Bertemu Wakapolda Maluku Utara Kombes Lukas Akbar Abriari (kanan) secara tak sengaja di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, Jumat (8/3/2019)

Eka Setiawan

Kota Makassar

Pesawat Sriwijaya Air nomor penerbangan SJ715 dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar menuju Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang yang sedianya terbang hari Jumat (8/3/2019 pukul 18.20 WITA dan sampai di tujuan pukul 19.10 WIB batal terbang karena gangguan teknis pesawat.

Insiden itu mengejutkan tim Rumah Pancasila dan Klinik Hukum Semarang yang sedianya akan pulang ke Semarang memakai pesawat itu.

Saya dan rekan Ajie Mahendra yang sudah menunggu sejak pukul 13.00 WITA selepas terbang dari Bandara Betoambari Baubau, Sulawesi Tenggara, sempat kebingungan atas insiden itu.

Secara tak sengaja di Bandara Sultan Hasanuddin itu, kami bertemu Kombes Pol Lukas Akbar Abriari yang kini menjabat Wakil Kepala Polda Maluku Utara.

Pak Lukas, demikian beliau akrab disapa, memang tak asing. Sebelumnya, beliau pernah bertugas di Jawa Tengah menjabat sebagai Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jawa Tengah. Beliau akrab dengan wartawan.

Kami awalnya sempat menunggu penerbangan dari jadwal semula. Berbagai cerita. Kami juga bercerita kalau kedatangan di Indonesia Timur itu awalnya ke Ambon untuk menemui Pak Rasilu, tukang becak yang ditahan di Rutan Kelas IIA Ambon karena kasus lakalantas, hingga cerita tentang kedatangan kami ke rumah Rasilu di Kecamatan Lakudo, Kabupaten Baubau, Sulawesi Tenggara untuk memberikan bantuan dana kepada istri Pak Rasilu dan keluarganya.

Di tengah obrolan, ada pengumuman delay  pesawat. Pak Lukas yang kebetulan terjadwal satu pesawat dengan kami, sempat mengajak makan.

Nah saat makan itu, tiba-tiba dibatalkan. Hampir semua penumpang protes, bahkan ada yang marah-marah.

Penumpang pesawat Sriwijaya Air jurusan Makassar – Semarang, protes di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Jumat (8/3/2019) petang karena pesawat batal terbang.

Kami saat itu juga sedang berkoordinasi dengan tim di Semarang termasuk dengan Dewan Pengawas Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Ignatia Sulistya Hartanti dan tentu saja sang pendiri Theodorus Yosep Parera perihal kedatangan kami kembali ke Semarang yang pastinya tertunda karena insiden pesawat batal terbang itu.

Kami sempat bercerita bahwa Rumah Pancasila dan Klinik Hukum ini adalah organisasi masyarakat yang fokus di bidang kemanusiaan, aktif memberi bantuan.

Pak Lukas mendengarkan serius, dan berkomentar, mengapresiasi kegiatan seperti itu.

“Bagus, jadi jangan cuma cari duit saja, (tetap ada misi kemanusiaan),” komentar beliau.

Sementara itu, via WhatsApp, Pak Yosep sebenarnya langsung menginstruksikan kami untuk koordinasi dengan bagian keuangan, sebab uang yang dibawa tak cukup untuk menginap satu malam lagi.

“Segera koordinasi ya,” kata Pak Yosep.

Kami mengiyakan. Di tengah hiruk pikuk itu, termasuk kami sedang coba ambil bawaan yang masuk bagasi hingga refund tiket, tiba-tiba Pak Lukas meminta foto KTP saya dan kawan saya si Aji Mahendra itu.

“Kirim via WhatsApp ya,” kata Pak Lukas kepada saya.

Penerbangan malam itu ke Semarang memang sudah tidak ada lagi. Pihak maskapai hanya menjelaskan tiket bisa direfund atau pakai penerbangan hari Sabtu (9/3/2019) jam yang sama.

“Kita terbang besok saja ya bareng, pakai Garuda pagi-pagi jam 6, kita ke Makassar saja,” lanjut Pak Lukas.

Ternyata, kami malah dibelikan tiket oleh beliau, plus dikasih penginapan satu malam di Makassar, di hotel yang sama dengan beliau.

Dalam hati kami, terasa tidak enak. Karena merepotkan. Sudah dibantu seperti itu.

Namun, Pak Lukas, tetap dengan gaya santainya menjawab; “Sudah, enggak papa, itu rejekimu,” kata beliau.

Sepanjang perjalanan dari bandara ke hotel, Pak Lukas sempat cerita kalau di Makassar juga nostalgia. Sebelumnya beliau pernah bertugas jadi Kepala Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Makassar.

Kami sempat diajak mencicipi mi titi, khasnya Makassar. “Dulu kalau tugas malam, saya selalu makan ini,” kata beliau.

Mi titi khas Makassar

Wah, kami makin tidak enak dengan beliau. Terlalu merepotkan.

Menjelang pukul 22.00 WITA, kami sudah sampai hotel. Kami akan berangkat pagi-pagi besok (Sabtu 8/3/2019). Berangkat pukul 06.10 WITA dan dijadwalkan tiba di Semarang pukul 08.25 WIB. Semoga selamat.

Bersyukur kami, masih ada orang-orang baik yang mau saling menolong di Rumah Indonesia. Seperti perintah Pancasila yang ajarkan gotong royong dalam kehidupan di negara ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here