Kuliner ikan bakar di Jalan Sam Ratulangi, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon.

Sampai di Kota Ambon pada Selasa (5/3/2019) sekira pukul 15.00 WIT. Tim Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, berkeliling kota sembari mencari penginapan dan berburu kuliner karena perut sudah keroncongan.

Kami berkeliling ditemani Bang Rahim (45) warga lokal yang jadi sopir. Kami bertemu sesaat setelah sampai di Bandara Pattimura Ambon. Bang Rahim ini meski keras gaya bicaranya, tapi orangnya baik hati.

Jalanan di Kota Ambon sore itu ramai lancar. Sempat menyeberang Jembatan Merah Putih, salah satu ikon kota ini, kami menuju pusat kota.

Perjalanan tak sampai 1 jam. Setelah singgah di beberapa tempat,  rasa lapar tak tertahankan. Kami menuju kawasan ramai di Jalan Sam Ratulangi, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon.

Kata Bang Rahim, di sana banyak ikan bakar. Ikan-ikan segar.  

Betul saja, sampai di sana, di sepanjang jalan berjejer tenda-tenda penjual makanan. Rata-rata mereka menjual ikan, udang, cumi. Memang di antara pilihan itu tersedia juga makanan macam ayam goreng atau bakar, tempe, tahu dan sayur.  

Untuk menikmati menu, kami dipersilahkan memilih lauk yang akan disantap. Memang berjajar ikan segar, harganya variatif dari Rp30ribu sampai seratus ribuan.

Berbagai macam ikan ada di sana, misalnya; ikan kue atau disebut giant trevally (GT), kerapu, kakap merah, ikan sekuda, baronang, ikan ekor kuning.

Setelah ikan dipilih, tinggal minta aja, apakah akan dibakar atau digoreng. Bumbunya juga dipilih sendiri, mau dibakar rica rica pedas, mau bakar kecap, semuanya bisa.  

Membakar ikan

Kami menunggu di meja panjang dengan kursi plastik yang ada di sepanjang trotoar. Mengganggu pejalan kaki, memang.

Untuk sajian sambal, bisa memilih apakah sambal ulek atau sambal colo colo, khas Maluku.

Colo colo ini terdiri dari irisan bawang merah, tomat, dan cabe merah dengan kuah. Rasanya pedas asam. Kalau dirasa kurang asam, bisa ditambah perasan air jeruk yang sudah disediakan.

Siap disantap

Menyantap ikan bakar di sana cukup nyaman, meski sesekali klakson mobil terdengar bersahutan, ataupun bunyi dentuman musik dari angkutan kota (angkot) setempat yang memang cukup keras. Pengemis dan pengamen juga sesekali mendekat.  

Penjual warung tenda di sepanjang Jalan Sam Ratulangi ternyata kebanyakan dari pendatang. Ada orang Jawa, orang Buton, orang Bugis, Batak selain tentunya orang lokal.

Mereka akur, bahkan saling membantu. Tidak ada persaingan bisnis kotor di sana. Setidaknya tidak saling tarik calon pembeli.

“Di sini, semua sudah saudara. Mau Jawa, mau Bugis, mau Muslim, atau Kristen, semua saudara. Orang Ambon sudah tidak mau lagi konflik seperti dulu,” kata Rahim sambil menghabiskan ikan sakuda colo colonya.

Selesai makan, kami menuju penginapan yang sudah dipesan sebelumnya. Kami istirahat, mengingat tujuan kami sebenarnya ke sini adalah menemui Pak Rasilu, tukang becak asal Mawasangka  Sulawesi Tenggara, yang kini mendekam di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Ambon karena kasus lakalantas.

Kami ingin membesuk, memberikan dorongan moril, sekaligus menawarkan bantuan hukum. Sebelumnya kami tak pernah saling kenal apalagi bertemu. Kemanusiaanlah yang menggerakkan kami… (bersambung)  

(Ajie Mahendra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here