FOTO RUMPAN.ID/EKA SETIAWAN
Kapolda Jateng Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel di Mapolda Jawa Tengah, Kota Semarang, Selasa (12/11/2019).

Hubungan baik antara polisi dengan seorang tersangka yang pernah ditangkapnya ternyata bisa berjalan dengan baik. Keakraban malah bisa terjalin dari situ.

Seperti diceritakan Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel, yang saat ini menjabat Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jawa Tengah. Rycko menceritakan ketika bersama beberapa anggota Polri lainnya, termasuk Petrus Golose (kini berpangkat Irjen menjabat Kapolda Bali) menangkap Ali Imron, buronan kasus terorisme Bom Bali I.

Saat itu bulan Januari tahun 2003, artinya Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri belum dibentuk. Baru ada tim khusus yang ditugaskan untuk menangkap para pelaku teror itu.

Rycko bercerita, bersama beberapa anggota lain, menangkap Ali Imron di Pulau Tanjung Brukang, lepas pantai Samarinda, Kalimantan Timur. Penangkapan dilakukan 13 Januari 2003. Lokasi itu, sebut Rycko juga sudah dekat dengan Filipina maupun Malaysia.

“Beliau ketika itu ditangkap malah seneng, sempat tanya ‘Bapak polisi ya?’, malah seneng karena bilang mau pulang, sudah nggak tahu arah,” kata Rycko kegiatan coffee morning dengan wartawan di Markas Polda Jawa Tengah, Jalan Pahlawan Kota Semarang, Selasa (12/11/2019).

Bahkan, sebut Rycko, mereka yang ditangkap itu malah meminta obat flu sebab selama pelarian terkena penyakit flu dan sudah kekurangan logistik makanan.

Rycko mengenang kisah itu sambil sesekali tersenyum. Ketika itu Rycko belum menjadi jenderal alias perwira tinggi. Mantan Gubernur Akademi Kepolisian (Akpol) itu kemudian melanjutkan ceritanya tentang sosok Ali Imron, adik dari Ali Ghufron dan Amrozi. Dua nama terakhir itu dieksekusi mati.

Setelah Ali Imron ditangkap, sebut Rycko, setiap tahun selalu mengirim pesan diponselnya.

“Jadi tiap tanggal 13 Januari itu, Ali Imron WA saya, ‘Akhi…selamat ulang tahun pertemuan kita (yang ke sekian),” tambah Rycko.

Maksud pertemuan ke berapa itu adalah karena tiap tahun mengucapkan jadi sudah sekira 15 kali mendapat pesan rutin itu. “Setiap tahun, tiap tanggal 13 Januari selalu mengirim selamat ulang tahun pertemuan (pertemuan ketika awal penangkapan),” kata Rycko.

Rycko memang sudah punya pengalaman banyak dalam penanganan terorisme. Termasuk ketika bersama Tito Karnavian (sekarang Menteri Dalam Negeri), Idham Azis (sekarang Kapolri), termasuk Petrus Golose, melumpuhkan Dr. Azahari di Batu Malang, Jawa Timur, pada November tahun 2005.

Pengalamannya di bidang terorisme tentunya membuatnya banyak berinteraksi dengan para pelaku itu. Dia menyebut, hubungan baik, perlu dibangun sebagai salah satu upaya deradikalisasi kepada para eks pelaku terorisme itu.  

Pengalamannya yang lain diceritakan Rycko, ketika berkunjung ke Lapas Kedungpane (Lapas Kelas I Semarang).

“Pas saya ke sana, saya dipeluk kencang dari belakang (oleh narapidana terorisme yang pernah ditangkapnya). Bilang begini ‘Bapak lupa ya sama saya? Bapak dulu yang nangkap saya?’. Dia terus bilang sekarang aktivitasnya membuat kerajinan kaligrafi, saya beli semua,” tutup Rycko.  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here