FOTO RUMPAN.ID/TAFSIR RISKI
Hesmu Purwanto

Sebagai “wakil Tuhan” di dunia, hakim adalah harapan terakhir bagi manusia untuk mendapatkan keadilan di dunia. Tentunya itu bagi mereka yang diadili di meja hijau.

Seorang hakim tentu dituntut untuk berani mengambil putusan yang benar, yang seadil-adilnya. Meski, putusan itu berisiko mengancam keselamatan nyawanya.

Hesmu Purwanto sempat mengalaminya. Hesmu yang kini menjabat Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Jawa Tengah mengenang, salah satu pengalamannya yakni pada tahun 1998 sempat mendapat teror.

“Ketika itu saya menjabat Ketua Pengadilan Negeri Denpasar, jadi sebelum Bom Bali (teror yang diterimanya),” ungkap Hesmu ketika diwawancarai rumpan.id, Kamis (8/8/2019) di kantornya, Jalan Pahlawan Kota Semarang.

Dia menceritakan ketika itu memimpin sidang perkara perdata, membatalkan putusan provisi. Tentunya bagi yang merasa dikalahkan, jadi kecewa bahkan marah.

Putusan yang dijatuhkannya itu menyebabkan beberapa akibat lanjutan, mulai dari unjuk rasa, sampai ancaman telepon gelap pengadilan akan diledakkan.

“Jadi pengadilan sempat disterilkan oleh Gegana (Brimob Polri), memang tidak ada apa-apa (tidak ditemukan bom),” lanjut Hesmu yang masih punya garis keturunan darah biru Keraton Yogyakarta ini.

Telepon gelap peneror terus berlanjut. Hesmu bercerita, sebenarnya dia tak terlalu pusing dengan telepon gelap itu. Dianggapnya itu bagian dari risiko tugas, yang lebih penting adalah memberikan keadilan lewat putusannya.

Namun demikian, aparat keamanan yakni polisi tetap memberikan pengawalan penuh, sebagai pencegahan dan pengamanan apabila ancaman itu benar-benar terjadi.

“Kira-kira 10 hari lebih, ada 2 polisi yang terus mengawal saya, sampai di rumah. Bahkan sampai-sampai saya tidur di teras,” kenangnya.

Hesmu yang tercatat sudah 3 tahun terakhir ini menjabat Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Jawa Tengah itu juga bercerita pengalaman lainnya. Dia juga sempat mendapatkan telepon dari seorang pengacara yang kliennya kalah saat sidang.

“Jadi diancam pengacara pihak yang saya kalahkan, katanya bapak nanti dipindah ke Irian (Papua),” ceritanya.

Hesmu tak bergeming dengan ancaman semacam itu. Menurutnya, tetap memberikan putusan yang seadil-adilnya adalah prinsip utama.

Ancaman itu juga ternyata tak terbukti. Kalaupun memang dipindah, Hesmu tak mempersoalkan, karena dia punya prinsip yang utama adalah menjalankan profesi, tugasnya dengan profesional.

Di usianya yang jelang pensiun, Hesmu berpesan, terutama kepada para hakim di Jawa Tengah. Para hakim harus berani mengambil risiko apapun asalkan bisa memberikan keadilan pada tiap putusannya.

“Jangan sampai ada hakim di Jateng yang malah diadili di persidangan (tersangkut perkara), saya sedih sekali kalau ada hakim yang begitu. Hakim harus memberikan putusan seadil-adilnya, bukan seberat-beratnya,” kata pria yang sudah malang melintang bertugas di beberapa pengadilan di Indonesia itu.

Khusus menyambut Hari Ulang Tahun ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia, Hesmu berpesan kepada hakim-hakim di Jawa Tengah untuk menghayati betul tentang kemerdekaan. Nilai-nilai Pancasila harus jadi pijakan dasar dalam memutus suatu perkara.

“Kalau tidak adil (hakim), nanti dihukum oleh Tuhan,” tutupnya. (eka setiawan)    

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here