FOTO: ISTIMEWA
Para punggawa Pagersemar ketika merayakan ulang tahun, beberapa waktu lalu

SEMARANG – Dunia hiburan malam kerap dipandang sebelah mata. Padahal, mereka punya andil dalam menyerap pengangguran. Agar hiburan malam tidak lagi digunakan untuk hal-hal negatif, Paguyuban Entertainment Semarang (Pagersemar) lahir untuk menjembatani pemerintah.

Paguyuban yang berada di bawah perlindungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang ini hadir memberikan masukan agar pemerintah lebih mudah menata dunia hiburan malam. Dengan begitu, para pengusaha bisa lebih leluasa menghidupkan dunia hiburan.

Ketua Pagersemar, Fic Indarto bercerita, ide membuat paguyuban ini awalnya sekadar wacana saja. Ternyata malah ditanggapi serius oleh Disbudpar Kota Semarang. Justru malah didorong untuk segera merealisasikannya.

“Awalnya beberapa manager karoke, spa, cafe, lounge, dan lain sebagainya, punya wacana membuat paguyuban untuk menaungi pengusaha hiburan. Kemudian kami coba komunikasi dengan pemkot. Ternyata ditanggapi,” ucap manager Inul Vista Semarang ini.

Merasa mendapat angin segar, pihaknya segera mengumpulkan kenalannya yang bekerja di dunia entertainment. Setelah terkumpul 14 orang, mereka langsung menghadap Disbudpar.

“Kami diundang untuk kumpul di kantor Disbudpar. Dimulai dari membuat grup WA. Isinya ya hanya 14 oang itu. Lama kelamaan, nular. Teman-teman hiburan mulai dimasukkan grup,” terangnya.

Tim tersebut dibantu Kepala Bidang Industri Pariwista Disbudpar Kota Semarang untuk menyiapkan kelahiran Pagersemar. Akhirnya, 23 April 2017, paguyuban itu resmi terbentuk. Kini, anggotanya sudah nyaris 100 orang.

“Prosesnya memang lama banget. Soalnya teman-teman dari hiburan ini jarang ngobrol serius. Kalau kumpul banyak guyonnya ketimbang seriusnya. Ini yang membuat jadinya lama. Kami juga sempat cari masukan dari Paguyuban Karaoke Bandungan,” bebernya.

Pagersemar pun intens berkomunikasi dengan pemerintah. Terutama untuk menentukan kebijakan dan arah perkembangan dunia hiburan di Semarang.

“Disbudpar jadi mudah untuk mengorganisir teman-teman hiburan. Seperti kebijakan jam operasional saat puasa, dan lain sebagainya,” tegasnya.

Selain itu, mereka juga menggandeng Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) untuk mengecek secara rutin HIV/AIDS. “Katanya, karaoke itu salah satu penyebar virus HIV/ADIS, makannya kami menggandeng KPA untuk mengecek secara rutin,” tegasnya.

Kini, Pagersemar sedang fokus menggarap konsep sertifikasi bagi pekerja hiburan. Pihaknya menggandeng Lembaga Sertifikasi Profesi Gunadharma untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Memberikan sertifikasi kepada food and baverage servis, atau mengirim manager karaoke untuk menjadi assessor pemandu karaoke (PK).

“Pemandu Karaoke itu kan profesi yang diakui Kementerian Pariwisata. Jadi tidak ada salahnya jika mereka disertifikasi agar lebih profesional dalam melayani tamu,” terangnya. (ajie mahendra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here