Aktivitas Rumah Pancasila dan Klinik Hukum rasa-rasanya tak jauh dari seputaran narapidana, mantan narapidana hingga penjara-penjara.

Sejak awal organisasi ini berdiri di Kota Semarang, tepatnya 18 Agustus 2018, narapidana dan penjara adalah titik yang disasar mereka. Semangatnya kemanusiaaan. Memanusiakan manusia.

Menyelami kehidupan mereka, saat maupun selepas dari penjara. Narapidana meski secara hukum sudah divonis bersalah, ada fakta-fakta lain yang tentunya kerap tak terungkap saat persidangan.

Tentang psikologi mereka, keluarga mereka, curhatan-curhatan mereka sampai isi hati mereka yang paling dalam.

Rumah Pancasila bukan mengambil peran membela secara serampangan. Namun ada satu yang pasti: apapun status mereka, entah itu narapidana ataupun eks narapidana, penghuni penjara, mereka tetaplah manusia. Ada sisi kemanusiaan yang harus dibela, dilayani, disentuh dengan hati nurani.

Merawat orang-orang dengan jalan hidup yang “tak biasa” itu sama halnya membantu mereka menemukan kembali nuraninya. Sebab, nurani tak bisa berbohong. Nurani tetaplah berisi kebaikan-kebaikan.

Untuk sampai pada tujuan itu, Rumah Pancasila sangat perhatian kepada mereka. Salah satu bentuknya; mendengar curhatan mereka, memberikan pendampingan hukum gratis, hingga memberikan hibah mesin air bersih siap minum di Lapas Kelas I Semarang alias Lapas Kedungpane.

Setahun setelah berdiri, Rumah Pancasila dan Klinik Hukum memang sudang meneken MoU dengan Kementerian Hukum dan HAM Jawa Tengah, khususnya Divisi Pemasyarakatan.

Ada komitmen membantu mereka yang ada di dalam penjara untuk tetap memanusiakan mereka.

Di tahun yang sama, tepatnya sekitaran akhir tahun lalu, Rumah Pancasila dan Klinik Hukum juga dipercaya Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Kementerian Sosial Republik Indonesia untuk memberikan pendampingan kepada 21 eks narapidana terorisme di Jawa Tengah dan DIY.

Manusia adalah soal kemanusiaan!


Menginisiasi doa bersama di Monumen Ketenangan Jiwa, Kawasan Pantai Baruna Semarang, Oktober 2019 lalu. Kegiatan diikuti aparatur pemerintahan, TNI, Polri, mahasiswa, pegiat sejarah, hingga warga binaan pemasyarakatan (WBP) baik dari Lapas Kelas I Semarang maupun Lapas Perempuan Semarang (Lapas Bulu).

Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum Yosep Parera (tengah) Kepala Lapas Kelas I Semarang, Dadi Mulyadi dan perwakilan warga binaan setempat usai memberikan hibah mesin penyulingan air bersih di lapas setempat, Oktober 2019.
Awal Januari 2020, menggelar sosialisasi dan bantuan hukum gratis di Lapas Kelas I Semarang. 
Berbagi cerita dengan para mantan narapidana terorisme, Desember 2019
Salat gaib dan doa bersama untuk mendiang B.J Habibie, September 2019 di Lapas Kelas I Semarang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here