FOTO RUMPAN.ID/SUTRISNO
Dua terdakwa (berompi oranye) kasus pembunuhan terhadap Dominicus Gregorio Awi hadir dalam sidang beragendakan putusan di Pengadilan Negeri Semarang, Selasa (8/10/2019)


SEMARANG– Sidang putusan perkara pembunuhan mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) asal Papua, Dominicus Gregorio Awi, digelar hari ini Selasa (8/10/2019) di Pengadilan Negeri Kota Semarang.

Dalam amar putusan yang dibacakan hakim, kedua terdakwa kasus pembunuhan ini, Ishak Bani (20) dan Yehezkiel Lede Bani (23), masing-masing divonis hukuman 15 tahun penjara dan 20 tahun penjara.

Majelis hakim meyakini keduanya melanggar Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Putusan ini sesuai dengan tuntutan yang dilayangkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) sebelumnya.

Advokat Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Indra Parito dan Adi Laksono yang mendampingi para terdakwa, mengaku kecewa dan keberatan dengan putusan hakim.

“Vonis yang diberikan kepada klien kami sangat tinggi,” kata Indra usai sidang.

Terlebih, sebut Indra, hukuman yang dijatuhkan kepada Ishak Bani. Indra menyebut pada perkara ini Ishak adalah korban, tak ikut andil.   

“Ada perbedaan pendapat antara kami dengan majelis hakim, Ishak dianggap mengawasi, padahal saat kejadian dia sedang mencari korek api,” sambungnya.

Indra juga mengatakan, pihaknya siap untuk mengajukan banding terhadap putusan ini.

“Saat ini kami biarkan terdakwa berunding dengan keluarganya, jika akan banding kami siap mengajukan,” terangnya.

Indra berargumen hukum jangan hadir sebagai wujud balas dendam, dengan memberikan hukuman seberat-beratnya kepada pelaku kejahatan. Fungsi hukum seharusnya untuk merawat kemanusiaan dengan memberikan rasa keadilan dan kesempatan perubahan perilaku yang lebih baik kepada setiap pelanggarnya. Ini sesuai filosofi Pancasila.  

“Klien kami sudah menyesal dan merasa bersalah, seharusnya hukuman tidak dijatuhkan dengan seberat-beratnya, ” ungkapnya.

Keluarga Korban Kecewa

Kendati para terdakwa divonis tinggi, Tarsisius Awi, ayah korban, merasa hukuman itu belum setimpal dengan apa yang dilakukan kedua pelaku terhadap anaknya.

Dia bercerita Dominicus, putranya, merupakan satu-satunya penerusnya marganya. Sebab itu, dia merasa hukuman 20 tahun penjara bukanlah hal yang sebanding dengan rasa kehilangannya.

“Saya jauh-jauh dari Merauke agar anak saya mendapat keadilan,” terang Tarsisius.

Dirinya juga sangat menyayangkan sikap para pelaku. Menurutnya, selain banyak keterangan yang tidak sesuai dengan apa yang seharusnya, baik pelaku maupun keluarga, belum ada satupun yang meminta maaf secara pribadi kepadanya.

“Hingga saat ini, bapak belum memaafkan, jika ada yang datang sebelum vonis, berbicara baik dari hati ke hati, mungkin bapak bisa memaafkan, ” terangnya. (sutrisno)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here