FOTO RUMPAN.ID/SUTRISNO
Juru Bicara Komunitas Muslim Ahmadiyah Indonesia, Yendra Budiana, ketika ditemui di Kota Semarang, Sabtu (10/8/2019).


SEMARANG – Komunitas Muslim Ahmadiyah Indonesia (KMAI) mengajak masyarakat luas untuk mau menjadi pendonor mata bagi yang membutuhkan.

“Perbandingan kebutuhan dan yang bersedia jadi donor belum mencukupi, masih butuh banyak sekali pendonor,” ungkap Juru Bicara KMAI, Yendra Budiana, kepada rumpan.id, di Kota semarang, Sabtu (10/8/2019) sore.

Sepengetahuannya, untuk kebutuhan donor mata di Indonesia mencapai angka 170ribu orang, sementara pendonor yang ada alias yang sudah teregister baru sekira 15ribu orang.

Teregister ini artinya sudah memenuhi beberapa syarat, salah satunya adalah persetujuan dari ahli waris. Sebab, donor itu nantinya akan dilakukan ketika si pendonor meninggal dunia. Tak lebih dari 6 jam setelah kematian, kornea mata harus diambil oleh ahlinya.

Di lingkup Ahmadiyah sendiri, sebut Yendra, donor mata sudah jadi gaya hidup. Artinya semua anggotanya nanti adalah pendonor. Jumlah anggotanya se-Indonesia saat ini sekira 50ribu orang.

Artinya, Ahmadiyah itu, lanjutnya, juga jadi penyumbang donor mata terbesar di negeri ini. Tentunya jumlah 50ribu orang itu ada tahapan-tahapan teknis syarat-syarat untuk nantinya teregister.

“Kami mengajak masyarakat luas untuk ikut jadi pendonor mata, apalagi sudah ada fatwa MUI (memperbolehkan),” lanjutnya.

Untuk mendaftar, sebut Yendra, pendonor bisa mendatangi Bank Mata Indonesia yang ada di tiap ibu kota provinsi di Indonesia ataupun mendatangi perwakilan KMAI di Indonesia.

Soal donor mata itu, Yendra mengatakan ada persoalan lain yang tak kalah penting. Pertama adalah soal tenaga eksisi alias tenaga pengambil kornea mata si pendonor, masih sedikit jumlahnya.

Ini menjadi persoalan tersendiri ketika lokasi si pendonor mata meninggal dunia itu cukup jauh dari jangkauan petugas eksisi, sementara waktu maksimal kornea mata diambil hanya 6 jam setelah kematian.

Selain itu alat khusus penyimpan kornea mata dari si pendonor setelah diambil paskakematian juga harganya mahal, sekira Rp2juta per tabung.

“Kami berharap Menteri Kesehatan (Nina F Moeloek) concern terhadap hal ini, apalagi beliau juga dokter spesialis mata,” sebut Yendra.

Murni Sosial

Yendra yang saat itu ditemani Koordinator Komunitas Clean The City, Fazal Ahmad –yang juga seorang Ahmadi, anggota Ahmadiyah- menjelaskan apa yang dilakukan pihaknya semata-mata untuk membantu sesama.

“Prinsipnya, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya, itu saja. Jadi kalu mati dan mata kita hanya dimakan cacing sangat disayangkan sekali,” sebutnya.  

Pihaknya tentu tak membedakan, apakah nantinya penerima donor mata dari kelompoknya berasal dari orang yang berbeda keyakinan atau tidak. Bagi Ahmadiyah, sebut Yendra, semua itu tak jadi masalah.

“Ini murni gerakan sosial, memberi kontribusi ke orang lain itu esensial orang beragama,” tandasnya.

Mengenai masih adanya penolakan terhadap adanya Ahmadiyah di Indonesia, Yendra, tak menampik. Selain terjadi di Jawa, juga di luar Jawa.

Namun demikian, pihaknya tidak akan menanggapi dengan kekerasan. Ajakan untuk mengobrol, berkomunikasi dengan baik, saling memahami dan menghargai perbedaan dibutuhkan untuk menjaga kerukunan di Indonesia. (sutrisno)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here