FOTO RUMPAN.ID/SUTRISNO
Yosep Parera (baju putih-tengah) bersama dua sahabatnya; Gepeng dan Lala saat berbincang dengan Pimred Rumpan.id Erna Virnia di Kantor Rumah Pancasila dan Klinik Hukum di Kota Semarang, Rabu (4/9/2019).

Ada 2 tamu istimewa di Kantor Rumah Pancasila dan Klinik Hukum di Jalan Semarang Indah Blok D15/32 Kota Semarang, Selasa – Rabu kemarin.

Mereka dua lelaki paruh baya, nama panggilannya Lala dan Gepeng. Keduanya adalah sahabat Yosep Parera, pengacara kondang sekaligus aktivis kemanusiaan yang mendirikan Rumah Pancasila dan Klinik Hukum.

Dua sahabat Yosep itu asalnya sama-sama dari Kabupaten Klaten, tepatnya Dukuh Karangtar, Desa Japanan, Kecamatan Cawas. Lala belakangan pindah ke Kota Semarang.

Lala dan Gepeng adalah saksi hidup, teman kecil Yosep. Perkenalan dengan mereka terjadi di 80’an, ketika Yosep ikut ibu tirinya ke Klaten, pindah dari Papua. Ketika itu Yosep baru lulus SD.

Ketika menginjak usia SMP, Yosep diusir dari rumah ibu tirinya. Kemudian ditampung di rumah Lala. Segala kebutuhannya sebagian besar dibantu Lala dan Gepeng selain mereka mencari uang secara serabutan, termasuk jadi kuli angkut batu bata sampai bantu menanam kedelai.

Yosep akhirnya lulus SMP Pangudi Luhur Cawas Klaten. Dia melanjutkan di SMA Kristen 1 Klaten. Tapi, sekolahnya kali ini tak mulus. Yosep harus putus sekolah karena tak punya biaya.

“Saya berbekal uang Rp1000, tahun 1989 naik kereta dari Solo ke Jakarta, naiknya tanpa tiket (ngumpet), saya menuju Jakarta mencari Lala ini,” kata Yosep di samping dua sahabatnya itu.

Sampai di ibu kota, Yosep akhirnya berhasil menemui Lala di sekitaran Terminal Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Lala menyambutnya dengan kaget sekaligus senang. Dipeluknya sahabatnya itu.

Setelah bercerita tentang tujuannya ke Jakarta, Lala bersedia penuh membantu. Yosep diajarinya berjualan majalah, koran sampai ngamen di sekitaran terminal. Tinggalnya di bedeng triplek tak beratap.

“Saya 1 tahun cari uang di Jakarta, nabung untuk sekolah lagi,” sambung Yosep.

Setelah berhasil mengumpulkan uang, Yosep kembali ke Klaten. Melanjutkan sekolah di SMA Negeri 1 Sukoharjo hingga lulus. Itu juga kembali dilakoninya bersama Gepeng.

Mereka terbiasa berboncengan sepeda ontel, menempuh jarak lebih dari 20km untuk bersekolah. Untuk makan, mereka mengupayakan bersama. Meski tentu, Gepeng lebih banyak membantu Yosep ketika itu. Salah satunya, jatah beras milik Gepeng selalu dibagi 2 dengan Yosep untuk dimakan bersama.

Pernah masuk bui

Seperti remaja umumnya,  Yosep mengenang hari-harinya juga tidak luput dari kenakalan-kenakalan khas anak remaja. Bersama teman-temannya Yosep mengaku kerap mencuri buah, ikan lele dari kolam hingga berkelahi.

Tak hanya itu, Yosep juga mengenang sempat kebut-kebutan sepeda motor di Sukoharjo bersama seorang kawannya bernama Besur. Saat ngebut, tak sengaja menabrak anak kecil sampai luka, hendak kabur malah diteriaki rampok.

Mereka akhirnya ditangkap warga sebelum diserahkan ke polisi. Yosep dan Besur akhirnya sempat masuk bui di Polres Sukoharjo.  “Saat itu yang datang besuk saya ya si Gepeng ini. Bawa makanan dan pakaian,” sambung Yosep. 

Kisah-kisah pahit itu dilalui Yosep dan dua sahabatnya itu dengan gembira saja. Sebab, selain karena dukungan sahabat, semangat juga harus terus dilecut agar cita-cita bisa digapai.

Ternyata setelah lebih dari 30 tahun berlalu, putaran roda nasib berubah. Yosep akhirnya bisa jadi advokat, membuka kantor sendiri, mempekerjakan karyawan hingga mendirikan Rumah Pancasila dan Klinik Hukum itu, sebuah organisasi masyarakat yang banyak berkecimpung di bidang sosial.

Membantu sesama adalah nafas perjuangan Rumah Pancasila dan Klinik Hukum. Semangat perjuangan sosial ini salah satunya dari pengalaman Yosep kecil bersama dua sahabatnya itu. Tidak ada yang lebih indah dari berbagi kebahagiaan dengan orang lain.

“Jadi mungkin saya bukan orang baik,  tetapi selalu berusaha untuk menjadi baik,” kata Yosep.

Sementara itu, Gepeng bercerita Yosep punya karakter seperti itu sekarang ini karena pengalaman dia sendiri. 

“Saya kira kenapa sekarang dia baik,  karena pengalaman hidupnya sangat susah, jadi dia tau persis bagaimana rasa seseorang yang membutuhkan pertolongan,” ucap Gepeng.

Gepeng punya harapan sekaligus pesan agar Yosep terus berjuang menegakkan hukum sesuai profesinya, termasuk tetap membantu sesamanya yang membutuhkan.

“Jangan ikut jalan yang tidak baik,” pesan Gepeng.

Begitupun Lala. Dia berharap agar Yosep bisa terus berjuang menjadikan Indonesia jadi lebih baik.

Yosep berjabat tangan erat dengan dua sahabatnya itu di akhir perbincangan, kemudian memeluk. “Mereka adalah sahabat sejati, mereka datang saat saya susah. Saat saya sudah berkecukupan, mereka tidak pernah datang (minta bantuan), mereka hanya datang saat saya susah,” tutup Yosep. (sutrisno/eka setiawan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here