Sumber Ilustrasi: Pixabay.com


SEMARANG – Perseteruan antara PB Djarum dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) selesai dengan beberapa hasil kesepakatan yang diambil pada Kamis (12/9) lalu.

Kedua belah pihak dimediasi oleh pihak Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Ada 3 poin yang disepakati.

Pertama, PB Djarum sepakat untuk mengganti nama audisi dan ajang seleksi atlet. Dari “Audisi Umum Beasiswa PB Djarum 2019″ menjadi ” Audisi Umum Beasiswa Bulu Tangkis” tanpa image dan nama Djarum.

Kedua, KPAI mencabut surat yang mereka keluarkan pada tanggal 29 Juli lalu. Surat ini berkaitan dengan permintaan KPAI kepada Djarum untuk menghentikan audisi beasiswa bulu tangkis.

Yang ketiga, Pihak pemerintah yaitu Kemenpora, KPAI dan PBSI (Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia) sepakat untuk memberikan kesempatan bagi PB Djarum untuk mempertimbangkan apakah akan dilakukan audisi lagi pada tahun 2020.

Bukan hanya itu, keputusan untuk melanjutkan audisi juga dipertimbangkan untuk jangka panjang, tidak hanya di tahun depan saja.

Psikolog Arri Handayani dari Universitas PGRI Semarang turut berpendapat, bahwa pihaknya bersyukur karena akhirnya perseteruan antara PB Djarum dan KPAI menemui titik terang.

“Alhamdulillah ya kalau masalah ini sudah selesai,” ungkap Arri kepada tim rumpan.id melalui saluran telepon pada Senin (16/9) siang.

Arri menjelaskan bahwa yang terpenting dari kasus ini adalah bagaimana peran keluarga dan orang-orang terdekat dalam mengakomodasi bakat anak. Karena orangtua yang tahu persis terkait dengan apa yang menjadi kesukaan dan minat anak.

“Bakat itu adalah ketika apa yang dilakukan anak itu menimbulkan kesenangan bagi anak dan siap melakukannya terus menerus tanpa ada rasa lelah dan dia betul-betul senang ada kemungkinan itu menjadi bakat anak,” jelas Arri.

Belajar dari kasus ini Arri juga berharap supaya ke depan pihak PB Djarum masih mau mengakomodasi bakat anak Indonesia, karena memang negara masih butuh adanya corporate social responsibility (CSR) dari perusahaan swasta untuk membantu dalam pengembangan bakat anak Indonesia.

Terkait dengan penggunaan logo pada ajang pencarian bakat olahraga pada anak, Arri berpendapat bahwa hal ini dikhawatirkan akan berdampak negatif pada perilaku anak yang penasaran dengan produk perusahaan yang memproduksi rokok tersebut.

“Iya yang dikahwatirkan anak penarasan, dan ingin coba-caba produk dari logo perusahaan yang menaunginya, nah ini yang perlu adanya pendekatan dan pemahaman sejak awal dari para orangtua dan guru kepada anak yang bercita-cita mengikuti seleksi yang di lakukan PB Djarum,” ungkap Arri.

Seleksi PB Djarum bukan eksploitasi

Pada kesempatan lain Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum di Semarang Th. Yosep Parera berpendapat bahwa seleksi atlet anak yang dilakukan pihak PB Djarum bukanlah sebuah eksploitasi anak.

“Apa yang dilakukan oleh PB Djarum sebagai perusahaan swasta ini adalah dalam rangka untuk membina anak bangsa Indonesia,” jelas Yosep saat dijumpai tim rumpan.id.

Lebih lanjut Yosep menjelaskan bahwa hal ini dilakukan supaya anak menjadi mahir di dalam olah raga khususnya bulu tangkis, di mulai dari anak-anak yang memang sistem pembinaannya seperti itu.

Sehingga secara otomatis juga membantu anak-anak ini untuk disiplin kemudian mendapatkan pendapatan ketika mereka nanti menjadi juara.

Terkait dengan dugaan adanya eksploitasi anak yang dilakukan PB Djarum oleh KPAI, Yosep menjelaskan bahwa eksploitasi anak itu adalah apabila anak digunakan sebagai sumber pendapatan bagi seseorang atau orangtua anak itu sendiri.

Jadi jangan disalahartikan, karena dalam Undang-Undang Perlindungan Anak itu juga anak diperbolehkan untuk bekerja mencari penghasilan sendiri dengan jangka-jangka waktu yang telah diatur secara detil.

“Jadi anak yang umur sekian boleh bekerja yang umpamanya hanya boleh bekerja selama 2 atau 3 jam dalam jangka waktu sehari,” jelas Yosep.

Maka dalam kasus ini Yosep berharap apa yang telah dilakukan PB Djarum dalam mencetak para atlet muda di Indonesia, KPAI tidak melihat PB Djarum sebagai sebuah pabrik rokok.

Yosep juga berpendapat bahwa tidak ada alasan bagi KPAI mempermasalahkan PB Djarum, karena selama ini pabrik rokok itu sendiri memiliki izin dari negara.

Produk rokok itu pun dipasarkan bukan sesuatu yang dilarang untk beredar di Indonesia.

Melihat dari kasus ini Yosep juga berharap kepada KPAI untuk lebih melihat fungsi dan tugas lembaga itu didirikan yaitu dalam rangka mengawasi anak-anak yang ada di Indonesia agar mereka mendapatkan peluang yang seluas-luasnya dalam mengembangkan bakat dan minat mereka.

“Sekarang minat dan bakat mereka telah dibantu oleh PB Djarum untuk dikembangkan, kok malah mereka kritik, ini jadi masalah, terus kehadiran KPAI buat apa?,” kata Yosep.

Seharusnya, sebut Yosep, KPAI tahu bahwa hadirnya PB Djarum dalam rangka untuk memberikan motivasi sekaligus mengedukasi anak-anak agar bakat dan minatnya itu benar-benar diwujudkan di dalam praktik nyata.

 “Soal jadi atau tidaknya kan tidak menjadi masalah, itu bisa dilihat di dalam perkembangan pelatihannya nanti, kemampuan masing-maisng seperti apa, dan itu bukan bentuk daripada eksploitasi anak,” ungkapnya.

Selain itu Yosep juga menyoroti bahwa selama ini aturan yang sudah ada juga sudah melarang iklan rokok, sekalipun harus beriklan maka harus dalam bentuk yang lain, jadi apa yang sudah dilakukan PB Djarum bukan suatu masalah.

Karena untuk membangun negeri ini perlu adanya gotong royong hal ini berdasarkan perintah Pancasila yang dirumuskan secara rinci di dalam UUD 1945.

Di dalam semua peraturan perundang-undangan pun telah diatur mengenai kewajiban negara yang paling utama adalah memberikan motivasi dan edukasi kepada seluruh masyarakat luas, untuk menjadi pilar pelaksana daripada kewajiban negara.

“Sehingga negera bisa dikatakan berhasil apabila negara itu dia mampu mengedukasi memotvasi masyarakat, kalau dia sudah mampu untuk itu maka ke depan akan menjadi lebih baik,” terang Yosep.

Ke depan masyarakat tidak boleh sepenuhnya percaya kepada aparatur pemerintahannya sehingga kemudian menjadi membutakan mata, membutakan nurani, membutakan pikirannya untuk memikirkan masyaraktnya sendiri.

“Jadi masyarakat juga ikut bantu, ikut saling mendorong untuk memberikan ruang kepada anak itu, jadi intinya adalah semuanya pada pancasila bergotongg royong bersama-sama membangun Indonesia menjadi lebih baik, khususnya dalam bidang mewujudkan bakat anak-anak,” pungkas Yosep. (erna virnia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here