FOTO RUMPAN.ID/ADJIE MAHENDRA
Ahmad Sapuan (dua dari kanan) yang berstatus terpidana seumur hidup memberikan keterangan kepada Tim Rumah Pancasila dan Klinik Hukum di Aula Merdeka, Komplek Lapas Kelas I Semarang, Kamis (11/7/2019).


SEMARANG – Rumah Pancasila dan Klinik Hukum Semarang memberikan pendampingan hukum gratis kepada Ahmad Sapuan,30, terpidana seumur hidup karena pembunuhan. Ahmad Sapuan alias Wawan adalah warga asli Kabupaten Pati, yang kini mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Semarang menyandang status Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).

Kasus pembunuhan yang dituduhkan kepadanya terjadi 5 tahun lalu, tepatnya pada 26 Agustus 2014. Wawan yang pernah nyantri di salah satu pondok pesantren di Kabupaten Pati, kemudian ditangkap Tim Buser Polres Pati sebelum akhirnya diproses hukum hingga dijatuhi hukuman seumur hidup.

Jaksa menuntut Wawan 20 tahun penjara di Pengadilan Negeri Pati, tetapi hakim memvonisnya seumur hidup. Itu juga sama dengan putusan kasasinya, teregister Putusan Mahkamah Agung nomor 996/K.Pid/2015 tertanggal 6 Oktober 2015.

Dia dijerat Pasal 340 KUHP terkait pembunuhan berencana juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP terkait turut serta melakukan pembunuhan. Korbannya bernama Mohamad Rizal. Sementara, selain Wawan vonis yang sama dijatuhkan pula kepada Supriyadi, warga Kabupaten Pati. Supriyadi kini mendekam di Nusakambangan setelah sempat ditahan di Lapas Kelas I Semarang.

Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Theodorus Yosep Parera, mengemukakan pendampingan yang diberikan gratis itu diawali pertemuan tak sengaja dirinya dengan Ahmad Sapuan di Lapas Kelas I Semarang pekan lalu.

“Dia cerita kalau tidak membunuh sebagaimana tuduhan kepadanya,” kata Yosep di Lapas Kelas I Semarang, Kamis (11/7/2019).

Berawal dari situ, Yosep tergugah untuk menelisik lebih dalam kasus yang menjerat Ahmad Sapuan. Yosep kemudian menerjunkan timnya, termasuk para advokat yang dipimpin Cecilia Novita Prameswari dan Lutfiansyah untuk menggali berbagai keterangan terkait peristiwa tersebut. Tim yang diterjunkan dinamai tim Ketuhanan Yang Maha Esa.

“Kami dampingi secara gratis, mengingat kondisi finansialnya yang tidak mampu,” lanjut Yosep.

Penggandaan Uang

Pada Kamis siang itu, Yosep dan tim mendatangi Ahmad Sapuan di Lapas Kelas I Semarang untuk mengorek lebih dalam berbagai keterangan terkait peristiwa pembunuhan tersebut.

Ahmad Sapuan yang menemui setelah difasilitasi pihak Lapas, kemudian membeberkan ceritanya. Dia mengelak melakukan pembunuhan itu.

“Ketika itu (saat kejadian) saya sedang berada di Jepara, bersama adik saya,” kata Ahmad Sapuan.

Soal Rizal alias korban, Ahmad Sapuan mengakui memang mengenalnya. Termasuk dia juga mengenal Supriyadi yang kerap dipanggil Kuprit. Salah satu perbincangannya, Supriyadi mengaku bisa menggandakan uang.

“Saya serahkan uang saya Rp6juta, katanya bisa digandakan menjadi Rp10juta. Si Rizal ikut menyerahkan Rp1,5juta,” lanjutnya.  

Transaksi itu terjadi jauh sebelum pembunuhan terjadi. Setelah beberapa waktu, Ahmad Sapuan alias Wawan itu tak lagi dapat kabar dari Supriyadi. Sempat beberapakali ditagih janjinya bisa menggandakan uang, tapi selalu mengelak. Sejak itu komunikasi ketiganya mulai renggang.

Beberapa hari sebelum Rizal ditemukan tewas, Wawan dihubungi Kuprit alias Supriyadi itu lewat SMS dengan nomor asing. Dia diminta mendatangi Kuprit menggunakan motor yang bagus, untuk pergi bersama ke wilayah Sukolilo Pati untuk menagih hutang.

Nantinya, hasil tagihan hutang itu akan diberikan untuk melunasi hutang penggandaan uang yang dijanjikan.

“Tapi saya tidak bisa karena saat itu harus pergi ke Jepara sama adik saya dan dua orang teman. Di Jepara, saya nginep semalem,” terangnya.

Ketika di Jepara itu, pagi-pagi Wawan mengaku mendapat telepon dari bapaknya. Mengabarkan ada pembunuhan dan mayatnya dibakar. Bapaknya tak tahu persis siapa korbannya, hanya meminta Wawan dan adiknya pulang untuk memastikan kondisi.

Sebagaimana putusan kasasi MA itu, pembunuhan terjadi pada Selasa 26 Agustus 2014 jelang Rabu dini hari.

Wawan ketika pulang ke Pati melakukan aktivitas seperti biasanya, berjualan sempolan. Sama seperti sebelumnya, Wawan juga kembali ke Jepara untuk keperluan jual beli kadal. Di situlah dia mendapat telepon dari seseorang yang mengaku tim buser kepolisian.

“Saya menyanggupi, ternyata saya langsung ditangkap. Kalau saya membunuh, saya pasti lari, tidak aktivitas seperti biasa, apalagi sampai mau ketemuan sama polisi,” terang Wawan.  

Dirinya akhirnya ditahan. Tak lama, tersangka kedua yakni Supriyadi kemudian ditangkap. Ketika rekontruksi pembunuhan dilakukan Wawan tak dilibatkan. Kejanggalan berlanjut sampai siding, sebab saksi-saksi yang meringankan, yang mengetahui alibi dirinya tak juga dilibatkan termasuk adanya bukti SMS yang tak dibuka.

“Kan ada SMS dari nomor milik Rizal kepada ibunya, isinya, izin kalau malam itu dia pergi sama saya. Padahal, selama tiga hari setelah Rizal dibunuh, ibunya masih SMSan dengan nomor hape Rizal. Ada juga SMS di hape saya dari pembeli kadal di Jepara. Saya waktu itu ke Jepara karena mau menjual Kadal,” tegasnya.

Karena merasa tak mendapat keadilan itulah, Wawan bersikeras mengajukan berbagai upaya untuk mendapatkannya.

Sementara itu, Yosep Parera kembali menambahkan, pihaknya akan menempuh mekanisme hukum yang ada. Baik melalui upaya Peninjauan Kembali (PK) ataupun mengajukan grasi kepada Presiden.  

“Bisa juga kami pertimbangkan (meminta) amnesti atau abolisi yang diajukan DPR ke Presiden,” tutupnya. (adjie mahendra/eka setiawan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here