SEMARANG – Pancasila adalah kumpulan dari  nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang digali dan kemudian dirumuskan jadi dasar negara. Sebab itulah, ideologinya tidak akan luntur meski berganti zaman.

Namun demikian, di era milenial ini, Pancasila mulai dipersoalkan. Kompleksitas permasalahan mulai bermunculan, bahkan hingga ada wacana penggantian Pancasila sebagai dasar negara. Hal itu dibahas dalam Seminar Nasional bertema Kompleksitas Ideologi Pancasila di Era Milenial yang diselenggarakan di Kampus Universitas Semarang (USM), Kota Semarang, Sabtu (16/3/2019).

Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof. Mahfud MD, mengemukakan persoalan-persoalan yang muncul terkait Pancasila itu  muncul dari perdebatan-perdebatan antarindividu, khususnya soal penerapan nilai praktikalnya. 

“Contoh saja penegakan hukum untuk pelaku korupsi yang dianggap tidak sesuai dan tidak adil,” kata mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu saat jadi pembicara di Kampus USM.

Dia berargumen, generasi sekarang sangat rentan dengan isu yang dapat memecah belah bangsa. Pasalnya, generasi ini hampir setiap hari berhubungan dengan media sosial, sedangkan informasi yang beredar belum tentu benar.

“Jika tidak mengukuhkan ideologi Pancasila untuk generasi milenal, generasi ini akan sangat mudah hilang kesetiaan terhadap negara, ” lanjutnya.

Mahfud juga menghimbau kepada audiens yang hadir tentang perlunya menjadikan Pancasila sebagai norma dasar untuk mengambil setiap kebijakan. Secara khusus, dirinya juga mengimbau kepada generasi muda untuk kritis terhadap informasi yang didapat.

Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Yosep Parera,  mengatakan Pancasila merupakan ideologi bangsa yang dirumuskan oleh Sukarno dan Panitia Sembilan. Akan tetapi, setiap silanya merupakan cerminan dari perilaku masyarakat Indonesia.

“Jadi nilai-nilai Pancasila tidak mungkin dapat hilang. Pancasila bukanlah sebuah ideologi yang dirumuskan seseorang akan tetapi digali dari bumi Indonesia, karena Pancasila merupakan representasi dari nilai nilai luhur masyarakatnya, maka jangan biarkan ini kembali terkubur,” ungkap Yosep yang juga jadi moderator seminar tersebut.

Kepala Kepolisian Daerah Jawa Tengah, Irjen Pol. Condro Kirono, angkat bicara menanggapi berbagai informasi tentang wacana pergantian Pancasila sebagai dasar negara Indonesia yang beredar di media sosial.

“Pancasila tidak dapat tergantikan karena merupakan alat pemersatu bangsa,” tegas Condro yang juga hadir sebagai salah satu pembicara di seminar tersebut.

Di era millenial ini, Condro mengatakan perlu adanya revitalisasi penanaman pemahaman Pancasila agar nilai nilainya tetap relevan dengan masyarakat. Dia berargumen, harus ada terobosan-terobosan baru yang lebih popular agar mudah diterima generasi milenial. Media sosial bisa dimanfaatkan untuk ini.

“Media sosial menjadi tantangan baru sebagai wadah untuk menyebarkan nilai-nilai Pancasila,” lanjutnya.

Ketua Ikatan Yayasan Alumni Universitas Diponegoro, Prof. Muladi, mengatakan saat ini kita hidup di era globalisasi. Namun demikian, kita tidak boleh serta merta terseret arus globalisasi, khususnya dengan nilai-nilai ataupun ideologi yang tidak sesuai dengan jiwa bangsa Indonesia.

“Kita harus berfikir global bertindak lokal. Pancasila adalah margin of appreciation and legitimation, Pancasila adalah batasan-batasan dalam berbuat dan memberikan legitimasi dalam tindakan-tindakan politik,” tegasnya pada kegiatan seminar itu. (Sutrisno)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here