Foto: Adji Mahendra
Warga Desa Kesongo, Kecamatan Tuntang Kab. Semarang membuang sampah di keranjang sampah yang sudah dipilah yaitu keranjang sampang iso bosok dan keranjang sampah ora iso bosok.

SEMARANG – Warga Desa Kesongo, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang punya andil dalam merawat lingkungan. Masing-masing keluarga sudah sadar manajemen pembuangan sampah rumah tangga.

Sejak di dalam rumah warga Kesongo telah memilah sampah antara organik dan nonorganik di kantong yang berbeda. Kemudian setiap pagi, mereka memasukkan kantong-kantong tersebut ke keranjang yang sudah disiapkan di beberapa titik permukiman.

“Ini keranjangnya juga beda. Ada dua keranjang, keranjang iso bosok (bisa membusuk) dan keranjang ora iso bosok (tidak bisa membusuk,” kata Mareta, warga dusun Sejambu, Kesongo, Jumat (11/10/2019).

Istilah yang digunakan memang sangat sederhana dan mudah dipahami. Dan itu mempermudah masyarakat untuk turut serta dalam gerakan itu.

Meski begitu, Mareta mengatakan tidak semua sampah non-organik dibuang ke tempat sampah. “Kami berikan ke tetangga yang membuat kerajinan dari sampah plastik. Ada yang dibuat kostum, bunga, topi dan lain-lain,” katanya.

Sampah yang masuk keranjang, diangkut petugas desa ke Tempat Penampungan Sementara (TPS). Petugas ini juga melanjutkan pemisahan sampah. Yang organik langsung masuk ke bak pickup sementara yang non-organik dimasukkan ke keranjang plastik.

“Di TPS petugas tersebut kembali memilah, sampah yang bisa dimanfaatkan dikumpulkan sementara yang tidak bisa diangkut truk ke TPA,” ucap Kepala Desa Kesongo, Supriyadi

Uniknya apa yang dilakukan warga Kesongo tersebut bukan karena embel-embel isu bahaya sampah atau semacamnya. Mereka hanya ingin lingkungannya bersih dan sekadar membantu tetangga yang membuat kerajinan berbahan plastik.

“Mulanya hanya dilakukan satu orang yang membuat kerajinan itu. Dia membuat kerajinan dari plastik itupun karena mulanya jengkel got depan rumahnya banyak tersumbat sampah plastik. Akhirnya warga sini saling getok tular, saling memberi tahu kalau ada sampah plastik jangan dibuang tapi diberikan ke perajin plastik itu. Waktu itu memang belum ada pemilahan dua jenis keranjang sampah,” paparnya.

Foto: Adji Mahendra
Para Ibu Rumah Tangga menyulap sampah plastik menjadi kerajinan tangan bernilai jual.

Begitu desa membentuk satgas sampah yang dipimpin langsung oleh Babinsa setempat, lanjut Supriyadi, pengelolaan sampah di Kesongo semakin tertata. Dia merasa mesti melanjutkan apa yang telah dilakukan warganya itu dengan gerakan yang lebih besar.

“Kami bertekad kalau bisa desa ini tidak lagi mengirim sampah ke TPA. Semua harus bisa kami manfaatkan di sini. Makanya kami bercita-cita membuat Taman Pendidikan Pengelolaan Sampah. Selain taman, di sana juga ada Pendidikan Anak Usia Dini agar bisa menanamkan pengelolaan sampah dari dini. Master plan telah kami susun dengan tim KKN Undip,” katanya.

Total saat ini ada 200 kepala keluarga di Kesongo telah memiliki keranjang Iso Bosok dan keranjang Ora Iso Bosok. Supriyadi mengatakan sampai 2021 seluruh warganya yang mencapai 2800 kepala keluarga itu bakal memiliki dua keranjang tersebut di depan rumahnya.

“Yang bisa membuat gerakan ini hanya punya sedikit hambatan adalah karena ini gerakan nonkomersial dan swadaya. Jadi PR kami di pemerintah desa adalah membuat manfaat lebih besar dari sampah yang dikumpulkan oleh masyarakat,” tandasnya.

Keuletan masyarakat Kesongo dalam mentelola sampah ini menjadi alasan utama dipilihnya desa yang terletak di antara gunung Ungaran dan Telomoyo itu sebagai tuan rumah Kongres Sampah pada 12-13 Oktober 2019 besok. (ajie mahendra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here