Koordinator Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA), Tedi Kholiludin ketika memaparkan faktor-faktor masuknya paham radikalisme di kalaangan anak muda saat menjadi pembicara dalam konferensi bertema ‘Merawat Kebinekaan Melalui Kebebasan Beragama’ di IFGF Semarang, Senin (18/11/2019).

SEMARANG – Anak-anak muda yang sedang memelajari agama, tapi tidak punya dasar akhlak kuat, dinilai rentan terpapar paham radikalisme. Tak hanya itu, semangat perlawanan terhadap penindasan yang dimiliki anak-anak muda, juga jadi alasan kuat.

Hal tersebut dikatakan Koordinator Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA), Tedi Kholiludin dalam konferensi bertema ‘Merawat Kebinekaan Melalui Kebebasan Beragama’ di IFGF Semarang, Senin (18/11/2019).

Dikatakan, ada beberapa alasan mengapa anak muda saat ini lebih muda terpapar radikalisme. Yang paling tidak disangka, yakni adanya semangat perlawanan terhadap penindasan.

“Kemudian adanya keinginan untuk dapat eksis dalam sebuah lingkungan sosial. Ada juga soal semangat belajar agama. Namun tidak secara mendalam,” ucapnya.

Selain itu, seangat memelajari agama juga menjadi salah faktor lain yang menjadi pintu masuk paham radikalisme. Paham radikalisme akan mudah masuk jika mereka tidak mempelajari agama secara mendalam.

“Sehingga berpotensi besar untuk terpapar radikalisme. Misal seperti ini, bagi anak muda saat mereka terlibat dalam gerakan penolakan rumah ibadah, itu menarik bagi mereka. Ya contoh besarnya kalau misal mereka mau melakukan bom bunuh diri,” tandasnya.

Pihaknya pun mengimbau kepada banyak anak muda agar dapat belajar agama secara mendalam. Dia juga mengingatkan bahwa tidak semua kegiatan keagaman selalu berkaitan dengan agama.

“Banyak agenda dan kepentingan yang saat ini sudah masuk dalam agenda keagamaan. Ini yang harus diteliti, agar anak muda tidak mudah terseret ke dalam radikalisme,” bebernya.

Sementara itu, koordinator acara, Boas Panggabean, mengatakan bahwa kegiatan ini dilaksanakan untuk memberikan pemahaman kepada umat beragama minoritas agar tidak mudah tersulut amarah pada aksi persekusi yang marak terjadi.

Menurutnya, sebagai anak bangsa Indonesia, haruslah dapat menjadi agen dalam merawat Kebhinekaan di NKRI ini. “Kita harus mengubah diri. Kita harus menjadi agen dalam merawat kebhinekaan ini. Kita tidak bisa melakukan pembalasan karena itu akan jadi sama saja,” tegasnya.

Dia meminta kepada segenap umat beragama agar dapat menggunakan hak hukumnya sebagai warga negara Indonesia.

“Kita ikuti aturan hukumnya. Tidak bisa lantas melakukan tindakan tanpa dasar hukum yang tidak kuat. Maka itu, kami imbau kepada umat beragama minoritas agar mau menggunakan hak hukumnya sebagai warga negara,” harapnya. (ajie mahendra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here