FOTO RUMPAN.ID/SUTRISNO
Achmad Mihdan (tengah, baju putih, memakai peci) saat memberikan keterangan pada wartawan di Lobi Gedung Direktorat Reserse Kriminal Umum, Polda Jateng, Jalan Pahlawan, Kota Semarang, Senin (18/02/2019).

SEMARANG – Pemeriksaan Ketua Persaudaraan Alumni (PA) 212, Slamet Maarif, atas dugaan pelanggaran pidana pemilihan umum (pemilu) kembali tertunda, Senin (18/2/2019). Tersangka tak hadir memenuhi panggilan penyidik.

Tersangka seharusnya dijadwalkan dimintai keterangan Senin itu oleh penyidik Polresta Surakarta di Polda Jawa Tengah.

Sejumlah wartawan sudah menunggu kedatangan tersangka sejak pagi di Lobi Gedung Direktorat Reserse Kriminal Umum (Dit Reskrimum) Polda Jawa Tengah, Jalan Pahlawan, Kota Semarang.

Para wartawan sudah menunggu dari pagi, sebab, Polda Jateng melalui Kepala Bidang Humas, Kombes Pol Agus Triatmaja, menginformasikan jika pemeriksaan dijadwalkan pukul 10.00 WIB.

Namun ketika rombongan yang ditunggu tiba, tak terlihat Slamet Maarif. Rombongan itu terdiri atas 7 pengacara dipimpin Achmad Mihdan, didampingi beberapa orang lain.

Saat itu sejumlah wartawan langsung memberondong dengan sejumlah pertanyaan. Termasuk pertanyaan apakah tersangka hadir atau tidak. Tapi para kuasa hukum tidak menjawab detil.

“Nanti ya, saya masuk dulu,” kata Achmad Mihdan.

Mereka kemudian masuk ke petugas piket Ditreskrimum, mengisi buku tamu, dan masuk ruangan penyidik. Tak lama, mereka keluar.

Para wartawan kemudian mencegatnya kembali untuk diwawancara. Ketika ditanyakan di mana keberadaan Slamet Maarif, para pengacaranya diam, tak menjawab.

“Yang jelas beliau sedang sakit,” jawab Achmad Mihdan.

Pihaknya, sebut Mihdan, berharap polisi juga mengambil keterangan ahli dalam penyidikan perkara kliennya itu. Sebab, Michdan menilai, keterangan ahli diharapkan bisa memperjelas perkara yang membelit kliennya.

“Jadi biar jelas, ini termasuk pelanggaran atau bukan,” lanjutnya.  

Jadwal pemeriksaan bertempat di Polda Jawa Tengah ini adalah kali kedua. Pertama dijadwalkan pada Rabu (13/2/2019), namun pihak kuasa hukum meminta penjadwalan ulang, diubah pada Senin (18/2/2019) ini. Tapi ternyata tersangka malah mangkir dengan alasan sakit.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Agus Triatmaja, menyebut belum ada penjadwalan ulang untuk perkara yang membelit Slamet Maarif ini.

“Nanti, masih didalami oleh penyidik,” kata Agus saat dikonfirmasi rumpan.id via WhatsApp, Senin (18/2/2019) petang. 

Berkenaan permintaan saksi ahli yang diminta oleh kuasa hukum tersangka, Agus mengatakan, pihaknya akan menunggu keputusan pihak penyidik.

“Nanti Penyidik yang akan menilai perlu atau tidaknya,” tegas Agus. 

Slamet Maarif ditetapkan tersangka oleh penyidik Polresta Surakarta sesuai Surat Perintah Dimulai Penyidikan (SPDP) bernomor SPDP/24/II/RES.1.24/2019 Reskrim tertanggal 4 Februari 2019.

Slamet Maarif dijerat Pasal 280 ayat (1) huruf a,b,c,e,f,g,h,i atau j atau Pasal 276 ayat (2) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu terkait kampanye di luar jadwal.

Dugaan pelanggaran ini terjadi saat dirinya membawakan orasi dalam kegiatan Tablig Akbar PA 212 di daerah Gladak, Pasar Kliwon, Solo tanggal 13 Januari 2019 yang lalu. Aksi itu juga sempat diwarnai seorang anggota Brimob Polda Jawa Tengah yang diprovokasi salah satu massa aksi, yang terekam video kemudian menyebar di dunia maya. 

Diwarnai Demo

Sementara itu, bersamaan dengan jadwal pemeriksaan tersangka Slamet Maarif di Mapolda Jateng itu, sejumlah massa dari Front Pembela Islam (FPI) menggelar unjuk rasa di depan Mapolda Jawa Tengah. Mereka berorasi, menuntut keadilan untuk ketuanya yang dijadikan tersangka. 

Panglima FPI, Ahmad Rofi’i, yang turut hadir pada aksi unjuk rasa itu mengatakan, apa yang dilakukan oleh anggotanya bukan bermaksud untuk mengintervensi pihak kepolisian, melainkan sebagai dukungan moral kepada Ketua PA 212 yang sedang menjalani pemeriksaan tersebut.

“Masa hadir untuk mengawal dan mendukung, jumlahnya belum diketahui masih bisa bertambah banyak,” terang Rofii.

Dalam aksinya, puluhan massa yang hadir turun di Jalan Pahlawan itu menggunakan 2 mobil pikap, membawa sejumlah bendera dan dilengkapi pengeras suara. 

Diketahui, Slamet Maarif juga sempat diperiksa di Polresta Surakarta sebagai tersangka pada Kamis (7/2/2019). Saat pemeriksaan itu, sejumlah massa yang mengatasnamakan elemen Muslim juga menggelar unjuk rasa di sekitar Mapolresta Surakarta. Aksi itu sempat dikeluhkan sejumlah siswa dan guru sekolah di dekat situ, karena dianggap suara dari pengeras suara itu mengganggu kegiatan belajar mengajar. (Sutrisno)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here