FOTO DOKUMENTASI WARGA
Warga RT06/RWI Kampung Karangpanas, Kelurahan Jatingaleh, Kecamatan Candisari, Kota Semarang, saat mengumpulkan aneka barang bekas rumah tangga di kampung mereka.

SEMARANG – Barang bekas jika tak dikelola dengan baik akan mengganggu lingkungan. Tapi jika dikelola dengan baik, aneka barang bekas bisa bernilai ekonomi. Lingkungan menjadi bersih sekaligus bisa dapat uang.

Seperti dilakukan warga RT 6 Kampung Karangpanas, Kelurahan Jatingaleh, Kecamatan Candisari, Kota Semarang. Warga di sana terbiasa mengumpulkan barang bekas rumah tangga untuk dijual ke pengepul.

“Hasil penjualan jadi dana usaha RT kami,” ungkap Ketua RT setempat, Agus Kurnianto, saat ditemui rumpan.id di rumahnya, Senin (27/8/2019) malam.

Agus mengemukakan, aktivitas mengumpulkan barang bekas di kampung itu diinisiasi salah satu warga. Karena positif, aktivitas itu kemudian diangkat menjadi salah satu program kerja lingkungan setempat.  

“Kami namai bank rongsok,” lanjutnya.  

Kegiatan itu, Agus bersama beberapa temannya membeli barang-barang bekas dari warganya. Setelah terkumpul, barang akan dijual ke pengepulnya.

Aneka barang bekas itu di antaranya; kompor gas yang rusak, sisa ranjang besi, kardus, kertas dan botol-botol plastik sisa produk. Aneka barang rongsok itu dijual per kg ke pengepulnya. Hasilnya rata-rata Rp200ribu sampai Rp300ribu. Uang itulah yang kemudian jadi kas RT setempat.

“Acara 17-an (peringatan HUT Kemerdekaan RI) kemarin, sebagian uangnya juga disubsidi dari bank rongsok,” lanjutnya.  

Agus menyebut, adanya bank rongsok juga sebagai bentuk gotong royong warga untuk menjaga lingkungan. Aneka barang bekas itu jika dibuang sembarangan tentu akan mengotori lingkungan, membuat kampung terlihat kumuh.  

“Ini juga sebagai bentuk kepedulian masyarakat akan lingkungannya. Bank rongsok yang dijalankan warga dapat mengurangi jumlah sampah barang bekas rumah tangga hampir 70 persen,” sambung Agus.

Sementara itu, salah satu warga Jefri Parera, menilai aktivitas itu tentu sangat positif. Jefri juga terbiasa berbaur dengan warga setempat untuk mengumpulkan barang bekas rumah tangga.

“Kampung jadi tidak monoton, bisa untuk kegiatan bapak-bapak di lingkungan sini,” kata Jefri yang merupakan pendatang dari Nusa Tenggara Timur (NTT) ini.

Jefri yang berprofesi sebagai musisi ini berharap kegiatan bank rongsok di kampungnya bisa menginspirasi warga lain di sekitar tempat tinggalnya.  

“Kami sampai dapat bantuan gerobak sampah dari gereja. Artinya, kepedulian kami akan lingkungan juga memberikan inspirasi bagi lainnya. Harapannya akan lebih banyak lagi (gerakan serupa),” tutupnya. (sutrisno)  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here