PATI – Pembangunan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya pada hakikatnya adalah bagian integral dari pembangunan nasional yang berkelanjutan sebagai pengamalan Pancasila.

Itu adalah pertimbangan pada huruf b Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Tentunya, sebagai warga negara Indonesia harus taat hukum. Mengingat Indonesia adalah negara hukum. Ada berbagai regulasi yang mengatur cara hidup di Indonesia, termasuk untuk merawat ekosistem, termasuk di dalamnya tentang perlindungan terhadap flora dan fauna tertentu.

Berdasar regulasi itu pula, disebutkan seperti pada pertimbangan huruf a, bahwa sumber daya alam hayati Indonesia dan ekosistemnya yang mempunyai kedudukan serta peranan penting bagi kehidupan adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa, oleh karena itu perlu dikelola dan dimanfaatkan secara lestari, selaras dan seimbang bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia pada khususnya dan umat manusia pada umumnya, baik masa kini maupun masa depan.

Sebab telah diturunkan menjadi hukum positif dari Pancasila, maka ada sanksi hukum bagi pelanggarnya.

Seperti yang dilakukan oleh Polres Pati. Pada Selasa (19/2/2019) siang, jajaran Reserse Mobil (Resmob) Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) setempat, mengungkap pelaku penjualan gading gajah. Gajah merupakan salah satu satwa yang dilindungi berdasarkan regulasi di Indonesia.

Kepala Polres Pati, AKBP Jon Wesly Arianto, menjelaskan, penangkapan ini dilakukan sekira pukul 13.00 WIB. Tempat Kejadian Perkara (TKP) ada di 2 lokasi, yakni di SPBU Desa Gabus, Kecamatan Gabus Kabupaten Pati dan di rumah tersangka NH,41, yang lokasinya di Desa Jontro RT03/RW01, Kecamatan Wedarijaksa, Kabupaten Pati.

Jon menyebutkan penangkapan bermula dari informasi awal yang masuk Polres Pati tentang adanya penjualan gading gajah di wilayah hukumnya. Itu sekira 3 jam sebelum penangkapan.

“Informasi awal langsung ditindaklanjuti dengan penyelidikan,” kata Jon melalui siaran pers yang diterima rumpan.id, Rabu.

Penyelidikan membuahkan hasil. Polisi mengendus adanya transaksi gading gajah yang akan dilakukan 2 orang. Bergerak cepat, polisi bisa mengamankan SG,37 dan SL,45, keduanya warga Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, yang membawa 3 buah gading gajah. Masing-masing ukurannya; panjang 50 cm diameter 4cm, panjang 50 cm dan diameter 4,5cm dan panjang 28 cm diameter 2,5cm. Mereka ditangkap di sekitaran SPBU Gabus itu, sedang mencari pembeli.

Saat diinterogasi, ternyata aneka gading gajah itu milik NH. Mereka hanya diminta menjualkan saja, mencarikan pembeli.

“Kami kembangkan dan berhasil mengamankan NH di rumahnya,” lanjut Jon Wesly.

Di rumah NH, polisi mendapati barang bukti lain yaitu 14 pipa rokok dari gading gajah. Ukuranya variatif, dari paling pendek 5 cm sampai paling panjang 14,5cm.

Ketiganya, baik SG, SL, NH, maupun aneka gading gajah itu sebagai barang bukti, kemudian dibawa ke Markas Polres Pati untuk diproses lebih lanjut. Dua orang yang disebutkan pertama yakni SG dan SL itu jadi saksi. Polisi masih mengembangkan temuan ini, termasuk mencari tahu asal muasal gading itu.Tindakan seperti itu, sebut Jon, melanggar Pasal 40 ayat (2) juncto Pasal 21 ayat (2) huruf d Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Bunyinya; tindak pidana dengan sengaja memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia.

Perihal asal gading gajah yang dimiliki oleh pelaku, Polres Pati melalui Kepala Sub Bagian Hubungan Masyarakat, AKP Agung, mengaku belum bisa memastikan.

“Masih kami selidiki,” terang Agung pada rumpan.id via pesan WhatsApp, Rabu sore.

Tindakan seperti itu, sebut Jon, melanggar Pasal 40 ayat (2) juncto Pasal 21 ayat (2) huruf d Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Bunyinya; tindak pidana dengan sengaja memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia.

Perihal asal gading gajah yang dimiliki oleh pelaku, Polres Pati melalui Kepala Sub Bagian Hubungan Masyarakat, IPTu Agung Suharyono, mengaku belum bisa memastikan.

“Masih kami selidiki,” terang Agung pada rumpan.id via pesan WhatsApp, Rabu sore.

Pasar Gelap

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jawa Tengah, Suharman, mengaku terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mengungkap secara tuntas kasus penjualan gading gajah di Kabupaten Pati tersebut.
Koordinasi di antaranya dengan kepolisian maupun Wildlife Conversation Society (WSC).

Ketika ditanya terkait masih adanya penjualan gading gajah di Indonesia, Suharman mengatakan, motif ekonomi biasanya digunakan para pelaku sebagai dasar untuk melakukan perburuan itu.

“Karena langka harga di pasar gelapnya tinggi,” kata Suharman via WhatsApp kepada rumpan.id, Rabu, sore.

Dia juga mengatakan kemudahan dalam pemasaran melalui media sosial dan toko-toko online juga menjadi salah satu faktor makin meningkatnya perburuan liar gading gajah di Indonesia.

“Sebenarnya pembinaan sudah dan terus kami lakukan kepada masyarakat berkaitan dengan hal ini,” lanjut Suharman.

Penelusuran rumpan.id di media sosial pada Kamis (21/2/2019), memang masih terdapat berbagai situs jual beli yang menjual gading gajah. Dari salah satu situs, tertera untuk pipa rokok berbahan gading gajah ukuran 5 sampai 10 cm harganya ditawarkan dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Harga tertinggi ada yang dipatok hingga Rp30juta untuk satu pipa rokok berbahan gading gajah.

Lebih lanjut, Suharman tentunya mengapresiasi warga maupun aktivis lingkungan yang sudah mau membantu BKSDA dan maupun kepolisian dalam upaya penyelamatan tanaman dan satwa yang langka (TSL). Baik yang melakukan pelaporan jika mengetahui adanya tindak pidana penjualan TSL, maupun yang turut berperan aktif dalam sosialisai TSL yang dilindungi.

“Sekarang beberapa aktivis lingkungan atau penyayang TSL juga aktif baik sosialisasi maupun membantu teman-teman Polri dan Gakum,” terangnya. (Sutrisno)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here