FOTO-FOTO RUMPAN.ID/AJIE MAHENDRA

SEMARANG – Buruh pabrik rawan menjadi bahan eksploitasi para pengusaha. Salah satunya dengan menekan hak-hak buruh, demi memangkas ongkos produksi. Hak bukan hanya upah, tapi juga perhatian pengusaha dalam memberikan kesejahteraan dan keamanan.

Dalam sila kelima Pancasila, seluruh penghuni rumah Indonesia diperintahkan untuk saling berbagi. Gotong royong untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Praktis sudah menjadi keharusan pengusaha dan buruh, bekerja sebagai satu kesatuan untuk meningkatkan derajat hidup manusia Indonesia. Bukan sekadar meraup untung sebesar mungkin.

Kenyataannya, di Provinsi Jawa Tengah, masih ada perusahaan yang menekan para buruhnya. Terhitung, sejak tahun lalu ada 10 perusahaan yang diduga melakukan pelanggaran aturan Badan Penyelanggaran Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan.

Dari 10 perusahaan tersebut, tiga perusahaan di antaranya sudah direkomendasikan Dinas Tenaga Kerja untuk Tidak Mendapatkan  Pelayanan Publik Tertentu (TMP2T) kepada Dinas Penanaman Modal Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jateng.

Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jateng, Wika Bintang menjelaskan, tiga perusahaan yang  mendapatkan rekomendasi TMP2T tersebut merupakan perusahaan bidang otomotif di Purwokerto, swalayan di Solo dan perusahaan garmen di Sukoharjo.

Sebelumnya, pihaknya sudah melakukan klarifikasi dan memberikan surat peringatan kepada ketiga perusahaan tersebut.

“Tapi ketiganya tetap ngeyel, makanya kami berikan rekomendasi TMP2T. Kelanjutan dari sanksi tersebut mulai dari penghentian operasional, pembekuan perusahaan hingga pencabutan izin,” tuturnya, Selasa (26/2/2019).

Karena itu, mari bersama-sama mengubah pola pikir dan perilaku sesuai jiwa Pancasila. Di mana ada tuntutan menjaga keseimbangan dan keselarasan hidup lahir dan batin.

Caranya; dengan mentaati semua kewajiban dan hak dalam berbangsa dan bernegara. Tidak ada pengusaha tanpa buruh dan tidak ada buruh tanpa pengusaha. (Ajie Mahendra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here