Ibrahim alias Rahim (45) ketika bersama Tim Rumah Pancasila dan Klinik Hukum Semarang, di Kota Ambon, pekan lalu.

“Bagi kita, kalau sudah bersaudara itu tidak ada repotnya! Yang penting abang senang, saya senang toh!,”

Kalimat itu keluar dari mulut Ibrahim alias Rahim (45) lewat layanan video call WhatsApp, Selasa (12/3/2019) petang.

Rahim ini orang yang baru saya kenal sepekan lalu, ketika saya dan rekan Aji Mahendra dari Rumah Pancasila dan Klinik Hukum Semarang berangkat ke Ambon, Provinsi Maluku untuk misi kemanusiaan.

Rahim adalah warga lokal, sehari-hari jadi sopir, ngetem di Bandara Internasional Pattimura Ambon, yang ketika itu mengantarkan kami untuk beberapa hari di Kota Ambon.

Dia adalah warga Telaga Kodok, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.

Untuk tiga hari terakhir ini, si Rahim ini hampir tiap hari menghubungi saya lewat WA. Aplikasi itu baru saja diinstalnya pekan lalu.

“Harus baku komunikasi (saling komunikasi) kan, kan kita bersaudara Bang!,” kata si Rahim itu.

Soal kalimat awal tadi, pada Rabu (6/3/2019) lalu, dia sempat mengantarkan kami ke Pantai Liang, Maluku. Pantainya indah sekali, airnya jernih, pasir putih.

Selepas dari pantai itu, kami mampir di tukang jual durian pinggir jalan di Desa Tulehu, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah.

Saya kaget bukan kepalang, sebab durian itu dijual satu buahnya hanya kisaran Rp10ribu hingga Rp15ribu. Rasanya lezat, baunya wangi.

Itu adalah durian dari Kota Piru, Pulau Seram. Untuk masuk ke Ambon, harus diangkut menggunakan kapal.

Soal harga, kalau di bandingkan saya tinggal di Semarang, sangat jauh lebih murah. Di Semarang, durian seperti itu bisa-bisa dihargai Rp50ribu sampai Rp100ribu per buahnya.

Ketika itu, saya menyerahkan selembar uang Rp50ribu pada penjualnya, dapat 4 buah durian. Kami makan lahap sekali. Nah si Rahim itu terus saja tertawa.

“Bang, suka durian ya. Di sini murah-murah, kadang bisa Rp1000 sampai Rp5000 per buahnya kalau pas panen banyak,” kata si Rahim ketika itu.

Nah ketika saya sudah balik ke Semarang dari Ambon itu, si Rahim lewat WA barunya, kerap menelpon untuk meminta alamat lengkap saya di Kota Semarang.

Katanya, dia mau kirim durian satu pikap! Wahh bisa mblenger. Dia bilang mau dikirim pakai Tiki. Wah luar biasa keinginannya untuk berbagi!

“Sudah, enggak usah Bang, nanti merepotkan Abang!,” jawab saya ketika si Rahim itu berulangkali bersikeras mau mengirim durian ke Semarang, sebagai semacam hadiah persaudaraan.

“Enggak papa Bang, tidak merepotkan. Kan kita saudara! Saya minta alamat Abang ya!,” kata si Rahim lagi.

Saya yang memang enggak enak hati, menolak halus tawarannya. Saya bilang saja, insya Allah saya akan ke Ambon lagi, kita ketemu lagi dan makan durian bareng lagi. Si Rahim baru mengiyakan.

Rahim lalu bercerita, di kampungnya sempat terjadi konflik horisontal berkepanjangan sekira tahun 1999 lalu. Kata dia, penyebabnya sepele, persoalan orang mabuk di tempat ibadah. Itu jadi konflik berkepanjangan di kampung. Ada 3 orang tewas dan beberapa luka-luka.  

Jadi Rahim itu tahu betul, konflik itu amat merugikan. Dia tidak mau lagi ada konflik-konflik, ada perpecahan. Dia hanya mau bersaudara saja, hidup damai, saling bantu, saling berbagi kebahagiaan. (eka setiawan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here