Direktur Bantuan Hukum Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Wenang Noto Buwono (dua dari kiri) ketika berdiskusi dengan tiga mahasiswi Jurusan Ilmu Hukum Universitas Diponegoro (Undip) di Sekretariat Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Jalan Semarang Indah Blok D15/32, Kota Semarang, Kamis (14/3/2017).

SEMARANG – Advokat harus melihat sebuah perkara dengan jeli, menggunakan nurani dan akal sehat ketika mendampingi kliennya. Advokat sebagai penegak hukum harus bisa membela hak-hak kliennya untuk mendapatkan keadilan di mata hukum. Jadi advokat tak bisa hanya serampangan demi finansial saja dalam menangani suatu perkara.

Itu adalah salah satu pembahasan yang muncul saat diskusi antara Direktur Bantuan Hukum Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Wenang Noto Buwono, dengan tiga mahasiswi Jurusan Ilmu Hukum Universitas Diponegoro, di Sekretariat Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Jalan Semarang Indah Blok D15/32, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Kamis (14/3/2019) siang.

Para mahasiswi itu; Salsabila Dewi Pratiwi, Arnita Febi Maharani, Natalia Nanda Eka Dewi. Mereka sengaja datang ke Sekretariat Rumah Pancasila dan Klinik Hukum yang juga Kantor Law Office Yosep Parera and Partners untuk belajar lebih banyak soal hukum, termasuk bagaimana persidangan dijalankan.

“Jadi lihat dulu bagaimana kronologinya, baru diputuskan apa langkah selanjutnya,” kata Wenang kepada tiga mahasiswi itu.

Wenang menegaskan, advokat tidak serta merta harus menang dalam artian bisa membebaskan kliennya. Tetapi, klien dibela dengan betul sesuai posisi kasusnya, supaya mendapatkan keadilan hukum.

“Jadi lihat dulu bagaimana kronologinya, baru diputuskan apa langkah selanjutnya,” ungkap Wenang pada tiga mahasiswi itu.

Wenang mengatakan, alat bukti yang disajikan di persidangan juga menjadi salah satu faktor penting dalam usaha memenangkan sebuah kasus dalam upaya mencari keadilan.

“Dengan dasar hukum yang kuat, suatu alat bukti hukum tentunya akan sangat berpengaruh,” lanjutnya

Meski begitu Wenang mengatakan patokan keberhasilan seorang pembela hukum bukanlah memenangkan setiap persidangan, tetapi mampu menunjukan keadilan yang sesungguhnya di meja persidangan.

Dia mengatakan, jika kliennya salah, maka seorang advokat harus mampu mengatakan salah. Lalu, upaya selanjutnya adalah mengawal jalannya persidangan agar kliennya mendapat putusan yang adil.

“Jika seorang klien bersalah, maka katakan salah, jika memang harus bebas maka memang harus bebas,” tegas Wenang.

Sementara itu, Salsabila mengemukakan, diskusi dengan Rumah Pancasila dan Klinik Hukum sekaligus Law Office Yosep Parera and Partners ini sengaja dilakukan sebagai salah satu persiapan mengikuti Lomba Peradilan Semu tingkat Nasional yang akan diselenggarakan pada tanggal 5-8 April 2019 mendatang di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. 

“Jadi ini bagian dari riset kami untuk lomba, cari tahu bagaimana suatu proses persidangan berjalan dari sudut pandang advokat, ” kata Salsabila pada rumpan.id sesaat setelah diskusi.

Kekayaan Ekonomis

Pada diskusi itu juga mengalir pembahasan tentang Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI).  

HaKI merupakan atas bentuk dari kekayaan ekonomis seseorang atau kelompok atas cipta karyanya yang harus dijamin negara. HaKI juga merupakan hak eksklusif yang dapat dijadikan sumber penghidupan pemegangnya.   

Wenang menyebutkan HaKI memang sudah sepatutnya dilindungi negara.   

Namun demikian, seseorang atau sekelompok orang yang mendapatkan HaKI itu tidak bisa memonopoli selamanya. Sebab, ada batasan waktu tertentu yang sudah ditetapkan sehingga hak itu bisa kedaluarsa.

“Nggak selamanya kan ada batas waktunya, setelah itu semua orang bebas menggunakannya,” katanya

Wenang juga menjelaskan dalam keadaan mendesak, seperti menyangkut kepentingan orang banyak, maka pemerintah juga dapat mencabut HaKI sewaktu-waktu.

Sementara Salsabila berargumen masyarakat Indonesia masih ada yang belum memahami betul persoalan HaKI itu. Akibatnya, seseorang atau sekelompok orang dapat dirugikan.

“Iya kan kasian juga, karena mereka tidak tahu, jadi bisa dipidanakan,” kata Salsabila. (Sutrisno)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here