Bayu Kirno, salah satu warga binaan Lapas Kelas IIA Magelang, mengecek kotak-kotak tempat budidaya jangkrik di dalam lapas, Sabtu (3/8/2019).


Fungsi pembinaan oleh pelaksana teknis pemasyarakatan harus dijalankan dengan baik. Tujuannya tak lain adalah menyiapkan warga binaannya agar siap kembali ke tengah masyarakat saat bebas kelak.

Pembinaan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Mengajari mereka keterampilan yang bernilai ekonomis adalah salah satunya. Seperti dilakukan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Magelang.

Warga binaannya dilatih berbagai macam keterampilan, dari membuat sampo mobil, cukur rambut, pertukangan, pertanian, menjahit, budidaya jangkrik sampai membuat peti mati.

Soal budidaya jangkrik ini sudah dilakukan sejak 5 bulan lalu. Tercatat sudah 2 kali panen. Teknisnya, pihak Lapas membeli telur jangkrik, kemudian ditetaskan dan diternak di kotak-kotak yang sudah disiapkan hingga siap jual.

“Jadi dulunya telur sekarang sudah menetas,” ungkap Kepala Sub Seksi Bimbingan kerja dan Pengelolaan Hasil Kerja Lapas Kelas IIA Magelang, Ainur Rofiq, ketika ditemui rumpan.id, Sabtu (3/8/2019).

Dia menyebut, ide awal ternak jangkrik ini adanya fenomena para peternak burung yang susah mencari jangkrik untuk pakan. Akhirnya, dia mencari informasi via internet baik soal budidaya maupun di mana membeli telur-telurnya.

Akhirnya didapatlah telur-telur jangkrik itu dari Kutoarjo, Kabupaten Purworejo. Pihak lapas kemudian membeli telur-telur itu untuk ditetaskan dan diternak sampai bisa panen oleh warga binaanya.

Jangkrik-jangkrik yang baru menetas

Rofiq bercerita, panen pertama dari 1kg telur bisa panen 19,5kg jangkrik. Harganya saat itu Rp23.500 per kg dari bakul, yang langsung ke peternak lebih tinggi yakni Rp35ribu per kg. Dibutuhkan waktu sekira 40 hari untuk telur menetas sampai siap panen.

Panen kedua, harganya lebih bagus. Yakni hingga Rp65ribu hingga Rp70ribu per kg langsung ke peternak dan yang ke bakul Rp45ribu per kg.

Tapi pada fase kedua itu hasilnya lebih sedikit meski harganya lebih tinggi. Dari 1kg telur hanya jadi 6,5kg. Sebabnya, kotak tempat menetaskan telur diserang semut. Telur-telur jangkrik dimakan semut. Mereka kemudian mencari solusi dengan memberi oli di kaki-kaki kotak penetasan telur.

“Mudah-mudahan panen ke 3 ini bisa panen raya (sukses). Karena kalau idealnya (dari peternak yang sudah sukses) 1kg telur bisa hasilkan 25 sampai 30kg jangkrik,” sambung Rofiq.    

Di Lapas Kelas IIA Magelang itu ada 2 warga binaannya yang sudah terampil budidaya jangkrik. Satu bernama Arif, satu lagi Bayu Kirno. Tapi Arif ini sudah bebas. Namun, sebelum keluar dia sudah menularkan keterampilannya ke Bayu Kirno.  

“Saya dulu dilatih Mas Arif, dibimbing juga oleh Bapak Rofiq. Awalnya ya belum bisa, cuma dapat pengalaman dari sini. Nggak (susah) nggak terlalu banyak makan tenaga,” kata Bayu Kirno.

Bayu menjelaskan, dari telur sampai menetas dibutuhkan waktu sekira 10hari. Tapi itu variatif, tergantung tingkat kematangan telur ketika dibeli.

“Sementara saya sendirian (mengelola) mungkin nanti kalau saya sudah mendekati bebas mungkin teman-teman lain (bisa ditularkan ilmunya),” lanjut terpidana 2,5tahun sebab kasus penipuan itu.

Bayu Kirno yang sudah jalani 1 tahun di pemasyarakatan ini mengaku sangat terbantu dengan kegiatan pembinaan seperti itu.  

“Sangat merasakan manfaatnya dengan seperti ini ada pembinaan seperti ini, insya Allah saya nanti diluar bisa mengembangkan. Saya dapat binaan sudah syukur alhamdulillah, karena mungkin tidak semua orang bisa seperti saya,” lanjutnya.

MoU dengan Gereja

Sementara itu, terkait produksi peti mati yang dilakukan Lapas Kelas IIA Magelang, Ainur Rofiq kembali menjelaskan bahwa itu sudah berjalan 3 tahun terakhir.

“Sudah ada MoU (nota kesepahaman) dengan pihak geraja se kota madya Magelang,” tambah Ainur Rofiq.

Teknis pembuatannya, pihak Lapas menyiapkan bahan baku, biasanya dari kayu sengon putih. Kemudian, diolah oleh warga binaannya sampai jadi peti mati lengkap dengan berbagai ornamen di dalamnya. Per peti biasa dihargai Rp950ribu.

“Biasanya pesanan 1 kali antar kadang 4 kotak (peti). Kalau dengan Gereja Plengkung mereka rutin nyetok 4, jadi kami kirim. Kalau gereja lain, kalau ada yang meninggal baru pesan. Di sini (kota) lebih dari 10 gerejanya,” jelas Rofiq.


Kepala Sub Seksi Bimbingan kerja dan Pengelolaan Hasil Kerja Lapas Kelas IIA Magelang, Ainur Rofiq, memperlihatkan peti-peti mati karya warga binaan.

Peti-peti mati itu dibuat di ruang kerja semacam bengkel untuk pertukangan. Di sana juga dibuat berbagai kerajinan, mulai dari miniatur menara, mobil, helikopter sampai aneka lukisan. Semuanya dibuat warga binaan.  

Kalapas Kelas IIA Magelang, Bambang Irawan, menyebut aneka produksi itu merupakan bagian dari pembinaan.

“Jadi mereka bisa dapat penghasilan, kasih insentif dari bekerja. Minimal untuk menghidupi diri, tapi ada juga yang sudah bisa mengirim (uang) ke keluarganya,” sebut Bambang.

Walaupun belum bisa besar pendapatannya, namun Bambang yakin itu akan bermanfaat bagi mereka setelah bebas penjara nanti.

“Minimal mereka punya keahlian lah. Yang dulunya mungkin unskill, sekarang sudah bisa punya keterampilan-keterampilan yang bisa dibanggakan,” tegasnya.

Harus Sehat   

Bambang juga menyebut, selain membina mereka agar mandiri, kesehatan dan kebugaran para warga binaan juga diperhatikan. Sebab kesehatan itu penting untuk mereka nantinya ketika kembali ke tengah masyarakat.

Kalapas Kelas IIA Magelang, Bambang Irawan

Salah satu upaya merawat kesehatan dan kebugaran warga binaannya, Lapas Kelas IIA Magelang menggelar pekan olahraga yang diresmikan Sabtu pagi itu. Kegiatan itu juga dalam rangka menyambut dan memeriahkan HUT ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia.

“Jadi petugas dan warga binaan harus sehat. Ada pertandingan-pertandingan olahraga, seperti tenis lapangan, tenis meja, bulu tangkis dan catur,” jelasnya.  

Berdasarkan data yang dipajang di sana, per Sabtu (3/8/2019), Lapas Kelas IIA Magelang diisi 536 orang, terinci 444 berstatus narapidana dan 92 tahanan. Kapasitasnya 221 orang.

Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Yosep Parera, yang siang itu ikut berkunjung ke sana, mengapresiasi pihak lapas. Menurutnya, memperlakukan warga binaan harus manusiawi, ini tentu mengedukasi mereka agar menjadi baik.

“Karena mereka itu sakit intelektualnya, jadi harus disembuhkan. Salah satunya lewat pembinaan ini,” tandasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here