Advokat Tak Melulu Cari Duit

Profesi advokat haruslah dijalankan sebagaimana mestinya. Officium nobileistilah latin dari luhur, mulia dan terhormat. Itu sesuai juga dengan Kode Etik Advokat Indonesia, yang oleh karenanya, kedudukan profesi ini sejajar dengan penegak hukum lainnya, seperti jaksa dan hakim ketika di pengadilan.

Sebab memperjuangkan keadilan, mestinya juga tidak pandang bulu ketika membantu orang yang berperkara. Honor jadi nomor sekian, yang penting bisa membantu orang mendapatkan keadilan di mimbar mulia persidangan.

Hal ini juga yang dijunjung tinggi oleh Ceicilia Novita Prameswari (28) advokat muda dari Rumah Pancasila dan Klinik Hukum di bawah Law Office Yosep Parera and Partners.

Ceicil, sapaan akrabnya, mengaku saat mendampingi klien tak selalu dapat untung dalam artian finansial.

“Terkadang malah tombok (keluar uang) dalam suatu kasus,” ceritanya kepada rumpan.id, Senin (7/2/2019) lalu ketika ditemui di Pengadilan Negeri Semarang. 

Tombok yang dimaksud di sini, dijelaskan Ceicil, karena klien yang kantornya tangani bukanlah orang yang mampu secara finansial. Maka, kasus yang dia bela itu adalah jasa layanan gratis atau dikenal dengan istilah probono atau prodeo.

Walaupun jasa layanan gratis, bukan berarti Ceicil tidak bekerja maksimal.

“Semua kasus adalah sama, memperjuangkan keadilan,” lanjut gadis yang berulang tahun tiap 28 November ini.

Menurutnya, advokat adalah penghubung mereka yang lemah dan tidak mampu agar setara dengan mereka yang kaya maupun yang berkuasa.

Sehingga profesi ini menurutnya bukanlah perkara uang maupun popularitas melainkan bekerja demi keadilan.

“Ada yang dibayar di dunia dan ada yang dibayar di akhirat, jadi bukan masalah,” terang Ceicil, yang memulai profesi sebagai advokat sejak tahun 2017 lalu

Menangis Saat Sidang

Menurut Ceicil, menangani suatu kasus probono atau prodeo tidak hanya perkara menang ataupun kalah. Baginya, menangani kasus seperti ini mampu menjadikannya seorang advokat dan seorang manusia yang sesungguhnya.

Dia bercerita bahwa dirinya pernah menangis di persidangan saat membela seorang klien pada kasus probono. Hal ini bermula ketika dirinya menjadi pembela untuk seorang ibu yang didakwa melakukan tindak pidana korupsi.

Sesuatu yang membuatnya menangis adalah ketika ia merasa hukum hadir hanya sebagai balas dendam tanpa melihat keadaan pihak-pihak yang bersangkutan.

Menurutnya dalam sebuah kasus pasti ada sebab alasan yang menjadikan seseorang melakukan sebuah kesalahan. Sebab-sebab inilah yang kadang tidak dibahas di mimbar persidangan sehingga menyebabkan pengambilan keputusan alis vonis hakim menjadi kurang tepat.

“Saya menangis ketika anak ibu tersebut datang ke persidangan menggunakan kursi roda setelah operasi dan tidak ada kelurga lain yang ngurus, di situ saya merasa hukum kok sangat kejam sekali,” kenang advokat yang punya spesialisasi hukum pidana ini.

Berangkat dari pengalaman hidupnya, Ceicil beranggapan bahwa hukum hadir untuk merawat kemanusiaan, aturan yang dibuat, keputusan yang diambil haruslah mencerminkan kebaikan ilahi. Sebab para penegak hukum haruslah mencitrakan kebaikan dan keadilan Tuhan di muka bumi.

Pengalaman lainnya, yang dia rasakan pahit saat membela klien, ketika mendampingi terdakwa kasus penyalahgunaan narkotika. Barang buktinya di bawah 1 gram, dan murni sebagai pengguna. Tapi putusan berbicara lain. Terdakwanya malah dipenjara sebab vonis hakim.

“Pemenjaraan hanya akan membuat mereka berkumpul dengan sesama penyandang sakit intelektual. Hal ini tidak akan menyembuhkan mereka, mereka bisa bertambah parah (saat bebas),” lanjut lulusan hukum Universitas 17 Agustus 1945 Semarang ini.

Mantan DJ

Secara pribadi, Ceicil juga bercerita kalau profesi advokat ternyata menjadikanya manusia yang lebih beradab. Setidaknya jika di bandingkan dengan profesinya yang ditekuninya sebelum jadi advokat.

Ceicil ini dulunya seorang disc jockey (DJ). Gemerlap dunia malam, sorot tata cahaya warna warni, dentuman musik, akrab dalam hidupnya. Nama panggungnya DJ Queen Vie. Dunia DJ ditekuninya dari tahun 2013 sampai 2015.

“Dulu kalau mau tidur terus ada yang telpon, biasanya langsung tak omelin, sekarang nggak bisa setelah jadi Advokat,” kenangnya.

Ceicilia ketika masih menjadi Disk Jokey (DJ)

Berawal dari ceritanya ini, dirinya beranggapan bahwa hukum mampu membuat seseorang menjadi lebih baik, jika itu betul-betul dijalankan dari hati nurani. (Sutrisno)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here