FOTO RUMPAN.ID/EKA SETIAWAN
Wa Oni (istri Rasilu) bersama 5 anaknya ketika ditemui di rumahnya di Desa Lolibu, Kecamatan Lakudo, Kabupaten Buton Tengah, Provinsi Sulawesi Tenggara, Kamis (7/3/2019)

Buton Tengah – Selepas mengunjungi Rasilu di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Ambon, tim Rumah Pancasila dan Klinik Hukum menyeberang ke Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, Kamis (7/3/2019).

Untuk sampai ke sana, tim terbang dari Bandara Internasional Pattimura Ambon menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, dilanjutkan terbang lagi ke Bandara Betoambari, Bau Bau Pulau Buton, Sulawesi Tenggara.

Dari situ, tim bergerak dengan mobil carteran, menyeberang di Pelabuhan Lintasan Bau Bau – Waara di Pulau Muna.

Tujuan kami adalah rumah Wa Oni, istri Rasilu. Lokasinya di Desa Lolibu, Kecamatan Lakudo, Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara.

Perjalanan darat selepas menyeberang, ditempuh hampir 2 jam. Setelah sempat bertanya kanan kiri ke beberapa warga, sampailah tim di rumah Wa Oni.

Siang itu, rumah itu ternyata ramai. Selain ada Wa Oni dan 5 anaknya, di rumah itu juga ada ibunda Rasilu yakni Warisini, kakak Rasilu yakni Kamiru (52), Kapolsek setempat AKP Halim dan Kepala Desa setempat yakni Sahrul. Ada dua wartawan televisi juga di sana.

Semuanya menyambut kami ramah. Beberapa terlihat terkejut, sebab kami datang dari Semarang. Lokasi yang jaraknya terpaut ribuan kilometer.

Obrolan dimulai. Wa Oni, mengenalkan 5 anaknya kepada kami; Aisyah (15) kelas 3 SMP Wamolo, Anggun (12) Kelas 1 SMP, Haliza (9) kelas 3 SD Lolibu, M. Alif (7) TK Bunga Karang dan Ahmad Ramadhan (1tahun 8bulan).

Wa Oni menyebut, Rasilu memang sudah lama sering merantau bahkan pernah jadi TKI di Malaysia.

Orangnya memang pekerja keras dan sangat memikirkan keluarga. Rasilu adalah anak ke 7 dari 9 bersaudara.

Namun, merantau ke Ambon jadi tukang becak pada tahun 2018 lalu, Wa Oni menyebut suaminya itu punya misi tersendiri.

“Mau nyari uang, pingin belikan anak yang ini, yang kelas 3 SMP, motor bekas yang harga Rp5juta. Karena kalau sekolah harus jalan kaki 2 km, nanti kalau masuk SMA jaraknya dari rumah 5 km,” sebut Wa Oni.

Perjalanan harus ditempuh jalan kaki karena memang mereka tidak punya kendaraan. Di sana juga tidak tersedia angkutan umum.

“Ternyata baru dua bulan bekerja (di Ambon) terus saya dengar kabar itu (ditahan),” lanjutnya menahan sedih.

Dia dan keluarganya tidak bisa berbuat banyak, selain hanya terus memanjatkan doa-doa.

Wa Oni juga berusaha mencari nafkah sebisa mungkin. Biasanya, Rasilu mengirim uang sekira Rp1juta per bulan untuk nafkah mereka. Kali ini, tidak ada yang mencari uang, Wa Oni ikut bergerak.

Dia jadi pengupas biji jambu mete, dihargai Rp1000 per kilonya. Uang tambahan lain, dia berjualan es di sekolahan anaknya. Penghasilannya tak tentu, kisaran puluhan ribu rupiah saja per hari.

Apa yang menimpa Rasilu juga membuat ibundanya, yakni Warisini, tiap hari terus saja menangis.

“Selalu tanya kapan anak saya mau keluar (bebas penjara),” kata Wa Oni menirukan omongan Warisini.

“Saya nangis terus,” tambah Warisini yang siang itu ikut mengobrol dengan kami.

Tim Rumah Pancasila dan Klinik Hukum Semarang berfoto bersama Wa Oni dan lima anaknya, Warisini (ibunda Rasilu) dan kerabat, serta Kapolsek Lakudo AKP Halim dan Kepala Desa Lolibu (kanan) Sahrul, Kamis (7/3/2019)

Tim kemudian menyerahkan bantuan dana Rp15juta kepada Wa Oni. Itu adalah salah satu amanah dari Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Yosep Parera, kepada kami yang menjalankan misi kemanusiaan di Indonesia Timur itu.

Wa Oni kaget bukan kepalang menerima bantuan itu. Terlihat tak percaya. Buru-buru dia mengucapkan syukur kepada Tuhan.

“Alhamdulillah, ini akan saya gunakan juga buat beli motor bekas buat berangkat sekolah anak,” kata Wa Oni sembari terus mengucapkan terima kasih.

Tak lama, kami berpamitan. Dari dalam hati, senang sekali rasanya bisa jadi bagian dari Indonesia yang saling berbagi.

Sementara itu, Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Theodorus Yosep Parera, mengatakan sila ke-1 Pancasila mengajarkan kita sebagai manusia Indonesia tentang cara bertuhan dalam agama dan kepercayaan masing-masing. 

Maka, di balik semua musibah, apabila kita percaya pada Tuhan dan tetap bersyukur pada-Nya, maka Tuhan akan mengutus manusia Pancasila lain untuk mewujudkan harapan kita.

“Jadi bahagialah kita yang lahir dan hidup di bumi Pancasila,” ungkap Yosep Parera. (eka setiawan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here