DOKUMENTASI RUMPAN.ID / ERNA VIRNIA
Rumah IS (47) terduga teroris di Jalan Purwosari Perbalan IIE RT1/RW5 Kelurahan Purwosari, Kecamatan Semarang Utara Kota Semarang tampak sepi, saat Rumpan.id mendatangi rumahnya, Jumat (3/7/2020),

SEMARANG – Detasemen Khusus (Densus) 88/Antiteror Polri menangkap seorang perempuan di Kota Semarang karena diduga melakukan tindak pidana terorisme. Perempuan tersebut ditangkap berdasarkan pengembangan dari insiden penyerangan Wakapolres Karanganyar Kompol Busroni pada Minggu (21/6/2020) lalu di Karanganyar dengan pelaku Karyono Widodo.

Perempuan yang diamankan tersebut berinisial IS (47). Dia diamankan di tempat tinggalnya di Jalan Purwosari Perbalan IIE RT1/RW5, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang. Dia diamankan pada Rabu (24/6/2020).

Penangkapan terduga teroris itu dibenarkan Kadiv Humas Polri Ijen Pol Argo Yuwono. Ada seorang perempuan di Semarang yang turut diamankan dan dua orang di Boyolali terkait Karyono Widodo.

“Iya, betul,” kata Argo saat dimintai konfirmasi, Sabtu (4/7/2020).

Sementara itu informasi penangkapan ini juga dibenarkan oleh tetangga-tetangga IS yang ditemui Rumpan.id Jumat (3/7/2020) siang. Salah satu tetangga bernama Jumini mengatakan, IS memang dijemput beberapa petugas kepolisian.

IS terlihat menjinjing sebuah tas dengan digandeng dua orang perempuan berpakaian biasa, dan dua orang laki-laki dengan mengendari sebuah mobil. Sebelum pergi IS sempat menitipkan kunci rumahnya kepada Jumini.

“Titip kunci ya Mak, nanti kasihkan bulekku,” kata Jumini menirukan IS saat menitipkan kunci kepadanya.

Sejak penangkapan itu, yang kemudian sumber itu membenarkan bahwa dilakukan Rabu 24 Juni 2020 , IS kemudian tak terlihat lagi di rumahnya, hingga berita ini diturunkan.

Pantauan di rumah tinggal IS, terdapat spanduk besar bertuliskan “Rumah Sehat Bu Ana” Cabang Klinik Pangkalan Bun Kalimantan Tengah, menerima pengobatan Asma, Stroke, Jantung, Syaraf Kejepit dan Maag Kronis. 

Rumahnya terbilang besar di banding beberapa rumah tetangga kanan kirinya, bercat putih dan krem, berpagar hitam. Saat disambangi pagar terlihat digembok.

“Orangnya jarang di sini, sering ke Kalimantan katanya,” tambahnya.

Diakui Jumini, IS sejak SMA IS ini pindah ke Kalimantan ikut kakaknya yang punya usaha di sana. Rumah di Perbalan itu dulu milik orangtuanya, namun sudah dibeli kakaknya dan sudah direnovasi. Jumini juga berkata selama tinggal di rumah itu IS terkenal jarang berinteraksi dengan tetangganya.

“Dia itu jarang keluar rumah, pintunya selalu tertutup, sampai rumput di depan rumahnya tinggi-tinggi aja dia gak peduli. Ke rumah saya ya kalau pas mau pergi nitip kunci aja,” terangnya Jumini.

Soal pengobatan herbal itu, sebut dia, dulu banyak pelanggan datang, namun karena sering ditinggal pergi pelanggan jadi berkurang. Pasien yang datang bervariatif, perempuan maupun laki-laki baik tua maupun muda.

“Kalau tetangga tarifnya paling Rp50ribu, tapi kalau dari luar kota atau diundang ke luar kota tarifnya Rp2juta, (IS) pernah cerita begitu ke saya,” kata Jumini. 

Beberapa tetangga mengatakan setelah lulus SMA, terdapat perubahan penampilan IS, menjadi berjilbab dan bercadar.  Perempuan berpenampilan serupa kerap terlihat mengunjungi rumah tersebut, namun tetangga tak tahu pasti apa aktivitasnya, sebab pintu selalu ditutup rapat. 

Beberapa tetangga juga mengatakan IS ini pernah 2 kali menikah. Di pernikahan pertama punya 3 anak laki-laki, namun kemudian bercerai. Setelah itu IS menikah lagi dengan seorang lelaki yang lebih muda, berasal dari Kalimantan, namun lagi-lagi bercerai.

“Tiga anaknya sekarang ikut ayahnya semua, jarang ke sini ketemu Ibunya, kalaupun ke sini juga cuma sebentar,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here