FOTO RUMPAN.ID AJIE MAHENDRA
Wartawan Rumpan.id Eka Setiawan (kanan) ketika menemui Rasilu (tengah) di Rutan Kelas IIA Ambon pada Rabu (6/3/2019). Sebelah kiri (kaus putih) adalah Rahim, warga lokal yang membantu mengantarkan kami ke sana.

AMBON – Mendapat informasi tentang Rasilu, seorang tukang becak yang jadi pesakitan di penjara karena terlibat kecelakaan lalu lintas (lakalantas) ketika hendak mengantar penumpang yang sakit di Kota Ambon, membuat hati kami tergerak ingin membantu.

Sebab, dari informasi awal yang kami baca dari berbagai berita, insiden lakalantas yang akhirnya menyebabkan salah satu penumpang Rasilu meninggal dunia, disebabkan becak sempat diserempet mobil. Mobil itu kabur, tak tahu rimbanya.

Tim dari Rumah Pancasila dan Klinik Hukum sekaligus wartawan Rumpan.id, saya dan rekan Aji Mahendra diamanatkan untuk terbang ke Ambon. Mencari fakta-fakta insiden itu.

Setelah berganti-ganti pesawat, Tim Rumah Pancasila dan Klinik Hukum di Semarang akhirnya sampai juga di Kota Ambon, Provinsi Maluku, Selasa (5/3/2019) pukul 15.00 WIT.

Penerbangan dari Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang transit di Bandara Internasional Juanda Surabaya, Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar sebelum sampai di Bandara Internasional Pattimura Ambon.

Begitu mendarat di Ambon, dibantu warga lokal bernama Rahim (45) yang menawarkan tumpangan, kami langsung menelusuri jalanan Kota Ambon. Mencari serpihan fakta demi fakta tentang insiden yang menimpa Rasilu.

Pangkalan becak, warga perantau, tukang ojek, sopir angkot, kami telusuri.

Malam itu, tim berhasil bertemu dengan rekan Rasilu, namanya La Lani, seorang tukang becak, yang ternyata satu kontrakan di Kawasan Soabali Ambon, sama-sama perantau dari Buton.

La Lani mengatakan, insiden yang menimpa Rasilu membuat dirinya dan teman-temannya sesama tukang becak prihatin.

“Kami sempat membesuk ke sana,” kata La Lani.

Tim juga bertemu dengan rekan Rasilu lainnya, namanya Kasim, yang juga sama-sama tukang becak, satu pangkalan di daerah Silale.

“Kejadiannya Minggu malam, saat itu hujan. Penumpangnya di sini (belakang gapura) rumah, Rasilu ambil ke sana penumpangnya mau antar ke rumah sakit,” kata Kasim.

Tim juga menelusuri TKP lakalantas yang menimpa Rasilu saat mengangkut penumpang. Lokasinya jalan di depan Masjid Jami Al Fatah Kota Ambon, jalannya menurun dan memang kendaraan bermotor di sana melaju kencang-kencang.

Di situ juga ada pertigaan arah Jalan Baru Ambon, merupakan jalan tembus ke RST TKII dr. J.A. Latumeten, rumah sakit tempat Rasilu akan mengantarkan penumpangnya yang menderita sakit.

Tim bertemu saksi mata yang melihat kejadian itu. Ada dua orang yang ditemui, satu tukang ojek bernama Abdurrahman satu lagi tukang becak bernama Abdul Kadir. Mereka juga yang sempat menolong Rasilu maupun penumpangnya ketika kecelakaan terjadi.

Mereka mengatakan saat kejadian ada sebuah mobil yang melaju kencang, menyerempet becak yang dikemudikan Rasilu, tapi masih bisa dihindari dengan banting stir ke kiri, tapi malah oleng dan jatuh.

“Saya sedang di sini (mangkal becak) lihat, dia bawa dua penumpang. Waktu di jalanan itu, penumpang minta lewat jalan baru itu, pas jalanan menurun, dari samping ada mobil, becaknya terbalik,” beber Abdul Kadir.

Melihat kejadian itu, dia langsung menolong. Dia menceritakan, Rasilu memakai 2 kaus, satu dicopotnya untuk mengikat tangan Rasilu yang terkilir.

Sementara Abdurrahman juga menolong. Dia membopong penumpang Rasilu yang luka. Tak lama, baik penumpang maupun Rasilu di antarakan ke RST itu. Namun, tak lama si penumpang yang belakangan diketahui bernama Maryam itu meninggal dunia.

Warga lokal yang mengantar kami, Rahim, sangat antusias dengan misi kemanusiaan Rumah Pancasila dan Klinik Hukum di Kota Ambon itu.

Bahkan, dia menggratiskan 1 hari mobilnya dengan diskon pula tentunya. Itu, kata dia, adalah caranya ikut andil saling bantu kemanusiaan.

“Katorang Basudara! Semua bersaudara, harus saling tolong,” pekik Rahim.

Kepala Rutan Kelas IIA Ambon, Irhamuddin

Dari Rutan

Esok harinya, tim juga akhirnya bisa temui Rasilu di Rumah Tahanan Negara Kelas IIA Ambon. Haru biru terjadi di pertemuan itu. Bahkan, Rahim yang garang, menangis juga mendengar Rasilu menceritakan kisahnya. 

Pihak rutan setempat sangat koordinatif dengan kedatangan kami. Kepala Rutan Kelas IIA Ambon, Irhamuddin dan Kepala Pengamanan Rutan Kelas IIA Ambon Salmon Lahulete, sangat ramah menyambut kami. Semua data diberikan terperinci dan membuka ruang seluas-luasnya untuk kami.

Kepala Rutan Kelas IIA Ambon, Irhamuddin, menjelaskan Rasilu sudah merupakan narapidana di tempatnya dengan vonis 1 tahun 6 bulan. Rasilu sudah menjalani 6 bulan, jadi tinggal 1 tahun lagi menjalani.

“Namun setelah beliau di sini, beilau banyak kegiatan memang ya untuk menghilangkan rasa rindu lah. Banyak kegiatan dilakukan, seperti berkebun saya sering lihat beliau berkebun, beliau juga sering melakukan anyaman tali (membuat kerajinan) yang biasa dibuat seperti tas segala macam, untuk mengisi hari-harinya di sini dan itu yang beliau lakukan di rutan,” jelas Irhamuddin.

Dia melanjutkan, saat masa penahanan pun pihak rutan sudah memfasilitasi Rasilu. Sebab dikategorikan sebagai orang yang tidak mampu, pihak rutan memberikan layanan bantuan hukumnya.

“Dan yang sekarang ini yang dilakukan adalah kita melihat nanti, karena tingkah laku beliau bagus, insya Allah nanti pada saat remisi keagamaan (Idul Fitri, karena Rasilu seorang Muslim) beliau dapat remisi, 17-an (Hari Kemerdekaan RI) juga kita harapkan bisa didapatkan, sehingga untuk pembinaan progam lanjutan seperti pembebasan bersyarat bisa beliau dapatkan, sehingga bisa cepat keluar dari rutan ini, sehingga bisa cepat berkumpul lagi dengan keluarga. Kita harapkan seperti itu,” lanjutnya.

Rasilu, tukang becak yang jadi terpidana 1 tahun 6 bulan karena insiden kecelakaan lalu lintas ketika ditemui di Rutan Kelas II A Ambon, Rabu (6/3/2019)

Bayar Obat

Sementara itu, Rasilu saat diwawancarai di dalam rutan, mengingat insiden kecelakaan lalu lintas terjadi pada 23 Oktober 2018 di depan Masjid Al Fatah Ambon. Insiden terjadi sekira pukul 19.30 WIT, saat itu hari hujan.

Penumpang adalah Maryam dan Novi, meminta tolong diantarkan ke rumah sakit karena Maryam mengidap penyakit asma. Dari pangkalan becaknya di daerah Silale, Rasilu menuju RST Latumeten. 

Saat hendak sampai di bundaran Masjid Al Fatah, penumpang minta lewat ke jalan baru, ingin memotong jalan agar cepat sampai RST. Rasilu mengiyakan. Namun saat itu jalanan ramai, ada sebuah motor, Rasilu belum bisa berbelok, terus jalan untuk bersiap berbelok.  Saat hendak berbelok itulah sebuah mobil datang melaju dengan cepat.

“Saya kaget dengan mobil itu, serempet begini, menghindar mobil, itu becak terbalik. Saya menghindar ke kiri jatuh ke kanan. Penumpang dua orang,” jelas Rasilu.

Setelah jatuh itu, Rasilu mengatakan penumpang masih ada dalam becak. Dia sudah tidak bisa jalan lagi, tertimpa becak, tangan juga sakit. Lalu ada saksi yang melihat bergegas menolong.

“Dia panggil dia punya becak, saya bilang antarkan ini ke rumah sakit (penumpang). Saya langsung berdiri jalan pelan-pelan berdiri di dekat pangkalan ojek itu, saya kaget dengan mobil tadi,” lanjut Rasilu.  

Rasilu masih syok ketika menepi, ditolong saksi. Sementara penumpangnya di antarkan menggunakan becak lain ke rumah sakit. Tak lama, keluarga Maryam datang menggunakan sepeda motor di TKP kecelakaan lalu lintas itu, berbincang dengan Rasilu sebelum mereka bersama ke RST.

“Saya memang pingin ke RST, pingin lihat korbannya bagaimana. Saya berdiri di luar, cerita, saya kaget dengan mobil.  Saya tidak mabuk saya tidak sentuh alkohol, saya dalam keadaan sadar. Normal. Lima menit kemudian korban meninggal, saya langsung dibawa ke Polres Ambon,” sambung Rasilu.

Saat itu, Rasilu juga sempat membayar obat yang digunakan Maryam saat sempat dirawat. Rasilu membayar Rp600ribu.

“Saya punya tabungan (hasil mengayuh becak) Rp1,8juta. Saya bayar dua botol obat, per botol Rp300ribu,” ungkapnya.

Sementara itu, Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Theodorus Yosep Parera, mengatakan pihaknya prihatin dengan insiden yang menimpa Rasilu.

Sebab itulah, pihaknya berupaya menolong, baik segi hukum maupun mencoba membantu biaya untuk diberikan kepada istri dan anak-anak Rasilu. Ini juga sesuai amanat Pancasila, di mana hidup di rumah Indonesia harus gotong royong.

“Begitu sudah ada surat eksekusi, kami akan upayakan meminta grasi dari Presiden,” kata Yosep. (eka setiawan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here