

“Memang bisa di sini (ikut) sampai 2 tahun usianya,” lanjut ibu itu.

Meski harus hidup di balik jeruji besi, kasih ibu memang tidak ada duanya. Sebisa mungkin tetap merawat bayinya dengan cinta, meski hidup di tengah keterbatasan.

Beberapa WBP lain yang sliwar-sliwer tampak tersenyum dan selalu menyapa ibu itu.

Di LPP Semarang itu, juga ada cerita lainnya. Salah satunya ketika mengobrol dengan perempuan yang akrab disapa Dora. Usianya 25 tahun, asal Solo. Dia harus mendekam di balik jeruji setelah divonis hakim 10 tahun karena kasus narkoba.

“Ketangkep di Solo, ini sudah jalani 2 tahun,” kata Dora.

Menjalani hidup di penjara, tak membuat Dora terus tak berbuat apa-apa. Keahliannya nyalon, tetap dipakainya. Ada sebuah salon di dalam penjara, tempatnya bekerja.

Di sana, dia ditemani pula oleh napi perempuan asal Thailand, yang akrab disapa Biu (23). Kasusnya sama, narkoba.

Di salon yang dindingnya di cat pink, ada beberapa gambar boneka hello kity, di kacanya ditempel pengumuman. Kata-katanya cukup menggelitik. Intinya begini; “tiap habis nyalon langsung bayar, jangan kabur, tidak boleh ngutang!”

“Karena ada juga yang habis nyalon kabur, belum bayar sudah pergi. Ya meskipun di sini-sini saja (hanya di dalam penjara) tapi susah kan mencarinya (menagih), nyari dari blok ke blok,” cerita Dora.

Sekira setahun lalu di LPP Semarang juga pernah jadi tempat penahanan T alias UA, perempuan asal Jawa Barat, terpidana kasus terorisme. Dia dikenal sebagai perekrut calon pengantin bom bunuh diri bom panci.

Tapi, hanya sekira 1 tahun UA alias T ini dipenjara di LPP Semarang. Dia dipindahkan ke Lapas Tangerang karena alasan ketertiban. Salah seorang petugas mengatakan UA ini kerap ribut dengan napi narkoba.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here