Dewan Pengawas Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Ignatia Sulistya Hartanti, menyerahkan bantuan sosial dari Rumah Pancasila dan Klinik Hukum kepada Mbah Panut (77) di rumahnya, Kelurahan Kebonharjo, Kecamatan Semarang Utara, Jumat (15/3/2019) siang.

SEMARANG – Rumah Pancasila dan Klinik Hukum besutan Yosep Parera kembali memberikan bantuan sosial kepada lima warga yang ekonominya kurang beruntung, Jumat (15/3/2019).

Bantuan diserahkan para punggawa Rumah Pancasila yang dimotori Dewan Pengawas Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Ignatia Sulistya Hartanti.

Menggunakan tiga mobil, tim bergerak meluncur ke wilayah Kebonharjo, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang.

Di sana, tim menuju rumah Suparti (60), wanita setengah baya yang belum menikah dan tinggal sendirian. Rumahnya semi permanen. Lantainya jauh lebih rendah dari jalan kampungnya.

Dulu, rumah itu sejajar dengan jalan. Tapi karena wilayah tersebut kerap terendam rob, warga setempat memilih meninggikan jalan.

Tapi Suparti yang hanya mengandalkan pemasukan dari menjual botol plastik bekas dan kardus yang dikumpulkan setiap hari, tidak cukup untuk meninggikan rumah. Praktis, jika hujan turun, rumahnya sering tergenang air.

“Saya hanya mencari botol bekas sama kardus untuk dijual seminggu sekali. Buat tambah-tambah penghasilan, saya bekerja jadi pembantu, mengasuh anak di dekat sini,” terangnya.

Setelah memberikan bantuan berupa uang tunai dan sembako, tim bergeser ke kediaman Nur Komah (48). Rumahnya persis di sebelah Suparti. Kondisi rumahnya nyaris sama dengan Suparti yang berada di bawah jalan kampung.

Di rumah mungil itu, Nur Komah tinggal bersama suami dan empat anaknya. Semuanya menggantungkan biaya hidup kepada kepala keluarga yang bekerja serabutan.

Penghasilannya hanya cukup untuk mengisi perut seisi rumah. Jangankan memenuhi kebutuhan sekunder, biaya sekolah keempat anaknya saja tidak bisa dicukupi.

Bantuan juga diserahkan untuk Yatno (45) yang juga tinggal di wilayah Kebonharjo. Di usia yang belum genap 50 tahun, Yatno sudah terserang stroke. Praktis istrinya yang harus banting tulang untuk mencukupi kebutuhan suami dan dua anaknya yang masih SMA dan SD.

Biaya berobat Yatno mungkin hanya angan-angan. Sebab, rupiah yang didapat dari buruh cuci, langsung habis untuk kebutuhan sehari-hari.

“Saya sudah tidak bisa cari uang karena stroke. Hanya istri yang bekerja jadi buruh cuci,” ucap Yatno.

Dari rumah Yatno, tim mengunjungi Panut (77), warga Kebonharjo juga. Kondisi rumah Yatno sangat memprihatinkan. Seperti milik Suparti, rumah Yatno juga lebih rendah dari jalan.

Posisi rumah yang jauh lebih rendah, membuat lantai rumah tersebut selalu digenangi air. Air muncul dari bawah lantai. Tidak bisa dibendung.

“Maaf, rumahnya licin, kotor, karena air rembesan dari selokan,” ucap istri Panut ketika menyambut tim Rumpan.

Selain rumah, kondisi perekonomian Panut juga tidak beruntung. Panut yang sudah tua, sudah tidak bisa bekerja maksimal.

Pendapatannya hanya mengandalkan hasil menjual barang rosok yang dia cari di daerah sekitar. Sementara istrinya, tidak bisa ke mana-mana karena stroke. Untuk makan sehari-hari saja, kadang keluarga ini harus mengandalkan bantuan makanan dari tetangga.

“Kami tidak punya apa-apa. Serifikat tanah ini juga sudah digadaikan ke tetangga sebelah. Dulu laku Rp 4 juta, tapi sekarang sertifikatnya di mana, saya tidak tahu. Mau ditebus tidak bisa,” tuturnya.

Terakhir, rombongan menuju kediaman Sukarti (40) di Jangli, Kecamatan Tembalang. Dekat dengan SMPN 17. Kondisi rumahnya juga memprihatinkan. Temboknya sudah banyak yang rusak.  Tidak ada eternit, sehingga dari dalam rumah, tampak genting yang sudah bolong-bolong.

Sukarti tidak punya biaya memperbaiki rumahnya. Maklum, pendapatannya hanya berkisar Rp 20 ribu per hari dari siswa SMPN 17 yang parkir di pekarangan rumahnya.

“Cuma jaga parkir motor anak-anak SMP yang titip motor di depan rumah. Kalau libur sekolah, ya tidak dapat apa-apa,” ucapnya.

Padahal, dia juga harus memenuhi kebutuhan 3 anaknya yang masih duduk di bangku kelas 5 SD, 4 SD, dan TK.

Penghasilan Sukarti juga disisihkan untuk merawat ibu kandungnya yang juga tinggal serumah dengannya. Kondisi ibunya sudah sakit-sakitan. Penglihatannya terganggu karena penyakit gula. Kondisinya sudah lumpuh, sehingga hanya menghabiskan waktu di kamar saja.

Sementara suaminya, Widodo, 6 bulan terakhir mendekam di Lapas Kelas I Semarang alias Lapas Kedungpane karena kasus penyalahgunaan narkoba.

Sementara itu, Ignatia Sulistya Hartanti mengaku akan terus berusaha untuk membantu warga di rumah Indonesia yang membutuhkan. Tidak melulu di Kota Semarang.

“Kami ingin membantu warga yang memang butuh bantuan. Karena mereka tidak tinggal sendirian. Masih ada warga Pancasila lain yang mau mengulurkan tangan,” tegasnya. (Ajie Mahendra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here