Jaga NKRI: Densus Tangkap Adik Ipar Dulmatin Saat Hendak Terbang ke Iran

    0
    109

    *Residivis Terorisme

    JAKARTA – Petugas Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menangkap Hari Kuncoro (41) saat akan bepergian ke luar negeri melalui Bandara Internasional Soekarno – Hatta, Tangerang, Provinsi Banten.

    Tersangka yang merupakan warga Klaten adalah adik ipar Dulmatin, warga Pemalang yang jadi salah satu gembong Bom Bali I, sekaligus sempat jadi buronan Filipina, Amerika Serikat dan Australia. Dulmatin sendiri tewas pada sebuah penggerebekan di Pamulang, Tangerang Selatan, Banten pada 9 Maret 2010.

    Tersangka ditangkap saat akan terbang ke Iran menggunakan pesawat Oman Air pada Kamis 3 Januari 2019. Ketika ditangkap tersangka ini menggunakan identitas palsu dengan nama Wahyu Nugroho. Penangkapan dibantu petugas imigrasi bandara setempat.

    “Setelah ditangkap kemudian dilakukan pemeriksaan dan ditahan mulai 23 Januari 2019 di Lapas Gunung Sindur,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Div Humas Mabes Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo melalui siaran pers yang diterima rumpan.id, Senin (11/2/2019).

    Tersangka ini diduga hendak bergabung ISIS di Suriah via Iran. Dia akan menunggu instruksi selanjutnya dari jaringan besar yang ada di Suriah.

    Terkait identitas, selain punya nama palsu Wahyu Nugroho, tersangka juga punya nama panggilan Uceng. Nama Wahyu Nugroho itu tertera di KTP dan paspor yang datanya dipalsukan.  Tersangka Hari Kuncoro ini punya alamat tinggal di Jalan Sersan Sadikin 45 RT001/RW007, Kelurahan Gergunung, Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. 

    Dedi mengemukakan, berdasar pemeriksaan petugas, tersangka Hari Kuncoro ini memasukkan data palsu ke dalam dokumen resmi atau akta autentik KTP untuk membuat paspor yang akan digunakan untuk pergi ke luar negeri. Dia diduga kuat akan bergabung dengan kelompok terorisme di luar negeri.

    Tersangka ini mengetahui dan terlibat dalam rencana aksi terorisme yang dilakukan oleh kelompok Jemaah Anshorut Daulah (JAD) Yogyakarta sekira bulan Juli tahun 2018. 

    Dia juga menerima dana dari anggota kelompok teroris internasional ISIS di Suriah. Pengirimnya bernama M. Syaifudin alias Abu Walid yang saat ini dikabarkan sudah tewas dalam konflik di Suriah. Abu Walid dikenal sebagai eksekutor alias algojo ISIS yang kerap mengeksekusi tawanan dengan sadis, lalu videonya disebar sebagai ajang propaganda.

    Diketahui, sekitar tahun 2015, ketika masih ditahan di Lapas Pasir Putih Nusakambangan, Hari berkomunikasi dengan Abu Walid yang posisinya sudah di Suriah bergabung ISIS. Ketika itu, Hari divonis 6 tahun penjara di PN Jakarta Barat pada 15 Maret 2012, sebabnya dia menyembunyikan Dulmatin serta terlibat dalam distribusi senjata dan amunisi untuk kelompok Dulmatin di wilayah Jateng. Pada Maret 2016 dia bebas murni dari Lapas Pasir Putih Nusakambangan, Cilacap. 

    Tersangka ini juga berkomunikasi sejak tahun 2015 dengan DPO terorisme Bahrunnaim.

    “Tersangka dijerat pasal berlapis,” lanjutnya.

    Pasal-pasal yang menjerat tersangka ini, mulai dari Pasal 12 a ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Perubahan Perppu nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, yakni bermaksud melakukan tindak pidana terorisme di wilayah NKRI atau negara lain, merencanakan, menggerakkan atau mengorganisasikan tindak pidana terorisme dengan orang lain yang berada di dalam negeri dan atau di luar negeri atau negara asing. 

    Tersangka dijerat Pasal 15 juncto Pasal 7 UU Nomor 15 Tahun 2003  tentang Perubahan Perppu Nomor 1 Tahun 2002, yaitu bermaksud melakukan pemufakatan jahat, persiapan, percobaan atau pembantuan untuk menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan bermaksud menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa atau harta benda orang lain atau menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional. 

    Tersangka juga dijerat Pasal 13 huruf c Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Perubahan Perppu Nomor 1 Tahun 2002, yaitu dengan sengaja memberikan bantuan dan kemudahan dengan cara menyembunyikan informasi tentang tindak pidana terorisme. 

    Selain itu, tersangka dijerat Pasal 263 KUHP yakni membuat surat palsu atau memalsukan surat yang dapat menimbulkan sesuatu hak, perikatan atau pembebasan hutang atau yang diperuntukkan sebagai bukti daripada sesuatu hal dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai surat tersebut seolah-olah isinya benar dan tidak palsu.  (eka setiawan)

    Urus Paspor Hingga Rencana Hijrah

    Informasi yang dihimpun, Hari Kuncoro ini lahir di Klaten pada 27 Januari 1977. Nama panggilannya Uceng sementara nama yang tertera di KTP palsu adalah Wahyu Nugroho.

    Dia sempat bergabung ke kelompok Taliban Melayu pimpinan Bagus pada tahun 2011. Dia juga menerima dana dari kelompok Bima melalui seorang napi terorisme bernama Abrory Maskadov dan membeli senjata api senilai Rp25juta pada tahun 2011.

    Saat ditangkap pada 3 Januari 2019 itu, Hari menggunakan paspor asli tapi palsu (nomor paspor C1472753), dokumen paspor asli tapi identitasnya palsu. Identitas yang tertera bernama Wahyu Nugroho kelahiran Karanganyar 11 Januari 1985, alamat Jalan Sersan Sadikin 45 RT01/RW07, Kelurahan Gergunung, Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. 

    Hari membuat paspor dibantu jaringannya sekira bulan September 2018, berkomunikasi melalui aplikasi Telegram. Dia datang ke Kantor Imigrasi Tanjung Priok sekira akhir September 2018 menyerahkan data/identitas palsu; KTP sementara atas nama Wahyu Nugroho, KK palsu dengan nama kepala keluarga Wahyu Nugroho dan BAP kehilangan paspor atas nama Wahyu Nurgoho. Untuk keperluan membuat paspor, Hari membayar Rp2,5juta. 

    Sekitar tahun 2015, ketika masih ditahan di Lapas Pasir Putih Nusakambangan, Hari berkomunikasi dengan Abu Walid yang posisinya sudah di Suriah bergabung ISIS. Ketika itu, Hari divonis 6 tahun penjara di PN Jakarta Barat pada 15 Maret 2012, sebabnya dia menyembunyikan Dulmatin serta terlibat dalam distribusi senjata dan amunisi untuk kelompok Dulmatin di wilayah Jateng. Pada Maret 2016 dia bebas murrni dari Lapas Pasir Putih Nusakambangan, Cilacap. 

    Saat berkomunikasi dengan Abu Walid untuk rencana hijrah ke Suriah itu, Hari memang punya motivasi bergabung kelompok Abu Walid di Suriah.  Dia menerima dana dari Abu Walid Rp30juta untuk keperluan berangkat ke Suriah. 

    Setelah dapat paspor, Hari sempat melapor ke Abu Walid via Telegram, dan oleh Abu Walid diberikan sejumlah dana untuk biaya perjalanan ke Suriah.  Dia mendapat arahan dari Abu Walid jika jalur ke Suriah yang terbuka adalah melalui Khurasan, Iran.

    Abu Walid sempat memberikan kontak Telegram jaringannya di Indonesia yang berada di Khurasan yakni Abu Yahya.  Pertengahan Desember 2018, Abu Yahya menghubungi Hari melalui Telegram, meminta email dan foto paspornya. Selanjutnya mereka berkomunikasi via TamTam Messenger.

    Karena itulah Hari menurut untuk terbang ke Iran sebelum akhirnya kembali ditangkap Densus 88 itu. Hari memperoleh tiket pesawat Jakarta (Soetta) – Iran (Teheran) via online.

    Di Balik Jeruji

    Hari Kuncoro sekira tahun 2015 saat ditahan di Nusakambangan, mendengar berita dari Zam Zam, jaringan teror kelompok JAT, tentang pernikahan anak perempuannya dengan Umar (anak Imam Samudra).

    Hari kemudian dikenalkan Zamzam kepada Umar. Umar ini lalu mengenalkan Hari Kuncoro kepada Bahrunnaim (yang sudah bergabung ISIS di Suriah, jadi salah satu petinggi ISIS di sana untuk kelompok dari Indonesia dan sekitarnya). Hari dan Bahrunnaim sempat berkomunikasi via Telegram.

    Isinya; Bahrun Naim memberikan motivasi kepada Hari Kuncoro untuk hijrah ke Suriah menyusulnya. Hari kemudian meminta Bahrunnaim untuk membelikan handphone yang bisa digunakan di Lapas Pasir Putih Nusakambangan sebab jenis itu hanya tersedia di luar negeri. Bahrun Naim juga memberikan file tutorial pembuatan blog melalui channel Bahrunnaimbot.

    Adapun saat ditangkap kali ini oleh Densus 88 Antiteror, Hari dijerat beberapa pasal. Tindak pidananya mulai dari merencanakan bergabung dengan kelompok Daulah di Iran, yang berafiliasi dengan ISIS. Merencanakan ‘hijrah” dengan memalsu identitas paspor. Melakukan komunikasi dengan Nadhiroh Nuraini terkait pemberangkatan ke Syam (Suriah) dan juga mengatur perjalanan untuk bisa lolos dalam pemeriksaan dokumen.

    Tersangka Hari Kuncoro juga merekomendasikan Ustaz Sibgoh kepada Sutrisno untuk mengisi kajian di kelompok JAD Yogyakarta. Kaitannya merekomendasikan Ustaz Sibgoh (yang akhirnya ditangkap lebih dulu), dimaksudkan untuk meyakinkan Syaifullah dan kawan-kawan untuk melakukan amaliah (teror) dan berjihad.

    Tersangka juga menyembinyikan informasi kelompok JAD Yogyakarta yang akan melakukan amaliah sekaligus persiapan akan hijrah ke Syam (Suriah) dan Filipina. 

    Setelah bebas dari vonis yang pertama itu, Hari ini pernah mengikuti kajian di Gonilan Kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta dengan pemberi materi Abu Husna. Selain itu juga mengikuti kajian di kawasan Pogung Yogyakarta dengan pemberi materi Sibgotullah (Sibgoh – tertangkap) bersama ikhwan Yogyakarta.

    Tewas Karena Serpihan Peluru Tank

    Salah satu orang yang berperan besar berkomunikasi dengan Hari Kuncoro saat mendekam di Lapas di Nusakambangan adalah Abu Walid.

    Abu Walid ini punya nama asli Muhammad Syaifudin alias Muhammad Yusuf Karim Faiz, lahir di Sukoharjo 11 Oktober 1978 alamat di Dukuh Tempursari, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten. Dia punya 3 saudara kandung. 

    Abu Walid adalah alumnus Ponpes Al Mukmin Ngruki Sukoharjo yang didirikan Abu Bakar Ba’asyir. Dia belajar selama 4 tahun tapi tidak lulus sampai Khuliaffatul Mu’alimin atau setara SMA. Sekolahnya dilanjutkan di Jatibarang, Purwokerto, Jawa Tengah. 

    Saat konflik Ambon meletus, Abu Walid dikabarkan ikut berjihad di sana, bahkan saudara kembarnya yakni Muhammad Nurrudin tewas di konflik itu.

    Setelah berjihad di Ambon, Abu Walid melanjutkan sekolah di Universitas Ibnu Saud, Riyadh, Arab Saudi. 

    Pada awal dekade 2000-an, Abu Walid terlibat dalam jaringan Jamaah Islamiyah. Dia amat dekat dengan Noordin M Top. Dia menjadi penyalur uang dari Timur Tengah kepada Noordin M. Top. Tidak hanya itu dia pun sering bolak-balik ke Filipina Selatan untuk menjalin kontak dengan Dulmatin.

    Pada 2004, Abu Walid ditangkap pemerintah Filipina karena kedapatan tidak memiliki dokumen, serta membawa pistol dan bahan peledak. Setelah 9 tahun mendekam di penjara, pada 10 Desember 2013 pengadilan Filipina membebaskannya dan memulangkannya kembali ke Indonesia.

    Setelah bebas, ia menikah dengan Rina, janda dari Urwah salah satu tokoh teror, dan mereka menghilang tanpa kabar.

    Abu Walid kembali jadi sorotan aparat keamanan setelah muncul dalam video propaganda ISIS. Dalam video itu, ia hanya jadi cameo dan tak diberi peran menyembelih orang.

    Namun demikian, peran Abu Walid tentunya sangat penting sebagai salah satu alat propaganda ISIS. Terlebih ia disosokkan sebagai seorang algojo ISIS, yang memiliki pengaruh dan peran yang besar.

    Kabar terakhir di bulan Januari 2019, Abu Walid tewas terkena serpihan tank di Suriah.

    Rekrutan Bahunna’im

    Seorang lagi yang punya peran besar dalam radikalnya Hari Kuncoro adalah Bahruna’im. Nama lengkapnya Muhammad Bahurnna’im Anggih Tamtomo, lahir di Pekalongan 6 September 1983. Alamatnya di Jalan S. Indragiri 57 RT1/RW1, Sangkrah, Pasar Kliwon, Kota Surakarta, Jawa Tengah. 

    Bahrunna’im pada 9 November 2010 ditangkap Densus 88 Antiteror Polri terkait kepemilikan 533 butir peluru laras panjang kaliber 7,62mm dan 31 butir peluru kaliber 9mm. Peluru tersebut diakui merupakan titipan dari Purnama Putra alias Ipung alias Usamah alias Tikus alias Rizky, yang merupakan jaringan gembong teroris Noordin M. Top. Atas kasus itu, Bahruna’im divonis 2 tahun penjara oleh PN Surakarta. 

    Dalam perjalanannya, Bahrunna’im akhirnya hijrah ke Suriah bergabung kelompok teroris ISIS di sana. Dia bergabung bersama orang-orang dari berbagai negara.

    Meski berada di sana, komunikasi dengan jaringan terorisme di Indonesia (yang terafiliasi dengan ISIS) masih intens. Bahkan namanya kerap jadi sorotan karena diduga kuat merupakan dalang di balik serangkaian aksi teror yang terjadi di Indonesia.

    Beberapa kejadian teror yang melibatkan Bahrunna’im, terinci; rencana serangan oleh kelompok Ibadurrohman, Solo pada Agustus 2015. Serangan Teror di Jalan M.H Thamrin Jakarta Pusat pada 14 Januari 2016, bom bunuh diri di Mapolresta Surakarta pada 5 Juli 2016 oleh Nurrohman, rencana serangan kelompok Katibah Gonggong Rebus (Batam, Kepulauan Riau) ke Singapura, pada Agustus 2016, hingga rencana serangan bom di Istana Negara oleh kelompok Dian Yulia Novi (warga Cirebon) pada Desember 2016. (eka setiawan) 

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here