BERBAGI TAWA:
Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Theodorus Yosep Parera bersama Dewan Pengawas Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Ignatia Sulistya Hartanti, berbagi rezeki kepada Chelsa, bocah pengidap kelainan tulang, di rumah kosnya di Kabupaten Semarang, Sabtu (16/3/2019)

Ajie Mahendra 

Kota Semarang

Chelsea Gracia Manullang (3) bukan anak kecil biasa. Sejak lahir, dia menderita kelainan tulang. Nyaris seluruh tulangnya bengkok. Tulang punggung bengkok (scoliosis), tangan bengkok, semua tulang kaki bengkok (clubfoot), semua jari tangan dan kaki bengkok, hingga tulang dadanya pun menonjol tajam ke depan.

Kondisi tulang seperti ini membuat gadis kelahiran Bali, 12 Februari 2016 ini tidak bisa berdiri. Untuk duduk pun, tampak kesusahan. Dia hanya bisa merangkak dan berguling-guling.

Chelsea ini juga mengidap trakeomalasia. Lubang tenggorokannya sangat kecil sehingga susah menelan. Hanya makanan yang sudah dihaluskan saja yang bisa dikonsumsi. Jika masih kasar, pasti dimuntahkan.

Pernafasannya juga sempat terganggu. Sebelum menginjak dua tahun, terdengar bunyi yang cukup keras di setiap nafasnya. Terutama ketika Chelsea sedang tidur. Mungkin, ini juga efek dari trakeomalasia.

Tak hanya itu. Anak pertama dari dua bersaudara pasangan Carles Roy Antoni Simanullang dan Elsaday Tinambunan ini juga mengidap prolaps aorta atau katup jantung longgar.

Sebenarnya, Chelsea merupakan anak periang. Saat tim Rumah Pancasila dan Klinik Hukum di Semarang datang ke tempat tinggalnya, di sebuah rumah kos di Jalan Progo Dalam 1 Nomor 12 B, Kelurahan Putatan, Kabupaten Semarang, Jumat (15/3/2019), untuk memberikan bantuan, Chelsea mencoba merangkak menuju pintu.  Mencoba ikut menyambut.

Saat itu, Dewan Pengawas Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Ignatia Sulistya Hartanti, yang memimpin rombongan satu tim, berjabat tangan dengan ayah dan ibunya, Chelsea ternyata juga ikut mengulurkan tangan, mengajak bersalaman.

Dia tidak pasang muka takut atau minder. Dia juga gampang tertawa. Bisa jadi, dia sendiri tidak mengetahui ada keunikan di postur tubuhnya.

“Mungkin Chelsea tidak tahu kondisi tubuhnya. Soalnya, ketika adiknya belajar berdiri, Chelsea ikut-ikutan. Pas adiknya menapakkan kaki dan cari pegangan untuk berdiri, Chelsea berusaha melakukan hal yang sama persis. Tapi tidak bisa karena tulangnya memang tidak kuat,” ucap Elsaday.

Tetap Menjaga

Elsaday bercerita, kelainan tulang Chelsea sudah diketahui sejak umur 5 bulan di dalam kandungan. Waktu itu, pasangan asli Medan ini sedang tinggal di Bali.

“Waktu diberi tahu sama dokter kondisi Chelsea seperti itu, hati saya langsung campur aduk. Orang tua mana yang hatinya tidak hancur ketika tahu kondisi anaknya seperti itu,” terangnya.

Setelah melewati berbagai pertimbangan, Elsaday memutuskan untuk tetap menjaga Chelsea di dalam perutnya. Dia tidak ingin membuang karunia dari Tuhan.

“Dokter juga bilang, sebaiknya dipertahankan. Soalnya, waktu itu kondisi jantung dan kepalanya sehat. Jadi, salah jika diaborsi,” katanya.

Saat usia kandungan sudah 38 minggu, hari kelahiran Chelsea tiba. Sang ibu hanya bisa pasrah. Terlebih Chelsea tidak bisa dilahirkan lewat persalinan normal. Harus dengan operasi caesar.

Chelsea lahir dengan bobot 2,5 kilogram. Untuk berjaga-jaga, Chelsea langsung dirawat di ruang ICU bayi.

“Jadi saya bisa melihat anak saya, selisih empat hari setelah operasi. Kondisinya persis seperti yang diceritakan dokter ketika Chelsea masih di dalam kandungan,” kenangnya.

Kali pertama ibunya melihat, tangan mungil Chelsea terpasang infus. Kedua hidungnya disusupi selang oksigen. Di mulutnya, juga ada selang untuk jalan masuk nutrisi. Chelsea juga butuh perawatan insentif. Seperti suntik antibiotik yang harus dilakukan setiap hari.

“Saya hanya bisa pasrah melihat anak saya dalam kondisi seperti itu. Waktu itu, untuk menyusui Chelsea saja tidak bisa. ASI saya harus dipompa dulu, baru diberikan ke Chelsea,” bebernya.

Kondisi iti harus dialami selama sekitar satu bulan. Kedua orang tuanya tidak bisa menyentuh selama Chelsea dirawat di ICU bayi.

“Tapi kata dokter dan perawat di sana, satu bulan itu terhitung cepat. Katanya, kasus seperti Chelsea, bisa dirawat di ICU sampai tiga tahun,” timpal Carles.

Ketika Chelsea sudah diizinkan pulang, kondisinya belum fit betul. Elsaday bercerita, Chelsea masih tampak susah bergerak. Mengangkat kepala saja tampak kepayahan. Nafasnya sesak. Pendek-pendek.

Saat tidur, suara nafas Chelsea terdengar cukup keras. “Kalau dia tidur di kamar, suaranya bisa kedengeran sampai teras,” katanya.

Elsaday mengaku, selalu menitikkan air mata ketika melihat wajah polos Chelsea. “Tapi saya tahu, saya harus kuat. Saya sebagai ibu, harus bisa merawat Chelsea,” kenangnya.

Semangat Baru

Dalam kondisi psikologi seperti itu, Elsaday diberi satu anak lagi oleh Tuhan. Dia hamil lagi ketika Chelsea masih berumur 6 bulan.

“Waktu itu saya sempat trauma. Takut kalau anak kedua saya kondisinya sama dengan Chelsea,” katanya.

Ternyata tidak. Tuhan memang punya rencana memberikan satu anak lagi kepada Carles dan Elsaday. Kehadiran anak keduanya, Luiz Martyn Manullang justru membuat arti tersendiri bagi Chelsea.

Chelsea tampak lebih semangat ketika melihat adiknya. Dia sudah bisa mengangkat kepalanya untuk melihat adiknya. Bahkan bisa duduk meski masih tampak kesusahan.

“Setelah Luiz lahir, Chelsea bisa angkat kepala, beberapa waktu kemudian, bisa duduk. Sudah tidak lemas lagi. Jadi seperti ada gairahnya,” ungkap Elsaday.

Melihat anaknya punya gairah, semangat Elsaday mulai terbangun. Dari Bali, dia bertandang ke Kabupaten Semarang untuk mengikuti tes CPNS awal tahun 2019. Sementara Charles, coba menyambung hidup dengan menjadi juru parkir, tidak jauh dari tempat tinggalnya.

Sayang, Elsaday tidak lolos tes CPNS. Dia pun enggan mencari pekerjaan karena memilih merawat kedua anaknya. “Sebenarnya mau kerja untuk tambah penghasilan. Terutama untuk biaya pengobatan Chelsea,” katanya.

Dijelaskan, tulang bengkok Chelsea bisa disembuhkan. Asal, sebelum Chelsea menginjak usia lima tahun. Sebab jika tulangnya sudah mengeras, prosentase kesembuhannya menjadi sangat kecil.

“Di Indonesia memang belum ada yang bisa menangani kasus seperti Chelsea. Tapi di Cina sama Kanada, bisa. Tapi sangat mahal. Sekira Rp300 juta,” paparnya.

Jika dinalar, sangat mustahil bisa mendapatkan Rp300 juta dalam waktu tidak lebih dari dua tahun. Apalagi, satu-satunya pencari nafkah hanya kepala keluarga yang memeras keringat sebagai juru parkir. Untuk membayar kos-kosan Rp600 ribu per bulan dan kebutuhan sehari-hari saja sudah pas-pasan.

Meski begitu, Elsaday tidak mau terpuruk. Dia percaya Tuhan akan memberikan mukjizat. Dia pun coba mendaftar di situs kitabisa. Sebuah laman khusus penggalangan donasi.

Hingga saat ini, situs tersebut berhasil menggalang dana sekitar Rp300 juta dari 257 donatur. “Kami sangat berharap, ada yang membantu sampai mendapatkan Rp300 juta sebelum Chelsea berumur 5 tahun,” harapnya.

Kisah Chelsea dan perjuangan Elsaday dan Carles juga sempat viral di Facebook. Tapi Elsaday mengaku, belum pernah mendapatkan bantuan.

“Kemarin memang sudah ada beberapa datang ke sini untuk survei. Tapi belum sampai memberikan bantuan. Pemkab Semarang juga belum. Malah dari Rumah Pancasila ini yang terakhir survei, tapi memberikan bantuan paling awal,” ucapnya.

Rumah Pancasila dan Klinik Hukum sendiri telah memberikan bantuan secara bertahap kepada Chelsa dari kunjungan yang dilakukan Jumat (15/3/2019) dan Sabtu (16/3/2019).

Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Yosep Parera, juga datang ke rumah Chelsa, Sabtu sore selepas jadi moderator Seminar Nasional Kebangsaan di Universitas Semarang (USM) yang dihadiri Kapolda Jawa Tengah, Irjen Pol Condro Kirono, Prof. Muladi dan Prof. Mahfud M.D. Yosep memberikan seluruh fee-nya dari acara itu kepada Chelsea.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here